Cerpen - Titip Cintaku


Undangan warna merah itu masih tergeletak manis di atas laci mejaku. Aku masih bimbang, kutatap nama yang tertera di sana berulang kali. Hatiku berontak setiap kali otakku mengeja nama itu. Dia akan menikah besok, apa aku sedang berhalusinasi? aku menampar pipiku berulang kali, tamparan yang turut melarutkan mimpi-mimpiku dengannya. Mimpi untuk menikahinya kandas sudah. Namun ada satu hal yang harus kuselesaikan meski berat, memenuhi undangan resepsi itu


Aku belum memiliki keputusan, seharian suntuk aku mendendangkan lagu lawas yang tentunya membuatku gulana. Kuteguk bergelas-gelas kopi hitam dari teko sampai perutku kembung. Tak lupa juga kuhisap berbatang-batang rokok yang kubeli dua jam lalu di warung sebelah. Setiap kali isapan itu mengaliri tenggorokanku, kebahagiaan itu seolah datang lagi. Rasanya baru kemarin aku menggenggam tangannya, hangatnya kurang lebih sepadan dengan suhu asap rokok yang kugapit dengan dua jariku sekarang.

Pukul dua malam, aku sampai pada tegukan terakhir. Putung-putung rokok berserakan di sekitar kursiku. Kepalaku kini pusing, dipenuhi nikotin puluhan gram yang bersarang. Itu tak seberapa dibandingan dia yang racunnya melebihi dosis nikotin-nikotin tersebut. Aku masih menganggap itu mimpi, ketika dia memutuskanku dengan tiba-tiba. Ia bicara hal-hal gila yang tak aku mengerti, tentang pria lain yang memberinya janji hidup lebih baik. Aku hanya cemburu, disesaki sakit, bertolak belakang dengan kebahagiaannya saat ini.
Pukul empat pagi, aku pun terlelap dalam mimpi. Mataku lelah seusai begadang semalaman. Potret undangan itu sekelebat tergambar jelas di kepalaku. Sesaat aku merasa damai dalam tidurku karena suatu alasan.

***
Aku terbangun secara tidak sengaja. Kulihat dengan malas jam dinding, waktu saat ini menunjukkan pukul satu siang.


Keputusan itu pun akhirnya datang otodidak. Pergi. Seperti mendapatkan ilham, aku merasa gembira tanpa ada keraguan sedikit pun. Tangisku semalam seolah sirna, mungkin malaikat pembawa kebahagiaan memelukku yang sedang kesakitan. Aku menatap undangan itu sekali lagi, juga demi memantapkan hati. Peristiwa berharga itu akan berlangsung sebentar lagi. Tepat tiga puluh menit kemudian, aku tak punya banyak waktu. Aku harus menghadiri resepsi pernikahannya.



Para undangan telah memenuhi kursi, aku duduk di kursi paling belakang bersama salah seorang kawanku. Sengaja aku memakai pakaian batik paling bagus, berpenampilan serapi mungkin untuk menyaksikan hari bahagianya. Aku ingin terlihat gagah, bukan gaya seorang pecundang yang kalah.



Alunan lagu dangdut dari pengeras suara seolah mengusikku, liriknya menyindirku halus. Aku gusar, perasaanku bercampur aduk. Ingin rasanya aku angkat kaki dari tempat ini, namun aku menguatkan hati. Kondangan ini mungkin hanya berlangsung dua jam, tak lebih. Tak ada lagi momen seperti ini untukku dan untukknya di lain hari. Aku harus menguatkan diri berada di sini.



Tak lama hadirin menunggu, kedua mempelai pun saling bertemu, diiringi dua kembar mayang di antara kedua pengantin. Syair-syair shalawat menggema memenuhi halaman resepsi. Mereka berdua menjalani upacara sakral khas Jawa dipandu oleh salah seorang tetua desa. Upacara tentang dua insan yang saling mengikat janji, untuk sehidup semati.



Sungguh, kurasa dia sangat cantik kali ini. Itu adalah gurat wajah yang berbeda dari yang selama ini kukenal. Gurat wajah yang menggambarkan harapan kebahagiaan serta impian-impian baru bersama lelaki yang telah ia pilih. Aku merasa terharu menyaksikan mereka berdua. Melihatnya bahagia, secara tidak langsung kebahagiaan itu hadir memelukku. Ingin rasanya aku meneteskan air mata, tapi aku malu jika kawan di sampingku menertawakanku karena menangis sedu. Tatapanku masih lekat ke arah mereka berdua, yang berjalan pelan beriringan menuju kursi pengantin di depan panggung.



Hampir satu jam aku menunggu kondangan ini selesai. Acara pun akhirnya sampai pada sesi foto bersama pengantin. Para kerabat dan teman-temannya satu persatu naik ke panggung, berfoto ria sembari tertawa bahagia. Aku masih duduk di tempatku, menatapnya untuk yang terakhir kali karena ia sudah menjadi milik orang lain. Samar-samar kulihat kedua matanya menelisik seperti mencari sesuatu. Mungkin dia mencari keberadaanku di antara para undangan yang hadir.



“Para undangan, yang berminat menyumbangkan sebuah lagu silahkan naik ke atas panggung.” Kalimat pembawa acara seolah membujuk hatiku, padahal aku hendak pergi meninggalkan lokasi. Salah seorang temanku pun memaksaku, menarik-narik lenganku untuk naik ke panggung.



Aku kikuk sembari berjalan gontai. Ia menatapku, kebingungannya pupus. Sorot mata bahagia terlukis di kedua matanya karena aku berkenan hadir di resepsi pernikahannya. Kedua orangtuanya juga menatapku dari kejauhan. Tak apa, aku tak berniat merusak hari bahagia ini. Aku datang hanya sebagai tamu yang memenuhi undangan.



Di dekat pemain organ, aku meminta sebuah lagu untuk kupersembahkan kepada mereka berdua. Lagu yang menurutku sendiri indah juga menyakitkan. Pemain organ mengangguk dan mengambil posisi untuk memulai lagu yang kuminta.



Kutitipkan kepadamu, dia yang paling kusayang.

Engkau tahu, di dalam hatiku masih menyayangi selalu.”


Aku membuka lagu itu dengan khidmat. Suaraku memang tak sebagus penyanyi dangdut profesional, tapi aku membawakan lagu ini tulus dari dasar hatiku. Aku bernyanyi sembari menatapnya yang kini berada dalam pelukan pria pilihannya.



“Aku rela melepaskan dia, walau harus menderita.

Karena cinta tidak selamanya indah dan berakhir bahagia.”


Sampai di lirik ini, tiba-tiba ia mengusap kedua matanya. Kulihat sekilas airmatanya mulai menetes ketika mendengarkanku bernyanyi. Aku yang sedari tadi berusaha tegar, kini aku larut terbawa perasaan. Suaraku agak berantakan, bercampur sedu dan airmata. Para hadirin menatapku heran, mereka tidak tahu bahwa aku adalah mantan kekasihnya yang gagal menikahinya.



“Seujung rambut, seujung kuku. Jangan pernah kau sakiti hatinya.

Cintai dia, sayangi dia janganlah kau sia-siakan dirinya.
Biarlah derita, kusimpan selamanya asalkan bahagia selalu bersamanya.”


Setiap kata dari lirik itu adalah segenap doa yang kuberikan untuknya sekaligus pesan agar suaminya selalu menjaga ia sepenuh hati.



Kini lengkap sudah airmata ini menetes, aku tak kuasa membendungnya. Kuusap perlahan agar tidak semakin menderas. Perasaanku sungguh tak bisa dijelaskan, begitupun ia yang bedaknya sedikit luntur oleh tetesan airmata. Kemungkinan ia teringat kenangan-kenangan kami dulu kala, yang kini hanyalah tinggal kenangan.



Aku pun menghampirinya seusai mengakhiri lagu. Kuucapkan selamat atas pernikahan mereka berdua. Sontak, ia tiba-tiba merangkulku dalam waktu singkat. Membisikkan harapan semoga aku segera menemukan kebahagiaan. Aku tak kuasa berkata-kata, kuusap lembut kepalanya sembari menghapus bekas airmatanya yang rela ia teteskan untukku. Sebelum meninggalkan panggung, aku menitipkan pesan dan cintaku kepada pria yang dipilihnya. Aku percaya, ia pasti bisa menjaganya dalam suka maupun duka.



Cinta memang kadang tak harus memiliki, aku tahu makna dari kalimat itu. Kami berdua memang tak ditakdirkan berjodoh. Seusai menghadiri resepsi itu, kini aku menjadi sosok yang baru. Ia tetap menjadi kenangan termanis yang pernah kuabadikan dalam lembaran hatiku.



~Terinspirasi dari lagu Ona Sutra yang berjudul Titip Cintaku~

Malang, 29/08/2017


EmoticonEmoticon