Cerpen - Salam Manis Untuk Rindu





Hidup sungguh berarti bila dijalani dengan seorang kekasih, bukan untuk kesenangan semu namun hanya untuk saling berbagi kasih sayang. Itu adalah sebuah harapan yang selalu Fian inginkan. Mencintai seorang gadis yang bisa membuat nyaman hatinya, yang bisa membuat dia tersenyum di manapun, yang bisa membuat hari-harinya lebih berwarna.
            
Namun itu semua masih berupa khayalan belaka yang sampai saat ini belum terwujud di kehidupannya. Setiap kali ia bertemu dengan seorang gadis, tak ada satupun rasa yang begitu hebat yang mampu menggetarkan hatinya. Yang ada hanyalah perasaan semu yang sekedar singgah dan menghilang tak berbekas. Dia masih mencari seseorang yang spesial baginya, satu tahun sebelum  dia lulus dari SMA adalah waktu yang begitu singkat untuk mencari seseorang itu.
            
Siang itu dikantin sekolah ia duduk bersama sahabatnya,
            
“Eh yan, kenapa sih kamu murung terus ? senyum dong ?” ucap Daffi, sahabatnya
           
“Kamu mau tau aja, gak penting tau” jawab Fian sinis
            
“Ah jangan gaya deh, aku tau yang kamu fikirkan. Pasti masalah cewek ya, salah kamu juga yang gak mau deket-deket sama cewek. Yang ada sekarang, kamu jomblo terus”
            
“Bukan gitu permasalahannya bro, aku hanya belum menemukan seseorang yang tepat, itu aja. Aku buka tipe cowok yang suka gonta-ganti pacar kayak kamu” jawab Fian
           
“Sorry ya, aku enggak playboy. Hanya saja sedikit...wkwkwk”
            
Dari kejauhan terlihat sosok cewek yang berjalan menuju tempat duduk mereka
            
“Eh yan, liat tuh ada cewek. Cakep banget, liat tuh jangan ngelamun aja” ucap Daffy
            
“Udah buat kamu aja, males sama yang begituan” jawab Fian cuek
            
“Eh ini serius tau” ucap Daffi menyakinkan Fian
           
“Fian ya” sahut cewek tadi
            
“Iya ada apa ?” dengan nada cuek dia menjawab

Namun saat dia berbalik untuk menatap cewek tersebut. Seketika itu suasana menjadi hening, Fian tak perduli dengan sekelilingnya. Dia hanya diam dan terhanyut saat dia melihat sosok paras cantik, menyapa dia sambil tersenyum manis terhadapnya.
            
“Ehm...ehm..ehm, kamu siapa ya ? aku kok gak pernah liat kamu” Fian tersedak
            
“Aku Rindu, lupa ya sama aku ?” ucap cewek tadi
            
“Haaa, kamu beneran Rindu. Sorry aku agak lupa, udah lama aku gak ketemu kamu, sejak 8 tahun yang lalu. Kapan kamu balik dari Bandung?” tanya Fian heran
            
“Kemarin, ayahku pindah tugas kesini. Makanya aku sekarang pindah sekolah kesini. Bagaimana kabarmu sekarang ?”
            
“Eh yan aku cabut dulu aja ya, gak enak disini jadi obat nyamuk, hehehe” ucap Duffi menyela percakapan mereka berdua
            
“Ah kamu ini, bisa aja” ucap Fian ke Duffi
            
“Ehm sorry ya sama sikap temenku tadi, dia emang gitu. Aku baik-baik aja kok, tapi jujur aku gak nyangka sama sekali bisa ketemu lagi sama kamu”
            
“Hemm, aku juga kok yan. Pas SD dulu kita sering bercanda bareng, tertawa bareng, kangen banget aku masa-masa kita bareng yan” ucap Rindu
            
Akhirnya mereka ngobrol kesana kemari, sambil melepas kerinduan setelah lama gak ketemu.
            
Sepulang sekolah, Fian menghampiri Rindu di kelasnya. Tak berapa lama pun Rindu keluar dari kelasnya. Mereka berdua pulang bersama naik motor yang biasa dipakai Fian sehari-hari. Meski baru sebentar, namun mereka kini menjadi sangat akrab.

Sesampainya di rumahnya Rindu, Fian langsung pamit pulang. Hari itu adalah hari yang begitu spesial untuknya, dia merasa kalau dia sudah menemukan tambatan hatinya yang menghilang cukup lama.

Hubungan mereka dari hari ke hari ibarat seorang kekasih yang telah lama mencintai, mungkin itulah yang dirasakan oleh mereka berdua. Hingga pada suatu ketika Fian mengajak Rindu untuk pergi ke sebuah tempat.

“Eh nanti kamu mau gak ikut aku ?” tanya Fian ke Rindu

“Kemana ?” tanya Rindu heran

“Ada deh, nanti kamu pasti tau” ucap Fian

Rindu hanya menuruti apa yang dikatakan oleh Fian. Keesokan harinya, ia mengajak Rindu pergi ke tempat yang selama ini dirahasiakan oleh Fian yaitu sebuah danau dekat hutan yang cukup jauh dari pusat kota. Rindu tak menyangka sama sekali bahwa tempat spesialnya adalah tempat yang sangat indah, namun ia cukup senang bisa berdua dengan Fian.

“Kamu tau gak kenapa aku ngajak kamu kesini ?” tanya Fian

“Enggak, memangnya kenapa ?” tanya Rindu

“Disini tuh suasananya sejuk, rindang, sepi, cocok banget untuk menenangkan fikiran. Aku hanya ingin duduk bareng bersama kamu disini, dalam hatiku ini banyak banget hal yang ingin aku sampaikan ke kamu. Namun aku masih ragu” Ucap Fian

“Memangnya apa yang pengen kamu sampaikan ?” tanya Rindu sambil tersenyum sendiri

“Bukan hal penting kok, hanya saja ini memang perlu untuk aku sampaikan. Gak tau kenapa, aku nyaman banget deket kamu. Aku jadi seneng mikirin kamu, mungkin baru kali ini aku merasakan sesuatu yang sama sekali belum pernah aku rasakan” tutur Fian terus terang

“Trus ? kalau aku juga sama kayak kamu gimana ?” tanya Rindu

Fian kaget mendengar jawaban dari Rindu, dia begitu gembira saat itu. Hari itu, mereka pun jadian. Satu hal yang membuat Fian heran bahwa orang spesial yang diharapkannya selama ini adalah teman masa kecilnya sendiri.

Waktu demi waktu telah mereka lalui bersama, dua bulan rasanya begitu singkat bagi mereka. Sampai suatu ketika, Fian merasa ada hal yang aneh didalam dirinya. Kondisinya yang dulu baik-baik saja, kini mulai memburuk. Dia seringkali mengalami kesulitan bernafas, setelah diperiksakan ke dokter ternyata dia mengalami gangguan pernafasan. Menurut dokter, penyakitnya tidak begitu berbahaya apabila dilakukan pemeriksaan rutin dan juga beberapa therapy.

Namun karena dia merasa kasihan sama orangtuanya yang berpenghasilan pas-pasan yang cukup untuk membiayai pendidikannya, adik-adiknya, dan kebutuhan keluarganya yang lain. Dia memutuskan untuk merahasiakan ini dari semua orang termasuk Rindu.

Pernah juga suatu ketika Rindu bertanya kepada Fian tentang masalah pribadinya. Tetapi tetap saja, dia hanya diam tanpa menjawab satu pertanyaanpun dari Rindu.

Beberapa bulan pun telah berlalu, hari-hari yang dilewati oleh Fian penuh gejolak, menderita menahan penyakitnya, serta bahagia dengan orang yang dicintainya. Ujian akhir telah terlewati, dan semuanya berjalan lancar.

“Yan, selamat ya kamu lulus” ucap Rindu, sambil memeluknya

“Iya sama-sama, selamat juga ya buat kamu” balas Fian

“Oh iya, kamu besok ada acara atau enggak ? kamu bisa gak ketemu ditaman ?”

“Iya aku usahakan deh buat kamu”

Setibanya di taman sesuai dengan apa yang ia janjikan kepada Rindu ia menemuinya ditempat itu. Dari kejauhan terlihat sosok cantik persis dengan apa yang dialaminya pertama kali saat melihat Rindu dikantin sekolah. Sayang bila aku nanti sudah tak bisa lagi melihat sosok cantik itu , gumamnya dalam hati.

“Eh yan, sorry ya udah maksa kamu untuk datang kesini. Ada yang pengen aku omongin ke kamu ?”

“Kamu mau ngomong apa ?”

“Aku mau pindah keluar kota lagi, ayahku menyuruhku agar melanjutkan kuliah diluar kota. Jadi, mungkin kita udah gak bisa bareng-bareng lagi. Hanya itu yang ingin aku sampaikan ke kamu” tutur Rindu

“Oh gitu ya, syukurlah kalau memang begitu” jawab Fian singkat, datar

“Kamu kenapa sih ? beda banget. Udah gak sayang lagi ya sama aku”

“Rasa sayangku udah gak berarti apa-apa lagi saat ini, kamu nanti akan menemukan seseorang yang lebih dari aku disana dan yang terjadi adalah kamu nanti bakalan melupakan aku”

Mendengar jawaban dari Fian, Rindu langsung tertekan, bibirnya terbungkam, dibenaknya ia ingin membuat perpisahannya dengan Fian menjadi perpisahan yang termanis, bukan seperti ini. Dalam hatinya, tersimpan begitu banyak kekecewaan terhadap Fian, ia langsung bergegas pergi. Fian tau kalau Rindu begitu kecewa terhadapnya, namun itu mungkin hal yang terbaik untuk dilakukan saat ini.

Air mata Fian menetes pelan seiring dengan derap langkah Rindu yang mulai pergi menjauh dari dirinya. Desahan nafas yang semakin lama semakin memberat, yang menyesakkan diri Fian.

Setahun berlalu, Rindu yang saat ini tengah menjalani pendidikannya diluar kota, masih tetap memikirkan Fian. Baginya tiada hari yang indah, tanpa adanya Fian disampingnya. Tiada keceriaan, seperti saat dia tertawa bersama Fian.

Suatu saat, sepucuk surat misterius yang tidak diketahui siapa penulisnya diterima oleh Rindu.

Dear Rindu

Bagaimana kabarmu ? semoga sehat selalu. Maafkan aku yang tidak bisa memberikan kenangan terindah dihari terakhir kali kita bertemu. Memang berat bagiku, untuk bersikap acuh tak acuh kepadamu. Sedih bagiku bila membuatmu kecewa. Namun itu adalah hal yang terbaik yang bisa kulakukan agar nanti kamu bisa lupa sama aku.

Selama ini aku menyembunyikan sesuatu dari kamu, aku menderita penyakit yang cukup serius. Aku gak bisa kasih tau kamu soal ini, karena aku gak pengen membuat kamu sedih. Mungkin disaat kamu membaca surat ini, aku sudah gak melihat dunia ini lagi. Aku sudah tak bisa lagi melihat senyumanmu dan juga tawamu, aku sudah tak bisa lagi menyentuhmu. Jarak kita sudah terlalu jauh untuk ditempuh.

Hal yang paling membuatku bahagia adalah disaat aku menghabiskan waktuku bersamamu. Itu adalah kenangan terindah selama aku hidup. Sekali lagi maafkan aku jika kamu membenciku, lewat surat terakhirku ini aku ingin kamu tahu kalau aku mencintaimu......

Salam terkhir dariku untukmu cinta yang termanis, Fian.

Air mata perlahan menetes dari kedua mata Rindu, kata-kata terakhir dari Fian membuat hatinya begitu sedih. Dia teringat akan semua kenangan indah yang telah mereka lewati.

Dalam hati dia bilang “ Aku juga mencintaimu, Fian.”


EmoticonEmoticon