[Cerpen] Cinta yang Selalu Hidup di Secangkir Kopi

Ilustrasi oleh Tima Miroshnichenko dari Pexels

Pintu kafe berderit pelan. Suara kaki terdengar melangkah pelan sembari mengamati suasana kafe yang terlihat lengang. Dari tempat dudukku, aku melihat seorang kakek tua berkacamata dengan kemeja batik dan nenek dengan kebaya cokelat mengambil tempat duduk di meja dekat jendela. Meja itu adalah meja favorit para pelanggan karena mereka bisa menatap hamparan danau beserta pemandangan di sekitarnya yang memukau.


Otakku sedikit menerka-nerka, mungkin itu hanyalah kebetulan. Mereka mungkin tidak sengaja memilih meja itu. Namun, ada yang sedikit janggal karena meja itu hari ini tak ada yang menduduki seolah semesta dengan cara uniknya telah memesan meja itu untuk mereka berdua. Biasanya meja itu tak pernah kosong, malah selalu penuh hingga orang-orang rela datang lebih awal agar bisa menempati meja itu.


Kafe ini memang sudah cukup tua. Dahulu, kafe ini hanyalah kedai kopi biasa yang terletak di pinggir jalan dekat danau kecil di kota ini. Seiring berjalannya waktu selaras dengan perkembangan gaya hidup anak muda, kafe ini pun ikut bertransformasi dengan sedikit nuansa modern, tanpa menghilangkan gaya bernuansa tua kafe ini yang telah kekal di ingatan pelanggan.


Mereka berdua mungkin dulu pernah mengunjungi tempat ini ketika masih muda, jadi mereka tahu persis tentang seluk beluk kafe ini. Aku hanya bisa berasumsi tanpa jawaban pasti. Lalu, akupun kembali berkutat dengan koran yang sedari tadi belum selesai kubaca sambil sesekali mengamati sepasang lansia yang tampak serasi itu. Aku yakin, setiap muda-mudi pasti sangat iri dengan sepasang lansia yang begitu mesra di usianya yang telah senja.


Tak lama, kakek itu memanggil pelayan. Kudengar, ia memesan dua cangkir kopi tubruk. Ketika pelayan bertanya biji apa yang ingin dipakai untuk kopi mereka, kakek itu menggaruk-garuk kepala dan sedikit mengerutkan wajah. Ia bertanya balik kepada pelayan lalu mempertimbangkan rekomendasi dari pelayan kafe.


Bali Kintamani, persis kata kakek itu saat menyebutkan biji kopi pilihannya.


“Ah, mungkin karena kita sudah tua, kita tak lagi tahu perkembangan kopi saat ini. Dulu, aku tak pernah memesan kopi yang muluk-muluk. Yang penting kopi hitam. Sudah cukup,” celetuk kakek itu dengan tawa renyah.

“Aku jadi ingat masa muda dulu ketika kita menghabiskan waktu-waktu untuk minum kopi bersama, seperti hari ini. Aku tak akan pernah lupa dengan momen menyenangkan itu,”


Dengan samar tapi masih mampu kudengar, aku menyimak perbincangan ringan mereka berdua karena meja kami kebetulan berdekatan. Persis seperti dugaanku, mereka memang pelanggan lama kafe ini.


Sembari menyeruput kopi tubruk yang baru diantarkan pelayan, sepasang lansia itu meneruskan obrolan mereka. Dulu, mereka memang bertemu di kota ini dalam sebuah ketidaksengajaan pada saat mereka masih kuliah di kota ini. Bagi mereka, kota ini adalah kota kenangan yang tak pernah lekang di ingatan.


Aku tahu, menguping pembicaraan adalah perbuatan yang sama sekali tidak beretika. Namun, pembicaraan itu sangat sayang untuk kulewatkan karena aku masih penasaran dengan cerita mereka berdua.


“Mengapa kau memesan biji kopi Bali Kintamani?” kali ini nenek itu yang kembali bertanya.

“Jujur, aku tidak paham tentang biji kopi. Jadi, aku memilih biji kopi yang sesuai dengan intuisiku. Kau sendiri pasti mengerti maksudku,” jawabnya terkekeh.

“Kalau aku ingat-ingat lagi, Bali memang menyimpan banyak kenangan kita berdua,”


Dengan bergelora, sepasang lansia itu kembali bercerita banyak hal tentang masa lalu mereka. Mereka mengingat masa-masa berlibur bersama di pulau Bali ketika mereka menikmati ombak di pantai Kuta yang dulu terlihat sejuk menyegarkan mata dan merdu menelisik telinga.


Mereka juga mengingat kembali momen ketika mereka bermalam bersama di kala mereka saling berbagi kehangatan hingga pagi buta membangunkan mereka yang terlelap dan terlena oleh jiwa yang dipenuhi hasrat juga cinta.


Ah, di sela-sela perbincangan yang menarik itu, aku tiba-tiba mendadak ingin buang air kecil. Aku tak bisa menahannya lama-lama karena itu sudah sampai di pucuk. Aku terpaksa meninggalkan tempat dudukku untuk beberapa menit, walaupun aku tahu bahwa menit-menit itu adalah menit krusial yang aku lewatkan karena itu artinya aku telah ketinggalan kereta yang mengantar cerita-cerita mereka. Ada beberapa part yang luput dariku.


“Kau sangat cantik di pesta pernikahan itu. Aku takkan pernah lupa dengan senyumanmu saat kau menikah,” ujar kakek tua itu dengan tatapan yang sangat dalam, seperti memandang mangga yang tengah ranum-ranumnya dan terlihat menggiurkan untuk dipetik lalu digigit dengan penuh cinta.


Jika kupikir ulang, kecantikan seorang wanita masihlah tertinggal pada gurat wajah nenek yang sudah renta itu. Otakku mulai liar dan berkelana ke mana-mana ketika membayangkan wajah nenek itu ketika masih muda. Mungkin, nenek itu dulu adalah primadona di kota ini. Kecantikan pacarku pasti lewat jika dibandingkan dengan kecantikan nenek itu.


“Kau juga sangat tampan di hari pernikahan. Aku jadi berpikir, orang yang menjadi pasangan hidupmu pastilah orang yang paling bahagia di dunia saat ini,” balas nenek itu dengan senyum simpul sederhana. Kemudian, mereka saling tertawa menertawakan suatu perihal yang aku sendiri heran.


Yang jelas, aku mendadak turut bahagia ketika mereka bercerita tentang hari pernikahan mereka. Mungkin, di hari pernikahan itu ada momen lucu yang membuat mereka tertawa, seperti ada anak kecil yang ngompol saat foto bersama di atas panggung pengantin atau ada mantan si kakek atau si nenek yang nyumbang lagu “kandas” di resepsi mereka.


“Sudah pukul tiga sore. Kita harus kembali, kalau tidak, nanti kau ketinggalan pesawat,” ujar si kakek sembari membetulkan kacamatanya, begitu pula si nenek yang mulai mengemasi barang-barangnya.


Nenek itu beranjak dari tempat duduknya dan mengucapkan kata perpisahan kepada si kakek sebelum pergi, sementara itu si kakek menuju ke arah kasir untuk membayar dua gelas kopi yang tadi mereka pesan.


Sebelum itu, aku beranjak dari tempat dudukku dan menuju ke arah kasir. Aku memberikan kode agar pelayan kafe ini untuk minggir terlebih dahulu.


“Untuk hari ini, saya ingin menggratiskan dua gelas kopi yang tadi Anda pesan,” ujarku selaku pemilik kafe ini. Aku merasa dua gelas kopi itu tidaklah sebanding dengan momen dan cerita dari kakek dan istrinya itu.

“Loh, nggak apa-apa. Saya memang mau bayar, kok, Dik. Tenang saja,” balas kakek itu dengan agak kekeuh.

“Tidak apa-apa, Pak. Maaf, tadi saya mendengarkan cerita Anda yang menurut saya menarik. Ngomong-ngomong, saya mau tanya, gimana resep agar hubungan bisa awet hingga tua, seperti hubungan Anda dan istri Anda?” tanyaku spontan dan plas-plos.


Mendadak, kakek itu kembali menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sembari membetulkan kacamatanya lalu disusul dengan gelak tawa yang seketika memecahkan keheningan kafe yang sedari tadi lengang.


Aku heran. Apakah ada yang salah dengan pertanyaanku?


“Kamu ini salah paham, Dik. Nenek itu tadi bukan istriku. Ehm… dia adalah mantan kekasihku di masa lalu. Aku hanyalah kakek tua yang dulu gagal menikahinya,” ujar kakek itu disertai tawa renyah dengan sorot mata yang cukup berbinar, seperti teringat masa lalunya yang mungkin pernah basah oleh air mata.


Kakek itu pun menyodorkan uang lima puluh ribuan untuk dua gelas kopi tadi yang menurutnya sangat berharga. Katanya, secangkir kopi tidak layak dinilai oleh apapun karena di dalamnya terdapat momen-momen berharga yang hanya bisa dimengerti oleh si peminum kopi. Begitulah kira-kira pemikiran kakek itu tentang kopi.


“Ya sudah, saya mau balik dulu. Oh iya, titip salam, ya, buat bapakmu!” kata kakek itu sebelum pergi meninggalkan kafe.


Aku masih terdiam dan mematung di depan meja kasir. Kedua mataku masih tidak henti-hentinya memikirkan semua kejanggalan di kafe hari ini, tentang sepasang lansia, kopi, dan kenangan lama di kafe ini. Namun, jika dipikir-pikir ulang, banyak orang yang berkata bahwa wajahku memang mirip bapakku, pendiri kafe tua ini.


Baca juga: Cerpen - Mentari yang Abadi di Tuscany

0 Response to "[Cerpen] Cinta yang Selalu Hidup di Secangkir Kopi"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel