Jomblo dan Nggak Jomblo Itu Pilihan



Jomblo, bukanlah hal baru yang ada disekitar kita. Mereka merupakan realitas sosial dimana seorang individu tidak terikat dengan individu lain dalam konteks asmara, lebih sederhana mereka adalah individu yang tidak memiliki status pacar orang.

Berbicara tentang jomblo, kebetulan penulis juga masih jomblo. Tapi itu bukan menjadi suatu kelemahan, karena ada banyak hal-hal positif yang bisa kita ambil dari adanya fenomena ini. Jomblo mendorong kreatifitas seseorang untuk melakukan sesuatu. Ia lebih leluasa dalam hal apapun, berbeda kondisi apabila ia memiliki seorang pacar. Tentu hal itu akan menjadi penghambat untuk menggapai kemajuan. Banyak hal terbuang sia-sia karena pacaran, misalkan waktu yang harusnya digunakan untuk hal yang lebih bermanfaat dialihkan untuk chatting-an sama pacar. Meskipun gak selamanya seperti itu, tapi fakta yang sering terjadi kurang lebih seperti itu, terutama untuk para remaja.

Bisa kita ambil analogi kayak gini, misalkan ada dua orang pemuda bernama Budi dan Beni. Mereka berdua sama-sama ingin menuju ke bioskop untuk nonton film. Mereka berdua berangkat dari rumah masing-masing diwaktu yang sama dan jarak dari rumah mereka berdua ke bioskop relatif  sama. Bedanya, Budi berangkat sendiri sedangkan Beni berangkat sama pacarnya. Logikanya, Budi akan sampai ditempat tujuan lebih awal ketimbang Beni. Karena Budi bisa langsung fokus ke tempat tujuan tanpa gangguan, sedangkan Beni, karena dia bersama pacar, mungkin dijalan mereka kebanyakan bercanda, jadi memakan waktu yang lama untuk sampai ke bioskop. Analogi sederhana, mereka sama-sama punya tujuan tapi butuh waktu yang berbeda untuk menggapai tujuan tersebut.

Disatu sisi, kalau kita kaitkan dengan asmara, Jomblo itu kebanyakan teori. Istilah yang sudah sangat umum dikalangan anak muda. Jomblo sama halnya kayak SMA, setiap hari belajar teori tapi minim praktek. So, kalau kalian curhat ke Jomblo, pasti mereka dengan mudahnya berbicara panjang lebar atas permasalahan kalian, memang itu bisa memotivasi diri kalian, tapi balik lagi, itu hanyalah teori. Kadang mereka sendiri juga belum pasti bisa melakukan itu. #REALITAS

Sekarang permasalahannya, apakah menjadi seorang jomblo itu menjadi beban bagi seseorang, lantas pacaran itu apakah bisa memberikan dorongan positif terhadap diri kita ?

Balik lagi ke diri kita kawan, setiap pilihan yang kita ambil pasti akan ada risikonya. Semisal, kalau kita memilih untuk jomblo, mungkin kita bisa lebih fokus menggapai impian kita, kita bisa lebih produktif, dan juga kita bisa jadi pribadi yang lebih baik bukan. Sisi negatifnya, mungkin kita harus mengorbankan masa muda kita yang singkat ini tanpa pernah merasakan apa itu pacaran, tapi itu bukan jadi permasalahan teman. Karena cinta sejati, akan datang disaat kalian benar-benar telah siap untuk itu. Yakinlah, bahwa ada cinta yang lebih baik untuk kalian ketika kalian berhasil kelak teman.

Tapi kalau memilih pacaran bagaimana ya ? pacaran itu, tergantung pribadi yang menjalankan. Alangkah baiknya kalau pacaran itu dihindari, karena akan menimbulkan banyak hal negatif ketimbang hal positif #REALITAS. Kalau ada orang pacaran yang beralasan agar semangat belajar meningkat, patut dicurigai. Hanya sebagian kecil yang seperti itu, mayoritas no sense. Yang lebih parah, pacaran ala anak hits, yang gak tau malu, yang udah gak punya etika dan sopan santun dimasyarakat. Puncaknya ketika mereka menganggap perzinahan itu hal yang wajar. So pesan, kalau kalian pengen pacaran, lakukanlah dalam batas-batas yang wajar. Penulis bukan menghalalkan pacaran, karena dalam agama hal itu bukan perkara yang dianjurkan, malah itu diharamkan dan ditentang keras.

Kesimpulan, apapun status yang ada pada diri kita, jalani dengan sepenuh keyakinan kita. Ketika kita merasa tidak nyaman dengan status itu, cari sebabnya lalu perbaiki dan pertahankan bila itu baik. Sebagai seorang pemuda, harusnya kita pintar memilih hal yang positif, dan membuang jauh-jauh hal negatif pada diri kita.

“Mulailah menata diri anda saat ini, berikan gambaran seperti apa diri anda dalam kurun waktu 40 tahun kedepan. Maka dari itu, apa yang anda lakukan saat ini, pikirkan konsekuensi yang akan anda peroleh ke depan. Ingat, semua itu pilihan!”


EmoticonEmoticon