Cerpen - Penyesalan Terdalam




Dari semua wanita yang hadir dalam hidup Harris, hanya ada satu yang mampu membuatnya jatuh dan luluh hati yaitu Elda. Perempuan manis dan polos yang memikat hati setiap orang yang memandangnya, Harris adalah salah satu orang yang beruntung dari sekian banyak pria yang mencoba mendapatkan hatinya Elda.

Hampir setahun menjalin hubungan, mereka masih tampak akrab dan akur. Perkenalan mereka berawal dari bangku SMA, Harris dan Elda mempunyai hobi yang sama yaitu fotografi. Mereka membentuk sebuah komunitas fotografi disekolahnya. Seluruh tempat-tempat di kota mereka, hampir semuanya pernah mereka jadikan objek fotografi.

Objek yang paling menarik untuk Harris adalah Elda, walaupun sebenernya Harris tertarik dengan objek yang lebih universal, seperti panorama alam, dan juga kehidupan perkotaan. Namun semenjak ia berpacaran dengan Elda, perlahan dia lebih suka memotret Elda daripada objek lainnya.

Awalnya Harris memotret Elda untuk ia abadikan di album kenangannya selama ia menghabiskan waktu bersamanya. Ketika pamannya sedang berkunjung ke rumahnya, tanpa sengaja ia melihat hasil pemotretan Harris di ruangannya. Pamannya adalah seorang manajer disebuah percetakan majalah fashion dan model. Ia begitu terpukau dengan kemampuan Harris di bidang fotografi.

“Eh Ris, hasil potretanmu lumayan bagus juga ya?” ucap paman Harris

“Ah masak Om, Harris kayaknya masih perlu belajar lebih banyak lagi nih”. Jawab Harris

“Om serius, bagaimana kalau nanti setelah kamu lulus SMA kamu saya kenalkan sama temen Om. Dia itu sedang mencari fotografer yang handal untuk bergabung bersamannya”

“Beneran ? Harris minder Om” ucap Harris sedikit ragu

“Dicoba dulu saja, orangnya baik kok. Kalau kamu beruntung kamu bisa pergi ke luar negeri sekaligus bekerja sebagai fotografer, gajinya lumayan gede juga” jelas paman Harris

“Baik Om, aku pengen mengikuti apa yang Om saranin”

“Ngomong-ngomong, siapa cewek ini ?” tanya paman Harris penasaran

“Oh, itu Elda pacarku Om” ucap Harris

“Dia itu cocok buat jadi model, dia cantik dan tubuhnya ramping. Om bisa kasih dia job untuk jadi model fashion di majalah yang Om kerjakan”

Mendengar tawaran dari pamannya, Harris begitu bahagia. Ia segera menghubungi Elda dan mengajaknya bertemu dikafe tempat mereka biasa minum kopi. Baginya tawaran ini cukup menarik, ia yakin kalau Elda akan menyetujuinya.

Sesampainya dikafe, Elda yang begitu polos bertanya kepada Harris

“Tumben, kamu tiba-tiba ngajak aku kesini ris?’

“Ada yang pengen aku omongin ke kamu say, Om aku pengen menawarkan kamu untuk
menjadi model majalah fashion. Kalau kamu pengen aku bakal langsung bilang ke Omku ?” tutur Harris

“Kamu serius, gila aku gak percaya aku bisa jadi model. Aku mau banget, ngomong-ngomong kapan bisa mulai ?” tanya Elda kegirangan

“Sebentar lagi kan kita udah mau lulus SMA. Rencananya nih, sehabis ini” jawab Harris.

Elda pun menyetujuinya, dia sudah tidak sabar memulai karirnya menjadi seorang model. Walaupun pada dasarnya ia seorang fotografer. Harris juga ikut senang melihat hal itu.

Hari kelulusan masih kurang satu bulan lagi, meskipun Ujian Nasional telah usai. Libur setelah UN, mereka habiskan dengan berjalan-jalan. Menyusuri tempat-tempat yang bagus untuk dijadikan objek pemotretan. Kenangan mereka tersimpan dalam hati mereka layaknya disket kecil yang tak terlihat namun tak mungkin mudah terformat oleh virus ganas sekalipun.

Di kafe tempat biasa bertemu, mereka berdua menghabiskan berjam-jam hanya untuk bercerita dan mengenang apa yang telah mereka lalui.

“Ris, kita udah jalan setahun nih, perasaan kamu ke aku masih sama atau udah berbeda ?” tanya Elda memastikan

“Ya masihlah, ngapain juga kamu tanya hal itu. Aku malah takut kalau kamu yang berubah” tanya Harris ke Elda

“Aku gak akan berubah sampai kapanpun, aku mencintaimu Ris. Aku gak bisa melupakan apa yang udah terjalin diantara kita berdua. Kamu begitu berharga buat aku”

“Kalau gitu perasaan kita sama, aku juga sayang banget sama kamu”

Setelah wisuda kelulusan, Harris menemui Pak Bambang teman pamannya. Sedangkan Elda memenuhi tawatan dari pamannya Harris untuk menjadi seorang model.

Harris menunjukkan beberapa karya terbaiknya kepada Pak Bambang. Begitu mengejutkan reaksi Pak Bambang melihat karya yang sebagus itu, proporsi warna yang begitu pas, titik terang dan juga bayangan yang sesuai proporsinya. Pak Bambang begitu tertarik untuk segera merekrut Harris ke dalam bisnisnya.

Menjadi model perlu usaha yang sedikit mengeluarkan biaya, bagi Elda itu bukan masalah yang begitu besar. Ia mulai merubah penampilannya mulai dari yang terkecil hingga sedetil mungkin agar saat pemotretan ia dalam kondisi tanpa ada kekurangan sedikit pun. Ini adalah langkah awal baginya dan juga seterusnya, dengan menggeluti dunia fashion dan modelling Elda yakin bahwa ia akan sukses suatu hari nanti.

Ditengah kesibukan mereka berdua, mereka masih menyempatkan diri untuk bertemu dan berbagi cerita. Hidup mereka perlahan juga berubah, tak sama seperti kehidupan anak SMA seperti dulu. Mereka mulai berfokus pada karir mereka masing-masing.


~

Beberapa bulan telah berlalu, karir mereka berdua mulai melejit naik. Harris berhasil membuat pameran tunggal untuk karya-karyanya, tentu itu dengan bantuan dari Pak Bambang dan juga krunya. Gambar-gambar tangkapan Harris berhasil membuat penikmat fotografi terpukau dan terpesona. Karyanya juga dinikmati oleh para kolektor, dan bernilai tinggi.

Begitupun Elda, karena kegigihan dan usaha kerasnya ia yang tadinya hanya model majalah fashion di kotanya. Kini ia dikontrak untuk menjadi model di sebuah majalah yang lebih terkenal dan berkelas. Tentu saja Elda tidak menolak tawaran yang menggiurkan tersebut.

Meski jadwal mereka cukup padat, Harris menyempatkan diri untuk menelpon Elda. Ia bertanya kabar Elda, dan segala hal sambil bercerita kesana kemari. Ia ingin mengajak Elda untuk bertemu ditempat biasa.

“Eh udah lama nungguin aku, maaf ya aku telat” ucap Elda, di tempat yang dijanjikan

“Gak apa-apa kok, selamat ya karir kamu udah besar sekarang” jawab Harris tersenyum

“Hahahahaha, ini semua juga berkat kamu ris. Kamu yang ada dibalik kesuksesanku ini. Aku bingung harus bagaimana ngucapin rasa terimakasihku yang begitu besarku ini ke kamu”

“Hemm, asalkan kamu bahagia aku udah seneng kok. Lagian, itu juga hasil dari kerja keras kamu selama ini. Aku pengen ngomong sesuatu deh ke kamu ?” ucap Harris

“Ngomong apaan sih Ris ? serius amat kayaknya” tanya Elda penasaran

Harris menjelaskan panjang lebar kepada Elda. Dia akan pergi ke Amerika, dia terikat kontrak dengan salah satu majalah fashion di sana. Job itu terlanjur Harris setujui, meskipun banyak hal yang ia korbankan. Ia berfikit bahwa kesempatan itu gak akan datang dua kali.

Mendengar penjelasan dari Harris, Elda terdiam dan bingung harus berkata apa. Namun dia menyembunyikan kesedihannya, dia menyakinkan Harris bahwa itu keputusan yang terbaik untuk dia. Harris bingung, dia mencoba bertanya kepada Elda tentang kelanjutan hubungan mereka. Perasaan Harris masih tetap sama ke Elda, namun dia tidak tahu apakah Elda akan mempunyai perasaan yang sama apabila mereka nanti berpisah.

Dengan senyuman manis Elda hanya bisa menjawab bahwa ia akan tetap setia kepada Harris. Keyakinan Harris yang mulai merapuh, mulai terbangun kembali oleh kata-kata manis Elda. Kemudian Harris pergi dan terdengar ucapan selamat jalan dari bibir Elda.

Kini Harris telah sampai di bandara New York. Terlihat suasana asing yang membuat Harris berdebar-debar. Suasananya akan tentu berbeda dengan yang ada di Indonesia. Ia merasa tertantang untuk mengambil gambar dari setiap sudut jalanan kota New York. Tak lupa juga gambar dari ikon terkenal dari New York, patung Liberty.

Sesampainya dirumah sewaannya, Harris langsung menelpon Elda untuk memberitahukan keadaannya. Ia juga menanyakan seputar pekerjaan Elda ke depannya. Dengan polosnya Elda menjawab kalau ia akan bekerjasama dengan salah satu model laki-laki yang namanya mulai melejit di dunia fashion. Rencananya mereka akan mengadakan sesi pemotretan bersama.

Harris sedikit terkejut, tapi ia tahu itu sudah konsekuensi dari pekerjaannya Elda. Meski terdapat sedikit kekhawatiran didalam hatinya, ia percaya bahwa Elda tetap dengan perasaannya dan tak akan berpaling dari Harris.

Esok harinya, Harris bertemu dengan bos barunya. Mr.Stuart Keyes, salah satu manajer percetakan majalah terbesar di kota New York. Ia berbicara seputar kontrak dan planning ke depannya. Honor yang ditawarkan oleh Mr Stuart cukup membuat Harris terkejut, karena berbeda dengan honor yang ia terima sebelumnya. Untuk satu sesi pemotretan ia bisa mendapatkan $100, atau kira-kira sejuta rupiah. Bayangkan kalau sehari terdapat beberapa job pemotretan.

Hari demi hari, Harris bekerja begitu keras dan gigih. Uang demi uang mengalir di saldo rekeningnya, kekayaannya bertambah seiring dengan kesuksesannya di bidang fotografi. Karena kesibukannya menyelesaikan job demi job, ia jarang sekali menghubungi Elda. Demikian pula dengan Elda, karena perbedaan waktu membuat mereka sulit sekali untuk berbicara lewat telepon. Mereka hanya bertukar email, itupun jika sempat.

Kehidupan di Amerika kadang tak semudah yang difikirkan, seks bebas dan minuman keras bisa dijumpai dimana-mana. Memang Harris mampu membeli semua itu dengan harta yang ia miliki. Jika pertama kali melangkahkan kaki di Amerika dia hanya menyewa rumah kecil, kini ia tinggal di apartemen yang cukup mewah. Ia bisa saja pergi ke bar termahal, serta membeli pelacur tingkat atas untuk memenuhi hasratnya yang terpendam. Namun ia masih mampu menahan semua godaan itu, ia masih tetap bertahan dengan perasaannya terhadap Elda.

Harris tak tahu apakah Elda masih mempunyai perasaan yang sama atau sudah berbeda dengan yang dulu. Ia seringkali mencoba menghubungi Elda, namun tak pernah sekalipun diangkat. Ia mengirimkan email, tak ada satupun balasan. Perasaannya kian kacau. Ingin dia menghilangkan pikiran negatifnya dan tetap berfikir positif. Jika tidak begitu dia akan dengan mudahnya terjerumus ke dalam godaan-godaan yang akan menghancurkan karirnya.

Suatu saat, Mr Stuart memberikan cuti beberapa minggu kepada Harris sebagai imbalan atas kerja kerasnya. Waktu itu ia manfaatkan sebaik mungkin untuk menemui Elda. Dia kemudian memesan tiket pesawat terbang kelas eksekutif, agar bisa secepat mungkin bertemu Elda.

Sesampainya di Indonesia, ia pergi ke tempat dimana Elda berada. Namun sayang semuanya sudah terlambat. Elda yang ia kenal sekarang berbeda dengan Elda yang dulu. Elda yang tadinya polos berubah menjadi nakal, ia sering berhubungan dengan banyak lelaki terutama yang seprofesi dengan dia. Elda juga sering terkena gosip-gosip panas yang mendongkrak karirnya.

Dalam hati Harris menangis, ia ingin berteriak sekeras mungkin untuk meluapkan emosinya. Ia bertanya kenapa hal ini bisa terjadi, kenapa gadis sepolos Elda berubah total menjadi gadis yang tidak bermoral seperti itu. Ia merasa usahanya selama ini tidak ada hasilnya sama sekali. Padahal ia berencana untuk melamar Elda dan menjadikannya ibu untuk anak-anaknya kelak.

Cintanya berubah seketika menjadi kebencian yang teramat dalam. Ia menghapus segala kenangan yang membekas, dan berkeyakinan untuk melihat ke depan. Niatnya untuk menemui Elda purna seketika, lalu ia kembali lagi ke Amerika.

Semenjak kejadian itu lima tahun telah berlalu, ia tidak terlalu tertarik lagi menjalani karirnya Amerika. Ia memutuskan untuk mengakhiri kontrak dengan Mr. Stuart, lalu ia kembali ke Indonesia.

Harris mendirikan sebuah studio yang menampilkan hasil karya terbaiknya untuk dinikmati orang yang datang ke studionya. Tempat itulah yang kini menjadi tempat terbaik untuk menenangkan hati Harris.

Suatu hari ada sebuah pameran nasional yang memamerkan karya terbaik dari seluruh fotografer diseluruh negeri. Banyak karya-karya bagus dan bernilai mahal yang ditampilkan di pameran tersebut.

Pameran tersebut juga dihadiri oleh banyak orang, dari kalangan menengah ke atas. Para kolektor, fotografer, dan penikmat fotografi berkumpul disitu. Harris ingin berpartisipasi dalam pameran itu, namun ia bingung karya manakah yang akan ia kirimkan. Setelah berfikir panjang, ia memutuskan untuk mengirimkan karyanya yang terbaik dan yang paling berkesan untuknya.

Hal yang tidak pernah ia sangka yaitu karyanya menjadi yang terfavorit diantara para pengunjung. Banyak sekali yang terkesima dengan karyanya, gerombolan orang berdiri didepan karyanya untuk melihatnya lebih dekat.

Ketika kerumunan itu pergi, ada seorang wanita yang belum beranjak dari tempat ia berdiri. Hal itu membuat Harris penasaran untuk mendekati wanita itu.

“Permisi mbak, ada yang bisa saya bantu ?” tanya Harris, tetapi saat wanita itu berbalik alangkah terkejutnya bahwa wanita itu adalah Elda. Spontan Harris mulai pergi meninggalkannya, namun Elda meraih tangan Harris dan menahannya.

Harris sedikit kesal atas apa yang ia alami di masa lalu. Elda tahu bahwa itu adalah kesalahan terbesar di hidupnya. Harris tetap saja kecewa, Elda berusaha menjelaskan semuanya dan merubah keyakinan Harris. Waktu itu Elda dalam kondisi yang kritis, Ayahnya sedang dalam kondisi sakit parah dan terlilit hutang dengan bank dalam jumlah yang besar untuk pengobatannya.

Dia bingung dengan apa ia harus membantu membiayai dan melunasi hutang kedua orangtuanya. Sedangkan honor dari menjadi seorang model biasa hanya cukup untuk membiayai kehidupan sehari-hari mereka dan adiknya yang masih sekolah. Lalu Frans teman kerjanya yang juga seorang model datang menawarkan bantuan. Tanpa pikir panjang Elda menerima bantuan itu karena ia tahu bahwa Frans orangnya baik.

Namun hal yang tak diduga oleh Elda adalah ketika Frans memberikan syarat yang harus ia penuhi. Syarat itu adalah sesuatu yang paling berharga untuk Elda, yaitu kesuciannya. Ia benar-benar dalam kondisi yang tidak menguntungkan. Dengan terpaksa ia memberikan harta yang paling berharga itu kepada Frans lelaki busuk tersebut.

Hidup Elda, perlahan mulai hancur setelah kejadian tersebut. Ia dipaksa Frans untuk menjadi model dimajalah dewasa, dan juga menjadi budaknya Frans dengan ancaman jika ia tidak menuruti apa yang dikatakan Frans, keluarganya akan ia buat terlilit hutang lebih banyak lagi. Ironisnya, mengetahui pekerjaan Elda saat itu keluarganya menolak dan mengusir Elda dari rumahnya. Orangtuanya tidak mengakuinya lagi sebagai anak. Beban Elda kini kian bertambah, hidupnya sengsara dan menderita. Ia tidak punya muka lagi untuk bertemu Harris saat itu, oleh sebab itu ia tidak mau menghubungi Harris lagi. Seiring waktu berlalu, Frans ditangkap oleh polisi karena sering melecehkan wanita.

Harris diambang kebimbangan, ia menangis dan marah kepada Elda. Kenapa selama ini ia tidak memberitahu Harris bahwa orangtuanya sakit parah, padahal Harris mampu meringankan beban yang Elda bawa. Elda hanya menangis mendengar ucapan Harris, tapi semuanya sudah terlambat. Waktu tak bisa lagi diulang kembali.

Penyesalan muncul didalam diri Harris, andai saat itu ia tidak menawarkan Elda untuk menjadi seorang model. Pasti hal ini tidak akan pernah terjadi di kehidupannya, mungkin saja saat ini mereka bisa tertawa dan menimang seorang anak. Sekali lagi semuanya sudah terlambat.

“Apakah kamu masih mencintaiku Ris ?” tanya Elda diiringi tetesan airmata yang menetes dipipinya

“Kamu tak perlu bertanya lagi, karya ini adalah bukti jika aku masih mempunyai perasaan terhadapmu. Gadis polos yang tersenyum tanpa ada penderitaan yang terlihat diwajahnya, yang membuatku mencintainya sepenuh hati melebihi cintaku terhadap fotografi. Tentu aku masih mencintaimu, lantas bagaimana denganmu?” tanya Harris

“Jujur aku masih mencintaimu, tapi kini semuanya sudah tak ada artinya lagi......”

Perkataan dari Elda terpotong disaat ada pria yang menggendong seorang bayi datang menghampiri Elda. Pria itulah yang melepaskan Elda dari segala belenggu dihidupnya. Harris tak tahu lagi harus bagaimana, hatinya kini hancur sehancur-hancurnya.

“Selamat tinggal Harris, semoga kamu bisa mendapatkan orang yang pantes buat menjadi ibu untuk anak-anakmu nanti’ ucapan terakhir dari Elda, perlahan butiran airmata jatuh  dari kedua matanya

“Selamat tinggal, semoga kamu bahagia dengan kehidupanmu saat ini. Aku minta maaf untuk segalanya” ucap Harris.

Lalu Elda pergi meninggalkan Harris. Langkah kakinya perlahan menjauh, air matanya menetes pelan namun ia usap dengan sapu tangannya. Ia mencoba tegar, di detik terakhir ia ingin mengabadikan moment terakhirnya bertemu Elda. Ia mengambil sebuah handphone dari sakunya dan memotret kepergian Elda dari kejauhan.


EmoticonEmoticon