Gadis Kecil di Pemukiman Kumuh

             

Sumber gambar: Google

              Diseluruh daerah yang ada didunia ini, keadilan sangatlah sulit dicari. Dunia memang tempat yang keras, yang kuatlah yang akan bertahan yang lemah tetaplah menderita. Kemiskinan merajalela sedangkan orang kaya semakin bertambah kaya tanpa perduli nasib anak-anak yang terlantar kelaparan tanpa tempat tinggal, tanpa kesejahteraan. Inikah yang mereka sebut hidup di negara merdeka.
            Jika memang telah merdeka, kenapa mereka harus mengemis dan memohon hanya untuk mendapatkan sesuap nasi. Gadis kecil yang harusnya duduk manis mendengarkan penjelasan dari bapak ibu guru, memakai seragam merah putih dengan membawa tas dan juga buku-buku pelajaran. Sayang, gadis kecil itu harus rela berjalan kaki tanpa sendal untuk memunguti satu persatu sampah yang terbuang. Rela memakai baju kumuh, penuh debu dan noda, tempat kuman dan virus bersemayam. Rela makan sehari sekali atau bahkan berhari-hari berpuasa.
            Tatapan penuh harap, mencari keadilan didunia ini namun ia belum menyerah untuk mendapatkan keadilan tersebut. Memang kenyataan itulah yang terjadi, namun ia punya keyakinan jika memang keadilan itu tidak ada di dunia ini maka akan ia ciptakan keadilan itu sendiri. Bermodalkan karung dan juga tongkat besi untuk memungut sampah yang berserakan dijalan,ia pasrah menjalani nasibnya sebagai seorang pemulung. Lebih baik daripada harus meminta-minta.
            Pendidikan yang harusnya merata diseluruh pelosok negeri, nyatanya itu belum terlaksana sepenuhnya. Pendidikan yang katanya gratis, ternyata sekedar ucapan saja tanpa ada bukti yang nyata. Jika memang semua itu benar-benar terwujud, harusnya tak ada satupun anak kecil yang sudi menggunakan tangannya untuk menyentuh sampah-sampah kotor tersebut.
            Gadis kecil itu tahu bahwa negeri ini belumlah sejahtera jika masih banyak anak yang senasib dengan dia. Dia juga tahu bahwa hanya ada segelintir orang yang mau mengerti dan memahami tentang penderitaannya. Gadis yang hanya bisa menghitung satu sampai tiga, tanpa bisa menjumlahkan apalagi mengalikan. Dan dengan mudahnya ia dapat menjadi korban dari kecurangan dari orang-orang licik yang peduli akan dirinya sendiri.
            Di usianya yang masih belia, rona penderitaan tlah tergambar di wajahnya. Seakan bercerita bahwa ia tak ingin ada lagi orang yang memiliki nasib sepertinya. Ia mengharapkan kesejahteraan bukanlah kekayaan ataupun mobil mewah. Kesejahteraan, itulah yang ia harapkan.
Seiring langkah kakinya berjalan pulang, setelah apa yang ia kumpulkan terasa cukup untuk menghidupinya hari ini. Ia menuju kawasan kumuh, tercium bau busuk dari sampah yang menumpuk berhari-hari. Mungkin dalam hatinya menangis kecil, tapi sekali lagi ia mencoba untuk tetap tegar menerima keadaannya saat ini.
Pesan, bangsa ini seharusnya belajar untuk lebih peduli terhadap kaum-kaum yang terbelakang dan tertindas. Jangan diam dan tak mau perduli jika mampu untuk meringankan penderitaan mereka. Gadis kecil sebuah kiasan untuk anak-anak yang masih tertinggal di republik ini.


EmoticonEmoticon