Cerpen - Hatiku Tertinggal di Heidelberg

source: pixabay.com

Es war an einem Abend, als ich kaum 20 Jahr. Da küsst ich rote Lippen[1].

Sepenggal lirik lagu itu terkenang di kepalaku. Rentetan memori lama silih berganti mampir. Secangkir kopi dan sebatang rokok kretek kini menemaniku duduk sendirian di teras depan rumah sembari menikmati hujan yang turun sangat deras. Hawa dingin kali ini mengingatkanku pada dinginnya butiran salju yang turun pada saat itu. Ah, aku mendadak teringat kecupan hangat dan rasa wien pada malam itu. Kecupan dari dia si perempuan bermata biru yang bernama Rose. Sudah hampir sepuluh tahun aku tidak bertemu dengan dia.

Rose ialah teman kuliahku di salah satu universitas tertua di Jerman, tepatnya di Heidelberg[2]. Ia adalah perempuan Rusia yang memiliki rambut pirang kemerahan. Tentu saja, dia cantik seperti bule-bule Eropa pada umumnya. Tubuhnya ramping dan seringkali membuat darahku berdesir ketika berjumpa dengan dia. Namun, yang paling khas dari dia adalah matanya yang sebiru langit serta bibirnya yang selalu merah merona.

Ich mag deine Augen[3],” kataku setiap kali bertemu dengan dia. Dia hanya tertawa ketika aku berkata demikian. Katanya, mata itu tidaklah spesial. Katanya lagi, banyak perempuan-perempuan Eropa yang memiliki mata yang jauh lebih cantik darinya. Namun bagiku, mata itu sangatlah cantik dan selalu membuatku betah menatapnya lama-lama.

Kami berdua kerapkali berdiskusi bersama mengenai tugas-tugas kuliah di sebuah Kneippe[4] dekat jantung kota Heidelberg. Ia sangat cerdas dan analisisnya selalu mendalam sehingga membuatku kelimpungan. Apalagi ketika dia sudah membahas mengenai teori-teroi Karl Marx tentang tatanan sosial dan kehidupan politik yang menurutku rumit. Aku sering mengangguk-angguk berlagak mengerti, padahal kata-kata yang dia ucapkan itu merupakan kata-kata yang rumit nan sulit dan tidak semua orang mampu mengerti.

“Kau paham penjelasanku?” katanya setelah selesai bicara sembari menegak segelas bir dari Italia. Rose merupakan peminum berat. Anehnya, dia tidak pernah mabuk meski sudah minum berkali-kali.
“Aku tak terlalu paham, tapi penjelasanmu memberiku inspirasi,” kataku sambil terkekeh. Tak lupa, aku menghisap rokokku sebagai penghangat tubuhku. Berhubung salju yang turun waktu itu agak lebat.
“Kau tidak minum bir?” tanyanya lugas setiap kali kami bersama. Aku menggeleng.
“Aku takut dosa,” jawabku singkat. Dia pun menertawakan kepolosanku. Meskipun demikian, dulu aku sempat sekali merasakan minuman haram itu. Waktu itu, aku menegak satu tegukan miras oplosan bersama anak-anak kampung karena peenasaran. Pulang-pulang, aku langsung dihajar bapakku karena ketahuan mabuk. Sejak saat itu aku kapok dan bertobat untuk tidak minum lagi.

Di samping penganut Marxisme garis lurus, Rose juga seorang agnostik dan selalu mempertanyakan eksistensi agama. Jauh berbeda denganku, yang walaupun banyak dosa tapi masih ingat Tuhan. Dia suka berteori dan mendiskusikan tentang ritus dan segala seluk beluk keagamaaan yang menurutnya rumit dan tidak logis. Pemikirannya memang gila dan terkadang aku takjub bahkan sempat terbawa ke dalam dunianya.

Sepulang dari kafe, kami berdua biasanya pulang bersama dan menaiki kereta bawah tanah terakhir menuju rumah sewa kami yang lokasinya berdekatan. Rose selalu menawariku untuk menginap di kamarnya, lalu berpose manja sembari menggodaku. Sejujurnya tawaran itu menarik bagi setiap lelaki, tapi bagiku itu hanya candaan saja. Mana mungkin aku menghabiskan malam bersama dia. Sekali lagi, aku takut dosa.

Baca juga: Cerpen - Mawar Mini Merah Muda

***          
Rose, vertraust du auf Liebe[5]?” kataku penasaran ketika berada di jembatan tua kota Heidelberg saat itu. Ia terdiam dan menatapku dalam-dalam. Kedua mata kami bertemu seolah ia ingin menjawab pertanyaan itu hanya dengan tatapan matanya.
            
“Aku tidak percaya cinta. Pertanyaanmu sungguh menggelikan,” ia tertawa keras. Aku diam dan larut pada tawanya. Sejenak aku merenung lalu bertanya lagi.            
“Tapi aku sering melihatmu bersama lelaki lain,”            
“Ah, itu hanya untuk kesenangan saja,” katanya berkilah. Katanya lagi, hubungan itu rumit dan cinta hanyalah sebuah pemikiran absurd manusia yang dipenuhi imajinasi. Sedangkan bagi dia, imajinasi adalah pembunuh nalar logis yang membuat manusia lebih senang hidup di alam mimpi daripada di alam kenyataan.
            
Kami terdiam sejenak, lalu mengamati perahu kecil pemancing ikan yang melintas di sungai Neckar. Salju di jalanan mulai menghilang, pertanda musim semi hendak menyapa kembali. Rose kemudian membuka pembicaraan lagi, membicarakan kehidupan. Katanya, hidup itu singkat dan fana, jadi harus dinikmati sebisa mungkin. Meski dia tidak percaya cinta, dia tidak menyalahkan orang-orang yang memiliki pemikiran bahwa hal-hal abstrak seperti cinta, malaikat, akhirat dan Tuhan itu ada. Namun, ia memilih mempercayai entitas konkrit yang bisa dia lihat dengan kedua matanya. Aku menghormati pemikirannya, seperti dia menghargai pemikiran serta keyakinanku.
            
“Lalu, mengapa kau berteman denganku? Lelaki biasa yang mungkin bisa kausebut kuno,” kataku penasaran.
“Aku suka orang-orang jujur dan polos sepertimu, apalagi kau ramah dan enak diajak bicara. Tidak ribet dan banyak argumen seperti kenalanku yang lain,” katanya. Kalau kupikir ulang, kami seperti kegelapan dan cahaya. Dua hal yang berlainan tapi tidak dapat dipisahkan, tapi juga tak dapat disatukan.
“Berarti, kau tidak punya rencana untuk menikah jika kau tidak percaya cinta?”
            
Ia menggeleng lalu membuka suara, “Menikah itu merepotkan. Seperti yang sudah pernah kukatakan, aku tidak suka terikat dengan sebuah hubungan. Menikah itu berarti membunuh kebebasanku sebagai seorang perempuan.”
            
Kami pun mengakhiri perbincangan sederhana itu, kemudian kami berjalan-jalan sebentar di sebuah kastil dengan gaya gotik khas abad pertengahan. Lalu, kami menelusuri jalanan di jantung kota Heidelberg serta membeli beberapa roti untuk persediaan makanan yang mulai menipis.
***
Seperti pepatah bilang, pada setiap pertemuan selalu ada perpisahan. Aku sudah menyelesaikan studiku dan hendak kembali ke Indonesia. Ia pun rencananya akan kembali di Rusia dan meniti karir di sana. Rose sendiri sudah cukup lama tinggal di Jerman dan mendadak ia pun rindu dengan kampung halamannya. Sebelum berpisah, Rose mengajakku minum bersama di kafe biasa. Ia ingin menghabiskan detik-detik terakhir kami di kota Heidelberg.
            
Tidak seperti biasanya, Rose menawariku segelas wine. Namun kali ini, tanpa alkohol. Itu adalah salah satu merk wine terkenal dari Sachsen, salah satu negara bagian Jerman yang menghasilkan anggur terbaik.
            
“Tenang, wine ini tidak memabukkan. Kau harus mencobanya sekali, sebelum pulang ke negaramu,” Rose membujukku sembari tersenyum. Entahlah, ia terlihat sangat cantik malam itu. Aku pikir, dia adalah Rose yang berbeda. Penampilannya lebih rapi dan anggun jika dibandingkan dengan biasanya.
            
“Kau tidak bohong, kan?” candaku meledek. Tawanya pecah dan agak mengganggu pelanggan di meja sebelah kami.
“Tentu tidak. Aku hanya ingin malam ini menjadi malam yang penuh kenangan sebelum berpisah denganmu,”
            
Kami menghabiskan malam itu dengan penuh tawa sembari mengenang masa-masa yang sudah kami lewati. Tak lupa, kami juga membicarakan profesor galak yang kerapkali mempersulit tugas akhir kami. Tanpa terasa, perbincangan kami malam itu berlangsung lama hingga kafe itu hendak tutup. Kami pun beranjak meninggalkan kafe itu dan pulang.
            
Entahlah, aku merasa waktu itu waktu seolah berjalan agak lambat dan sunyi pun mampir merangkul kami berdua. Di tengah perjalanan pulang, Rose tiba-tiba menghentikan langkah kakinya. Suasana jalanan itu agak sepi dan angin malam berhembus cukup dingin. Kami persis berdiri bersisian dan hanya ditemani lampu jalan yang pendarnya remang. Ia tiba-tiba merapatkan tubuhnya ke arahku. Kemudian tanpa ba-bi-bu, ia mencium bibirku. Aku tidak kuasa menolaknya. Jantungku berdegup kencang dan darahku berdesir. Sungguh ciuman liar yang baru pertama kali kurasakan.
            
“Senang mengenalmu. Auf wiedersehen[6]!” Rose pun akhirnya mengucapkan kalimat perpisahan itu. Sebuah kalimat yang sejujurnya aku benci. Ia kemudian berlalu begitu cepat. Aku berdiri mematung, lalu melambaikan tangan ke arahnya.
“Auf wiedersehen!”

Kami benar-benar berpisah.
***
Aku akhirnya pulang ke Indonesia dan mendapat pekerjaan di salah satu perusahaan internasional di Jakarta yang bergerak di bidang ekspor dan impor. Semenjak itu, aku tidak tahu kabar tentang Rose. Aku tidak bisa lagi menghubungi dia. Alamat e-mail serta nomor teleponnya sudah tidak aktif. Namun, gambaran tentang dia masih membekas kuat di kepalaku. Apalagi ciuman liarnya pada malam itu.

Dan yang paling membuatku penasaran, ada relung kosong yang ada dalam dadaku. Entahlah, aku merasa ada sesuatu yang hilang dari dalam diriku. Satu lagi yang samar dalam ingatanku, aku melihat kedua mata biru itu menangis malam itu. Sampai sekarang, aku masih ragu, apakah makna dari ciuman Rose malam itu? Mungkinkah kegelapan itu kini sudah menemukan cahaya?

Cerita ini terinspirasi dari lagu 
Ich hab mein Herz in Heidelberg verloren  karya Neubach dkk*




[1] Sepenggal lirik dari lagu “Ich habe mein Herz verloren” karya Neubach dkk. Secara harfiah lagu ini bermakna aku kehilangan hatiku di Heidelberg atau bisa juga dimaknai aku mencintai Heidelberg.
[2] Salah satu kota otonom yang merupakan bagian dari kota Bayern Wütemberg, negara bagian Jerman.
[3] Aku menyukai kedua matamu
[4] Nama untuk bar dalam bahasa Jerman. Tempat orang menghabiskan waktu bersama baik untuk bermain atau sekadar minum-minum.
[5] Apakah kau mempercayai cinta
[6] Sampai jumpa lagi

1 comments:


EmoticonEmoticon