Cerpen - Puisi Untuk Seseorang




Pagi yang cerah, seperti halnya suasana hati Shila yang senantiasa ceria. Dia mengawali pagi ini dengan setitik senyuman, dengan harapan akan ada hal baik menantinya didepan.

            
Pagi itu, dia berangkat ke sekolah seperti biasa dengan sepada kayuhnya. Menyusuri setiap jalanan kota yang masih tampak segar bersama embun-embun yang masih membekas disetiap sudut jalanan. Tanpa terasa dia telah memasuki tahun ajaran baru, setelah kenaikan kelas.
            
Kini dia duduk dikelas dua belas, tahun terakhirnya di SMA. Sesampainya disekolah, dia memarkirkan sepeda itu ditempat parkir dekat kantin sekolah. Setelah itu dia langsung menuju ke kelasnya.
            
“Pagi semuanya” sahutnya kepada seluruh teman yang hadir dikelasnya
            
Semua yang hadir disana menyambut ucapan hangat dari Shila. Dia duduk dibangku depan disisi bagian kanan. Dia menaruh tas yang berisi buku-buku pelajarannya yang berharga.
            
Dia duduk bersama Regita, sahabat terbaiknya di saat ini.
            
“Git, gak terasa ya kita udah di kelas dua belas. Bentar lagi kita lulus nih” ucap Shila
            
“Iya nih Shil, aku harus rajin-rajin belajar saat ini buat Ujian Nasional nanti” jawab Gita
            
Hari ini memang belum ada yang spesial, karena awal masuk sekolah kesannya hanya perkenalan sama wali kelas. Tapi ada satu hal yang sampai saat bikin Shila penasaran, ada seorang cowok misterius dikelasnya. Dia selalu menyendiri, dari dulu dia tidak pernah berbicara sama teman sekelasnya, namanya Dev.
            
Keesokan harinya, disaat dia menuju ke ruang kelas di halaman sekolah dia bertemu dengan Dev. Shila mencoba menyapanya “Hai Dev!”, namun tak ada jawaban. Tatapan dingin dari Dev, dan dia berlalu begitu saja
            
“Dasar cowok aneh“ fikir Shila
            
Ketika Shila sampai di ruang kelas, dia menggeladah kolong mejanya karena dia merasa kalau kemarin bukunya ketinggalan disana. Tapi tak disangka, ada selembar kertas aneh yang ada dikolong mejanya.
            
“Eh apaan tuh ?” tanya Gita
            
“Gak tau nih, mungkin surat dari seseorang” jawab Shila heran
            
“Coba buka dulu, siapa tau ada yang suka sama kamu” ucap Gita
            
Pelan Shila membuka kertas tersebut, tertulis sebuah kalimat disitu “Pena kan selalu membekas dalam lembaran putih”.
            
“Hah, aku kira. Ini hanya sekedar tulisan iseng doang gak ada maknanya” fikir Shila
            
“Kamu seirus, sini aku lihat” ucap Gita sambil mebaca kertas tersebut
            
Shila membuang kertas tersebut, baginya itu hanyalah sampah yang gak ada nilainya. Namun Gita yang masih penasaran, menyimpan kertas yang telah dibuang oleh Shila.
            
Beberapa hari pun berlalu, kertas misterius datang kembali menghampiri Shila. Dia membuka kertas itu
            
“Kebisuan, kelemahan yang tak terungkapkan”
            
Shila masih cuek aja dengan kertas misterius itu. Dia masih belum percaya kalau dibalik lembaran misterius itu tersimpan pesan untuknya. Sampai suatu ketika dia teringat temen sekelasnya yang suka mengirim surat sama temen ceweknya
            
“Eh Ton, kamu ya yang suka mengirimkan kertas ini ke aku ?” tanya Shila penasaran
            
“Apaan sih Shil ? aku gak pernah kok mengirimkan kertas itu. Lagian aku udah punya pacar, jadi gak mungkin aku mengkhianati pacarku” ucap Tony
            
Rasa penasaran Shila semakin hari semakin bertambah tidak karuan. Satu persatu kertas menghampirinya
            
“Terdiam, terpaku, terpana melihatmu. Keindahanmu yang tak pernah mampu terlukis didalam imajinasiku. Diamku mencintaimu”
            
Disela kebingungan Shila, Gita menghampirinya sambil membawa sebingkis makanan ringan.
            
“Nih makan dulu, daripada bingung. Emang belum ketemu, siapa yang mengirim surat itu?” tanya Gita
            
“Yaelah, kalau udah ketemu gak mungkin aku bingung kayak gini. Udah ah, males bahas itu” jawab Shila sedikit sinis
            
Dua bulan semenjak kertas-kertas itu datang menghampiri Shila. Dia masih belum menemukan pelaku dibalik kertas-kertas misterius itu. Memang, akhir-akhir ini dia udah tidak menerima kertas itu lagi. Apalagi diantara teman-teman cowoknya, kelihatannya gak ada satupun yang berusaha mendekati apalagi bermain mata dengan Shila.

Hari ini, ada tugas kelompok dari guru Sejarah. Masing-masing kelompok terdiri dari tiga orang. Sialnya, Shila satu kelompok sama Dev
            
“Sial, kenapa juga gue harus satu kelompok sama dia “ fikir shila.

Sepulang sekolah, mereka memutuskan untuk mengerjakan tugas kelompok. Bagi Shila, susah sekali satu kelompok sama orang kayak Dev yang hampa ekspresi dan juga dingin sedingin es di kutub selatan. Tapi dia mencoba untuk bersabar.

“Eh Dev, ini gimana materinya ?” tanya Shila pelan.

Namun ucapannya tak ada jawaban sama sekali, tak ada suara yang keluar satupun dari Dev. Dia hanya diam, tanpa berekspresi apapun. Hal itu membuat Shila marah.

“Eh Dev, lo itu bisu ha ? gue bicara baik-baik kenapa gak lo hargain ? lo bilang apa kek ? gue selama ini heran sama lo?” ucap kesal Shila.

Tanpa jawaban apapun, Dev menyodorkan secarik kertas “F*ck You”. Lalu dia langsung pergi. Emosi Shila kian bertambah, dia menganggap bahwa Dev sombongnya kelewatan.

Keesokan harinya, di kelas seperti biasa. Satu persatu kelompok maju mengumpulkan tugas yang diberikan kemarin.

“Shila mana tugas kamu ?” sentak Guru sejarah.

“Hemm, anu pak....” jawab Shila kebingungan.

Tiba-tiba, dari belakang Dev maju sambil membawa tugas yang kemarin belum diselesaikan. Tanpa berbicara dia langsung menaruh tugas itu dimeja guru. Melihat hal itu, Shila semakin benci sama Dev.

Berbeda dengan kemarin-kemarin, kali ini sepucuk surat dalam sebuah amplop bersama sebuah bunga ditemukan Shila di kolong mejanya. Setelah sekian lama, kini identitas dari pengirim kertas misterius itu terungkap.

“Hai kak, maaf aku adek kelas kakak. Namaku Raffi, semenjak pertama kali lihat kakak diparkiran sekolah aku mulai suka sama kakak. Memang aku adek kelas kakak, dan aku tahu aku mungkin emang gak pantes buat kakak. Tapi biarkan aku terus mengagumi kakak, dan selalu mengirimkan puisi untuk kakak. Salam” .

Sepulang sekolah Shila mencoba menemui pengirim surat tersebut diparkiran sekolah.

“Jadi kamu yang suka mengirimkan surat ini ke aku ?” tanya Shila.

“Iya kak, ehm gimana kak ? perasaan kakak ke aku?” tanya Raffi malu-malu.

“Kita mending temenan dulu saja deh”

Mendengar hal itu, Raffi langsung pergi. Shila belum yakin untuk menjalin hubungan dengan adek kelas. Tapi dia lega setelah tau siapa pengirim kertas misterius itu.

Hari-hari pun terus berlalu, kata-kata puitis selalu menghampiri Shila. Perlahan Shila jatuh hati dengan kata-kata manis tersebut.

Pergi, namun kau selalu hadir dalam fikiranku. Termenung, kesendirian tanpamu. Ingin kudekap erat dirimu. Dinding ini tak kan mampu ku hancurkan. Karena kau terlalu jauh.

Perlahan Shila mulai tertarik sama Raffi, dia mencoba menemui Raffi sepulang sekolah.

“Eh Raf, entah kenapa aku jadi luluh sama puisi yang selalu kamu kirimkan ke aku ” ucap Shila.

“Beneran kak?” tanya Rafii penasaran

"Iya, bagus kok puisi kamu” ucap Shila tersenyum.

Mereka memutuskan untuk menjalin hubungan lebih dari sekedar teman. Puisi-puisi itu terus dikirimkan Raffi ke Shila. Mereka juga kadang-kadang bertemu ditaman sekolah, di kantin, diparkiran sekolah.

Setengah tahun, tanpa Shila sadari telah berlalu. Memasuki semester akhir, ujian-ujian mulai bermunculan. Hari itu, Pak Ary selaku guru bahasa Indonesia memberikan tugas untuk mengarang puisi untuk nilai ujian praktek.

“Anak-anak hari ini ini bapak ingin memberikan tugas untuk kalian. Selama satu jam ini, kalian harus mengarang puisi untuk seseorang. Nanti dikumpulkan, minggu depan kalian bacakan didepan satu persatu”

Selama satu jam penuh, mereka mengarang puisi sesuai dengan perasaan mereka. Begitupun Shila, dia sedang merasa bahagia. Baginya ini waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya. Setelah waktu yang ditentukan habis, kini tugas-tugas itu dikumpulkan di meja guru.

Seminggu kemudian, mereka membacakan puisi yang telah mereka buat satu persatu. Sampai tiba saatnya giliran Dev,

“Selanjutnya Dev, silahkan maju !” ucap Pak Ary.

“Dia gak masuk sekolah pak, lagian kalau dia masuk dia mana mungkin mau berbicara didepan kelas” ucap salah satu murid, seluruh kelas tertawa termasu Shila.

“Diam, gak baik membicarakan keburukan orang lain. Ya udah saya bacakan puisi karangan Dev, menurut bapak puisinya adalah salah karya terbaik diantara karya yang lain” ucap Pak Ary dengan nada sedikit kesal.

Dalam sekejap suasana hening ketika guru Pak Ary membacakan bait demi bait puisi karya Dev.

Pena kan selalu membekas dalam lembaran putih
Kebisuan, kelemahan yang tak terungkapkan
Terdiam, terpaku, terpana melihatmu.
Keindahanmu yang tak pernah mampu terlukis didalam imajinasiku. Diamku mencintaimu
Pergi, namun kau selalu hadir dalam fikiranku. Termenung, kesendirian tanpamu. Ingin kudekap erat dirimu. Dinding ini tak kan mampu ku hancurkan. Karena kau terlalu jauh
Gemerlap malam sinar bintang kejora lukiskan binar dikedua kelopak matamu
Bulan sabit, terlihat manja seolah melukiskan senyummu
Dibelakangmu aku mencintaimu, didepanmu aku bersandiwara
Karena kutahu kau hanya akan pergi jika nanti kau tahu aku sesungguhnya
Tiga tahun, waktu yang singkat aku mengagumimu
Ungkapanku untukmu, meski kau tak pernah mengenalku.......

Mendengar puisi itu, Shila sungguh terkejut. Dia berfikir kenapa puisi yang ia kirimkan sama dengan puisi yang Raffi kirimkan kepadanya. Bingung, kesal, amarah, bercampur jadi satu dibenak Shila. Pertanyaan mulai bermunculan difikirannya, siapakah pengarang sesungguhnya puisi tersebut ? ataukah Raffi hanya berpura-pura dekat denganku ?

Hari itu dan seterusnya, Dev tidak pernah hadir disekolah. Shila juga jarang sekali melihat Raffi. Kebingungannya tak kunjung usai. Dia mencoba mencari tahu tentang Dev dari orang-orang.

Setelah berusaha kesana kemari, dia akhirnya menemukan alamat rumah Dev. Dia berkunjung kesana, namun disana dia malah bertemu Raffi.

“Ini rumahnya Dev kan, kamu kok ada disini ?” tanya Shila keheranan

Raffi menjelaskan semuanya kepada Shila. Dia adalah adiknya Dev, selama ini dia disuruh kakaknya untuk mengirimkan lembaran-lembaran karya kakaknya untuk Shila. Dev tidak bisa bicara dari kecil, dia mengalami gangguan pernafasan , pita suaranya ikut terinfeksi oleh bakteri, pita suaranya rusak dan dia tidak bisa berbicara lagi.

“Trus saat ini dimana kakakmu ?” tanya Shila

“Percuma kak, dia udah pergi jauh, penyakitnya udah stadium akhir. Dia sengaja menyembunyikan ini dari semuanya termasuk kakak karena dia gak ingin orang lain melihatnya seperti ini” jelas Raffi

Bagi Shila, semuanya udah terlambat untuk minta maaf atas perlakuan kasarnya dimasa lalu. Yang ada kini hanyalah penyesalan karena dia tidak pernah mencoba untuk mengenal Dev lebih jauh lagi.

Sebelum Shila pergi, Raffi menitipkan sepusuk surat untuk Shila. Dia membuka surat itu tertulis:

“Maaf untuk segalanya, Dev”


EmoticonEmoticon