Pengaruh Gadget Terhadap Anak

         
Dulu gue pernah memposting artikel kayak beginian, tentang potret kehidupan anak kecil jaman sekarang. Kali ini, gue pengen memaparkan analisa gue terhadap pengaruh gadget secara kasat mata. Mungkin disini yang tertulis kebanyakan sisi negatifnya, karena bagi gue hal positif yang diperoleh anak kecil dari adanya gadget sangat minim sekali.
            Yang pertama, kita lihat dari paradigma masyarakat. Mungkin bagi kebanyakan masyarakat saat ini, anak kecil yang telah memegang gadget merupakan sebuah kemajuan dilingkungan mereka. Secara manifes, memang bisa kita ambil kesimpulan dengan adanya gadget ditangan anak-anak, akan membuat pemikiran mereka lebih rasional dan canggih. Tapi kalau secara laten/tersembunyi, itu paradigma yang salah. Karena kebanyakan penggunaan gadget disalahgunakan oleh anak kecil, dan apabila dibiarkan terus menerus akan membentuk kepribadian yang salah di kemudian hari.
            Contoh kecil, anak kecil zaman dahulu senang bermain bersama teman sebayanya di realita sosial. Karena hampir gak mungkin jaman dulu permainan-permianan yang ada dapat dimainkan seorang diri, misalkan kelereng, petak umpet, congkak, lompat tali. So rasa solidaritas dan sosialisasi mereka itu tinggi, dan itu melatih mereka bagaimana cara berinteraksi dengan sesama. Sekarang udah ada gadget, dan dalam satu alat tersebut terdapat berbagai macam permainan yang bisa membuat anak lupa waktu, lupa belajar,lupa cara berinteraksi dengan teman, lupa orangtua, lupa segalanya. Hal itu jika dibiarkan akan membentuk sikap apatis terhadap lingkungan sekitar.
            Selain itu juga akan membiasakan rasa malas bersarang didalam diri anak kecil. Ketika disuruh belajar, malah asyik pegang gadget. Disuruh ngaji, malah main game. Anak kecil bro bayangkan mau jadi apa mereka dimasa depan kalau sekarang malas-malasan, kita yang remaja aja masih suka malas dan suka bingung mengatur waktu apalagi anak kecil, padahal dulu kita dilatih untuk rajin dan disiplin. Yang paling berbahaya juga, gadget menurunkan daya berfikir anak. Misalkan, ketika pelajaran matematika bab berhitung. Anak bukannya belajar bagaimana ia mampu berhitung dengan baik, malah memanfaatkan jasa kalkulator. Memang itu mempermudah pekerjaan, tapi sekaligus menurunkan daya fikir anak karena terlalu bergantung pada alat.
            Dan anak kecil itu ibarat buku kosong, dimana ketika ia melihat sesuatu, mendengar sesuatu, dan merasakan sesuatu, akan ia catat satu persatu dalam buku kosong tersebut yang pada akhirnya akan menentukan seperti apa ia kedepan. Semua itu berkaitan, dulu anak kecil tidak tahu apa itu bokep, sekarang gue rasa mayoritas banyak yang udah pada kenal bokep. Karena apa ? ia salah menerima.
Logikanya begini, kalau anak kecil gak sengaja lihat video tak senonoh, ia akan penasaran dan bertanya kepada orang tuanya. Orangtua yang baik akan berterus terang, dan memberi nasihat bahwa hal itu tidak baik, serta memberi ancaman bahwa itu dosa yang dilarang agama. Sekarang udah ada internet, kalau penasaran tinggal tulis dan cari di google. Padahal di google informasinya belum tentu itu baik untuk anak kecil. Jadi anak kecil salah persepsi, lebih parah lagi kalau dipraktekan dikehidupan nyata, miris bro.
            Maka dari itu, perlu adanya perhatian lebih agar anak kecil tidak terjerumus ke dalam hal-hal yang akan merugikan dirinya dan masa depannya. Sekarang banyak kasus anak kecil yang bersikap layaknya anak remaja atau bahkan orang dewasa. Orangtua seharusnya menanamkan nilai-nilai dan norma yang berlaku dimasyarakat, agar terbentuk sebuah kepribadian yang sesuai dengan nilai luhur bangsa Indonesia yanga berasaskan Pancasila. Tepuk tangan, yeeeeee.



EmoticonEmoticon