[Cerpen] Perempuan dengan Tato Kupu-Kupu Hitam

Foto oleh Thiago Matos dari Pexels

Kedai kopi ini cukup ramai pada jam makan siang. Para pekerja kantoran yang bekerja di dekat sini terlihat mulai memenuhi kursi yang beberapa menit lalu lengang tak terisi. Tampak pula seorang pria paruh baya berkacamata tengah duduk sendirian di sudut ruangan sembari membaca koran. Di depannya, tersaji segelas kopi hitam Robusta yang masih panas.

Sementara itu, seorang perempuan dengan tubuh ramping dan dada yang cukup sintal terlihat memasuki kedai kopi itu pelan. Usia perempuan itu juga masih muda. Barangkali, sekitar kepala dua puluh mendekati tiga puluh. Hal itu tampak jelas dari raut wajahnya yang masih segar laiknya wanita dewasa yang matang.

Dilihat dari penampilannya, perempuan itu bekerja sebagai salah satu sales merk rokok ternama. Ia menjajakan produk yang dia promosikan kepada para pengunjung yang tengah sibuk menghabiskan waktu jam istirahat dengan berbincang-bincang bersama kolega mereka.

Kebanyakan dari pengunjung itu bukanlah seorang perokok, sehingga mereka tak terlalu menghiraukan kehadiran perempuan itu. Langkah perempuan itu terus berpindah dari meja ke meja hingga ia sampai ke meja pria paruh baya tersebut.

“Rokoknya, Pak?” ujarnya. 

Pria paruh baya itu meletakkan korannya sejenak lalu menoleh ke arah perempuan tersebut.

Keduanya saling bertatapan sejenak. Gejolak seketika berkecamuk menyeruak ke dalam dada mereka. Gurat wajah mereka terlihat ragu. Ingatan mereka kembali ke masa lalu ketika segala hal masih begitu ambigu. Tepatnya, ketika mereka masih sering bertemu.

Baca juga: [Cerpen] Mentari yang Abadi di Tuscany

***

Kamar itu terlihat remang. Hanya disinari sebuah bohlam yang berpendar agak redup. Dua pasang badan saling berbagi kehangatan di atas ranjang. Mereka saling memuaskan berahi yang sudah lama bergejolak dan menjajal beragam variasi gaya seksual untuk mencapai puncak kenikmatan hasrat duniawi.

Permainan yang diselimuti oleh dosa itu selalu berakhir tak lebih dari satu jam. Kemudian, mereka berdua duduk berdua dan saling bertatapan di atas ranjang. Tubuh mereka setengah terbuka. Hanya selimut tebal yang menutupi bagian intim mereka.

Seperti biasa, perempuan itu meraih segelas bir di atas nakas yang berada di samping tempat tidur sebagai teman berbincang. Diteguknya bir tersebut dengan pelan, sedangkan pria paruh baya di sampingnya menghisap rokoknya dengan pelan. Dia tidak suka bir, lebih senang kopi hangat yang sayangnya tidak ada malam itu.

“Kau tidak ingin keluar dari pekerjaan ini? Kau bisa mencari pekerjaan yang lebih baik di luar sana?”

“Aku belum kepikiran. Lagipula, mana ada pekerjaan yang layak bagi wanita jalang sepertiku? Kau ini hanya menghayal saja,” jawabnya lugu.

Pria paruh baya itu merupakan pelanggan setia perempuan tersebut. Salah satu koleganya yang mengenalkan mereka berdua beberapa bulan yang lalu. Katanya, perempuan itu cocok jika dijadikan teman selama ia berkunjung di kota itu, sementara ia jauh dari istri dan anak-anaknya.

Melihat kecantikan perempuan itu, pria paruh baya itu tergoda. Ia pun mendadak lupa bahwa dia sudah berkeluarga. Akhirnya, hubungan terlarang mereka pun terjalin.

Setiap kali pria paruh baya itu berkunjung ke kota itu, dia selalu menyempatkan diri menemui perempuan dan menyewa kamar untuk satu malam. Mereka menikmati malam dengan desahan panjang yang terlaknat kemudian terhanyut dalam obrolan ringan sebelum berpisah. 

“Apa keluargamu tidak tahu jika kamu di sini menyewa seorang pelacur?”

Pria paruh baya itu menggeleng. Ia masih asik menghisap rokoknya lebih dalam dan menghembuskannya pelan. Lalu, perempuan itu beranjak dari posisinya dan mengambil kemeja yang tadi tergeletak manis di atas lantai.

Dibiarkannya pelukan itu terlepas dan ditatapnya tato kupu-kupu berwarna hitam yang terlihat manis di belakang leher perempuan tersebut, yang tampak samar di balik helaian rambut hitam kemilau perempuan tersebut.

“Aku pergi dulu,” katanya usai mengenakan pakaiannya.

“Sebentar,” ujar pria paruh baya itu. Kedua tangannya sibuk merogoh sesuatu dari dalam saku celananya.

“Tidak usah. Anggap malam ini adalah hadiah spesial dariku,” jawabnya yang menolak pemberian dari pria paruh baya itu. Lagipula, perempuan itu merasa puas karena bisa menjalin asmara dengan pria yang menurutnya mampu memberikan ketentraman yang berbeda.

Tak bisa dinafikkan, pria paruh baya itu merasakan hal yang sama. Di jantungnya, perempuan itu seperti denyut yang berdetak tiap detiknya. Sentuhan lembut perempuan itu ketika menyentuh setiap titik di tubuhnya seolah merayap dan meracuni seluruh aliran darahnya hingga membuatnya kecanduan.

Ya, mereka berdua jatuh cinta. Sebuah cinta yang bisa dikatakan benar dan salah atau lebih tepatnya cinta yang sangat gila. Namun, yang namanya cinta tetaplah cinta. Mau itu benar atau salah, tak ada yang peduli.

Sayangnya, malam itu adalah pertemuan mereka yang terakhir. Mereka tidak pernah bertemu lagi setelah malam itu. Anehnya, perempuan itu menghilang tanpa jejak.

Baca juga: [Cerpen] Segelas Robusta dan Cinta Lama di Jogja

***

Pria paruh baya itu tersadar dari lamunan tentang masa lalunya.

“Duduklah sebentar!” kata pria paruh baya itu tanpa mengalihkan pandangannya dari perempuan itu. 

Kerinduan yang lama terkurung di dalam dadanya membuncah. Terus terang, dia begitu bahagia karena bisa melihat lagi keanggunan, kecantikan, dan senyuman tak terdefinisikan dari perempuan yang dulu sangat dicintainya itu.

“Maaf, aku tak punya banyak waktu karena aku harus bekerja,” perempuan itu berkilah dan sedikit membuang muka.

“Tenang saja, aku akan membeli semua stock rokok yang kau jual hari ini,”

Kegusaran yang tadi tampak pada gurat wajah perempuan itu perlahan menghilang.  Ia masih sedikit membuang muka. Keraguan mungkin tengah menyelimutinnya dan ingatan kesalahan di masa lalu kembali menghantuinya.

Sementara perempuan itu sibuk menata tempat duduknya, pria paruh baya itu memesan segelas cokelat dingin untuk perempuan itu.

“Aku hanya ingin tahu. Mengapa kamu tiba-tiba menghilang hari itu? Tanpa ada kabar atau penjelasan. Aku sangat takut terjadi apa-apa denganmu,”

“Ehm… aku hanya ingin memulai kehidupan yang baru, seperti yang kau lihat saat ini. Aku bukan lagi perempuan yang kau kenal dulu,” ujar perempuan itu dengan nada gamang. Kedua matanya menatap pria baru bayah itu dengan dalam. Tatapan itu seolah berkelana kembali mengenang kisah terlarang mereka berdua di masa masa lalu.

“Jika aku masih terus berada di kota itu dan bertemu denganmu, aku mungkin tidak akan pernah bisa lepas dari belenggu masa kelamku. Aku teringat akan kata-katamu malam itu, tetapi aku juga sadar bahwa tidak sepantasnya aku menjadi parasit di keluargamu,” ucap perempuan itu meneruskan.

“Aku paham maksudmu. Aku juga mengakui kesalahanku. Maaf, mungkin tidak sepatutnya aku menumbuhkan cinta yang tak seharusnya tumbuh di dalam hatimu,”

Perempuan itu tersenyum seakan-akan ia tak menyesali cinta yang pernah terjalin di antara mereka berdua. Tanpa sadar, salah satu rekan kerja perempuan itu memanggilnya

“Maaf, aku harus pergi sekarang. Senang bisa bertemu lagi denganmu,” 

“Semoga kau bahagia dengan kehidupan barumu,”

Perempuan itu pun beranjak pergi dan melangkah menuju ke pintu kafe, sedangkan pria paruh baya itu tak henti-hentinya menatap punggung perempuan itu yang semakin lama semakin menghilang dari balik pintu kafe.

Pria paruh baya itu menguarkan senyum bahagia. Tato kupu-kupu hitam di leher perempuan itu, kini berganti warna menjadi biru, seperti langit pagi hari yang sangat teduh menawarkan harapan baru.

0 Response to "[Cerpen] Perempuan dengan Tato Kupu-Kupu Hitam"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel