10 Pengguna Buah Setan yang Kekuatannya Cocok Untuk Misi Penyamaran dan Investigasi


Halo, gaes. Pada kesempatan kali ini, saya pengen mengulas beberapa pengguna buah setan di One Piece yang kekuatannya cocok untuk misi penyamaran dan investigasi. Memang, setiap buah setan punya karakteristik dan ciri khas masing-masing, misalnya ada buah setan yang lebih dominan ke pertahanan atau bahkan penyerangan.

Para pengguna buah setan tipe penyamaran ini memiliki keunggulan dalam bidang menyamar dan memata-matai musuh serta mencuri informasi penting dari musuh.Baik, langsung saja yuk kita ulas para pengguna buah setan yang cocok untuk misi penyamaran tersebut. Check it out.

10. Tony Tony Chopper


Tony Tony Chopper merupakan rusa berhidung biru sekaligus kru topi jerami yang memegang jabatan sebagai dokter kapal. Ia memakan buah setan Hito Hito no Mi yang membuatnya mampu bertingkah dan berpikir layaknya manusia normal pada umumnya. Meskipun demikian, Chopper tetap terlihat seperti monster ketika berubah menjadi wujud manusianya. Dengan kombinasi buah setan dan pil yang bernama Rumble Ball, Chopper mampu berubah ke dalam berbagai bentuk yang berbeda.

Kekuatan Chopper ini cukup berguna untuk misi penyamaran. Dia bisa berubah ke dalam berbagai wujud dan sulit untuk diidentifikasi. Contoh kasusnya adalah ketika dia di Arabasta, dia mampu mengelabui Crocodile yang saat itu tengah mencari-cari sosok yang bernama Mr. Prince.

9. Kinemon



Kinemon merupakan salah satu samurai dari negeri Wano. Dia memiliki kemampuan buah setan tipe Paramecia yang membuatnya mampu merubah benda menjadi pakaian yang dapat digunakan di tubuh.  Kekuatan Kinemon itu cukup berguna dalam situasi tertentu, semisal ketika dia berada di pulau salju, dia dapat dengan mudah mencari baju hangat dengan kekuatannya.

Selain itu, kekuatan Kinemon ini cukup berguna untuk penyamaran di markas musuh. Contoh kasus adalah ketika dia menyamar menjadi Doflamingo di Dressrosa. Meskipun sedikit aneh, penyamaran itu dapat menipu Gladius yang saat itu tengah patroli. Sayangnya, kekonyolan dari Kinemon membuat kemampuan buah setannya kurang maksimal.

8. Jewelry Boney


Jewelry Boney ialah satu-satunya perempuan yang termasuk ke dalam Supernova. Ia memiliki kekuatan buah setan tipe Paramecia yang membuatnya mampu memanipulasi umur orang lain dan umurnya sendiri. Kekuatan ini cukup membuat kewalahan karena efek dari kekuatan ini dapat membuat seseorang menjadi muda seperti bayi lagi atau malah tua seperti kakek-kakek.

Kekuatan Boney ini juga sangat ampuh untuk penyamaran. Pada arc Reverie, Boney menyamar menjadi nenek-nenek dari kerajaan Sorbet. Penyamaran itu tidak diketahui sama sekali oleh para penjaga. Sampai saat ini, motif penyusupan itu masih belum jelas. Mungkin saja Boney memiliki keterkaitan dengan Kuma.

7. Emporio Ivankov


Ivankov adalah salah satu komandan Pasukan Revolusi yang memimpin pasukan cabang Grand Line. Dia memiliki kekuatan buah setan Horu Horu no Mi yang membuatnya mampu memanipulasi hormon yang ada pada tubuh seseorang. Dia dapat merubah gender seseorang, dari laki-laki menjadi perempuan atau sebaliknya.

Kekuatan Ivankov yang ini akan sangat berguna dalam misi penyamaran. Sayangnya dia memiliki penampilan yang cukup nyentrik dan membuatnya sangat mudah untuk dikenali. Padahal, kemampuan buah setan milik Ivankov ini sangat potensial digunakan untuk mengelabuhi musuh.

6. Corazon/Rocinante


Rocinanti ialah adik kandung dari Doflamingo sekaligus anak angkat Sengoku. Dia bergabung ke dalam Marine dan mendapatkan misi untuk menyusup ke dalam bajak laut Donquixote. Dia memakan buah setan Nagi Nagi no Mi yang membuatnya mampu menjadi manusia kedap suara. Selain itu, ia juga mampu menciptakan ruang kedap suara dan membuat semua benda yang disentuhnya menjadi tak bersuara.

Kemampuan ini lumayan berbahaya dan dapat digunakan untuk menyerang musuh secara diam-diam. Selain itu, kemampuan ini juga sangat pas untuk penyamaran serta investigasi di markas musuh. Salah satu bukti betapa efektifnya kemampuan buah setan ini adalah ketika Rocinante mencuri buah setan Ope Ope no Mi dari bajak laut Barrels.

5. Caribou


Caribou merupakan salah satu bajak laut dengan bounty yang lumayan tinggi. Dia sempat bergabung menjadi anggota dari bajak laut topi jerami palsu di Sabaody Archipelago. Caribaou memakan buah setan tipe Logia yaitu Numa Numa no Mi yang membuatnya mampu berubah menjadi lumpur.

Kemampuan Caribou ini sangat bermanfaat untuk menyamar karena dia mampu berubah menjadi lumpur yang keberadaannya seringkali tidak disadari oleh musuh. Dia dapat dengan mudah mencari informasi penting dari musuh-musuhnya.

4. Nico Robin


Nico Robin ialah salah satu anggota bajak laut Topi Jerami yang memiliki kemampuan untuk membaca Poneglyph. Dia memakan buah setan Hana Hana no Mi yang membuatnya mampu menumbuhkan anggota tubuhnya dimanapun layaknya bunga.

Kemampuan Nico Robin ini sangat pas digunakan untuk menyamar dan mencuri informasi dari musuh. Robin dapat memunculkan matanya di tempat tertentu yang tidak disadari oleh musuh. Selain itu, Robin juga dapat memunculkan telinganya di markas musuh untuk mencuri informasi penting.  Di samping itu, kemampuan ini juga didukung oleh sikap tenang Robin dan juga kecerdasannya.

3. Mr. 2


Mr. 2 atau Bon Clay merupakan mantan anggota Baroque Works yang memakan buah setan Mane Mane no Mi. Dengan kemampuan itu, dia dapat dengan mudah menyamar menjadi orang lain yang pernah disentuhnya. Dia dapat meniru bentuk fisik hingga suara dari orang yang ditirunya. Hal ini dapat digunakan untuk mengelabuhi musuh-musuhnya.

Di Arabasta, Mr. 2 meniru sosok Cobra sang raja Arabasta untuk menghancurkan kepercayaan warga terhadap raja. Selain itu, ia juga menyamar sebagai kepala sipir Magellan ketika berada di Impel Down. Kemampuan menyamar Mr. 2 ini sudah tidak dapat diragukan lagi.

2. Violet


Violet atau Viola adalah salah satu anggota kerajaan Dressrosa. Dia memiliki kemampuan buah setan Giro Giro no Mi yang membuatnya memiliki penglihatan super. Penglihatan itu dapat menjangkau seluruh pulau. Jadi, dia dapat dengan mudah mengetahui situasi di dalam pulau.

Tidak hanya itu, kemampuan Violet juga dapat melihat isi kepala dan pikiran musuh. Contoh kasus adalah ketika dia mencoba melihat isi kepala Sanji. Sayangnya, isi kepala Sanji waktu itu bukanlah informasi penting melainkan pikiran joroknya yang berwarna merah muda. Terlepas dari itu semua, Viola merupakan karakter yang sangat lihai dalam menyamar.

1. Absalom


Karakter terakhir yang kekuatannya sangat berguna untuk penyamaran adalah Absalom yang memiliki kekuatan buah setan Suke Suke no Mi. Dengan kekuatan buah setan itu, dia dapat berubah menjadi manusia yang tidak terlihat. Sayangnya, kekuatan itu dia gunakan untuk hal yang negatif, seperti mengintip perempuan mandi.

Salah satu bukti ampuhnya penyamaran Absalom adalah dia pernah meliput berita tentang hancurnya markas pasukan revolusi dengan nama penanya. Namun, kemungkinan dia saat ini sudah tewas dibunuh oleh Kurohige. Kekuatan buah Suke Suke no Mi saat ini dimiliki oleh Shiryuu.
*****
Nah, mungkin itu saja ya gaes beberapa pengguna buah setan yang memiliki kemampuan di bidang penyamaran dan investigasi. Semoga artikel ini menghibur dan bermanfaat. Thanks. 

15 Kata Bijak Bob Sadino yang Mampu Memotivasimu Untuk Berwirausaha

Bob Sadino merupakan salah satu pengusaha terkenal di Indonesia yang bergerak di bidang pangan dan peternakan. Beliau juga pemilik jaringan usaha Kemfood dan Kemchick. Salah satu gayanya yang khas adalah dia selalu tampil sederhana dengan kemaja lengan pendek serta celana pendek dalam keseharian.

Namun, beliau telah wafat pada tahun 2015 lalu. Meskipun demikian, pemikiran uniknya serta perjalanan hidupnya dalam berwirausaha patut kita teladani. Nah, berikut ini adalah beberapa quote legendaris Bob Sadino yang saya ambil dari berbagai sumber. Langsung saja yuk kita simak bareng-bareng.

1. Maka dari itu kita perlu kerja keras

2. Yang penting ada niat dan kemauan untuk jalan

3.  Berharap secukupnya

4. Bila kita punya usaha, kitalah bosnya

5. Jalan dulu yang penting

6. Sikap selalu menjadi faktor penting jika ingin sukses

7. Saran yang mantul buat yang lelah jadi pegawai

8. Kerja keras itu adalah kunci sukses

9.  Menganggap diri sendiri bodoh itu penting

10. Banyak duit emang enak hehe

11. Hidup sederhana saja, tak perlu mewah-mewah

12.  Perjalanan orang goblok

13. Ada banyak pelajaran yang dapat dipetik di dunia nyata

14.  Selalu ada pelajaran yang dapat kita ambil dari orang baru

15. Mumpung masih muda, ya kerja keras

source: Instagram

Memaknai Realitas yang Tak Sesuai Harapan dengan Cara Pandang yang Positif



source: worldsmile.com

Selamat malam sobat sekalian. Jumpa lagi bersama saya di artikel kali ini. Akhir-akhir ini, saya sedang sibuk dengan dunia nyata sehingga saya seringkali absen ngeblog. Jujur, saya agak sedih juga karena jarang ngeblog berhubung jiwa saya ada di dunia blogging. Namun, kewajiban saya di dunia nyata juga penting dan tidak mungkin saya abaikan begitu saja. Alhasil, saya memilih vakum dulu dari dunia blogging dan fokus ke dunia nyata terlebih dahulu.

Pada artikel kali ini, saya hanya ingin membahas topik ringan seputar kehidupan – setengah curhat juga isinya, yaitu tentang realitas yang tidak sesuai dengan harapan. Pasti sobat sekalian seringkali mengalami hal ini. Kita sudah punya planning yang matang ketika hendak mengerjakan sesuatu, akan tetapi eksekusinya malah berantakan dan hasilnya justru di luar perkiraan. Hal itulah yang saya alami beberapa waktu terakhir ini.

Saya merasa, apa yang saya rencanakan dan apa yang saya lakukan tidak selaras. Semua yang saya rencanakan tidak berjalan seperti apa yang saya harapkan. Padahal, saya sudah berusaha sebaik mungkin sesuai dengan kapasitas saya. Jujur, saya kemarin dalam kondisi yang berantakan hingga membuat saya kembali ke jurang lama saya, yaitu depresi dan sangat tertekan. Saya merasa sangat tidak berguna sebagai seorang manusia.

Saya sadar, realitas kadang terlalu pahit untuk diterima. Realitas membanting saya dengan cukup keras. Hal itu membuat saya merenung dan berpikir cukup dalam. Meskipun realitas itu sangatlah pahit untuk saya hadapi, pelan-pelan saya mulai menerimanya dengan legowo. Memang seperti itulah kehidupan. Tidak semua hal dapat berjalan mulus seperti yang kita rencanakan.  Sebagus apapun hal yang kita rencanakan, tetap saja ada hal-hal di luar kehendak kita yang seringkali menjadi hambatan atau distorsi dari sebuah perencanaan. Analoginya seperti duri di tengah jalan yang membuat ban kita kempes ketika asik-asiknya menikmati perjalanan.

Realitas-realitas pahit semacam itu sangatlah lumrah kita temu dalam kehidupan. Saya juga teringat quotes unik dari salah satu artikel Mojok bahwa hidup itu memang humble dan bajingan, seperti cinta yang bertepuk sebelah tangan, gagal masuk universitas favorit, dan hal-hal lain yang seringkali menyakitkan untuk kita terima. Hal-hal semacam itu tidak dapat kita tolak. Namun,  permasalahannya sekarang adalah tergantung cara pandang kita terhadap hal itu.

Kalau kita menyikapi realitas pahit itu dengan pandangan negatif, tentu kita akan menghabiskan waktu demi waktu dengan depresi dan sedih yang tak berkesudahan. Kita jadi gak nafsu makan, susah tidur, males mandi, dan kadang kala kita juga sempat berpikir untuk mengakhir kehidupan. Namun, ketika kita memandang realitas yang pahit itu dengan cara yang positif, saya percaya bahwa kita dapat memetik sebuah pelajaran yang bermakna dari hal tersebut. Dari situ kita dapat belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan juga bermental tangguh. Semakin banyak benturan, maka semakin kuat pulalah mental kita sebagai seorang manusia.

Barangkali, itu saja yang dapat saya bagikan dalam tulisan saya kali ini. Intinya, jangan sedih dan depresi berkepanjanga ketika realitas itu tidak sesuai dengan harapan. Jadikan itu sebagai pelajaran dan impuls yang positif untuk perbaikan pribadi kita di masa mendatang.
Akhir kata, semoga tulisan saya ini bermanfaat buat kalian. Thanks sudah menyempatkan mampir dan membaca tulisan saya ini.

“Ketika kau berada pada titik nadir, 
percayalah bahwa kehidupan itu tak selamanya getir.”
MogiMogy

Mencari Pasangan yang Cocok Itu Seperti Mencari Sepasang Sepatu


source: pixabay

Menginjak dewasa, kita pasti akan mulai berpikir untuk menjalin komitmen dengan seseorang. Kita akan mulai serius menata sebuah hubungan dengan seseorang untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius. Kita pasti juga mulai bosan dengan hubungan yang tidak jelas arahnya.

Namun, kadangkala mencari pasangan yang cocok dengan kita itu tidak semudah menikmati senja sambil menyeruput kopi di sore hari. Seringkali kita bertemu dengan seseorang yang barangkali kita suka, tetapi itu hanyalah sementara. Kemudian, kita baru menyadari bahwa dia bukanlah orang yang benar-benar kita cari. Alhasil, kita memilih untuk sendiri terlebih dahulu.

Meskipun dalam pencariannya itu tidaklah mudah, masing-masing orang pasti memiliki kriteria tersendiri dalam mencari pasangan. Mungkin sebagian dari kita khususnya yang cowok pengen punya pasangan yang cantik, bisa masak, pinter, dan lain-lain. Yang cewek pengen punya pasangan yang cakep, tajir, soleh, dan punya tanggung jawab. Apapun kriteria yang kita harapkan, menurut saya ada satu kriteria yang paling penting, yaitu masalah kenyamanan. Yup, nyaman diajak ngobrol dan dapat memahami kita dengan baik.

Saya pernah berdiskusi dengan salah seorang teman tentang hal ini. Menrut kami, mencari pasangan yang cocok itu ibarat mencari sepasang sepatu. Mungkin kita suka dengan sepatu yang mahal dan memiliki desain yang sangat menawan, tetapi ukuran sepatu itu tidak sesuai dengan ukuran kaki kita. Apabila kita memakai sepatu itu, bisa jadi kulit kaki kita akan lecet karena tidak muat. Atau mungkin sepatu itu malah menghambat kaki kita untuk melangkah. Tentu, kita tidak nyaman bukan dengan sepatu semacam itu.

Di satu sisi, mungkin ada sepatu yang harganya tidak terlalu mahal dan desainnya biasa-biasa aja, tetapi kita nyaman memakai sepatu tersebut. Dengan sepatu itu, kita bisa bebas berlari kemanapun selaras dengan hembus angin yang sejuk. Sepati itu tidak membuat kaki kita terluka, malah melindungi kita dari duri di sepanjang jalan. Dengan sepatu itu, kita bisa melompat lebih tinggi mengejar impian kita,

Barangkali, analogi tentang sepatu itulah yang tepat untuk menggambarkan bagaimana mencari pasangan yang cocok itu. Kunci yang paling penting adalah kenyamanan. Kita nyaman dengan dia dan dia nyaman dengan kita. Kenyamanan yang tidak kita temukan pada seseorang kecuali pada dia.

Sedikit cerita, saya pernah menemukan seseorang seperti sepatu yang saya gambarkan di atas. Ibarat sepatu, dia ini cukup cantik dan nyaman digunakan – dalam hal ini, nyaman diajak ngobrol. Dia seolah memahami dunia saya dan memahami jalan pikiran saya. Dia yang dulu sering menginspirasi saya dan menciptakan mimpi-mimpi baru dalam hidup saya. Entahlah, saya merasa begitu cocok dengan dia. Namun, saya tidak pernah tahu apakah dia juga merasa nyaman dengan saya. Bersama dia, saya tidak takut melangkah. Bersama dia, saya sempat yakin bahwa hidup akan terasa mudah dan lebih indah. Intinya, bersama dia saya memiliki segalanya.

Sayangnya, waktu itu kami harus berpisah dan menjalin hubungan yang putus nyambung dan tidak jelas arahnya kemana. Selepas itu, saya berusaha mencari dan menemukan sepatu-sepatu lain yang menurut saya bagus, tetapi tidak bisa memberikan kenyamanan yang berarti. Hingga pada akhirnya, saya baru menyadari satu hal bahwa hanya dialah sepatu yang mampu memberikan kenyamanan bagi saya dalam melangkah. Sampai saat ini, dia pun masih cukup berarti bagi saya.

Ya, mungkin itu sedikit cerita mengenai hubungan antara mencari pasangan yang cocok dan juga sepasang sepatu. Sekian dulu yang bisa saya share kali ini. Semoga tulisan ini dapat menginspirasi kalian sobat. Thanks.

Cerpen - Hatiku Tertinggal di Heidelberg

source: pixabay.com

Es war an einem Abend, als ich kaum 20 Jahr. Da küsst ich rote Lippen[1].

Sepenggal lirik lagu itu terkenang di kepalaku. Rentetan memori lama silih berganti mampir. Secangkir kopi dan sebatang rokok kretek kini menemaniku duduk sendirian di teras depan rumah sembari menikmati hujan yang turun sangat deras. Hawa dingin kali ini mengingatkanku pada dinginnya butiran salju yang turun pada saat itu. Ah, aku mendadak teringat kecupan hangat dan rasa wien pada malam itu. Kecupan dari dia si perempuan bermata biru yang bernama Rose. Sudah hampir sepuluh tahun aku tidak bertemu dengan dia.

Rose ialah teman kuliahku di salah satu universitas tertua di Jerman, tepatnya di Heidelberg[2]. Ia adalah perempuan Rusia yang memiliki rambut pirang kemerahan. Tentu saja, dia cantik seperti bule-bule Eropa pada umumnya. Tubuhnya ramping dan seringkali membuat darahku berdesir ketika berjumpa dengan dia. Namun, yang paling khas dari dia adalah matanya yang sebiru langit serta bibirnya yang selalu merah merona.

Ich mag deine Augen[3],” kataku setiap kali bertemu dengan dia. Dia hanya tertawa ketika aku berkata demikian. Katanya, mata itu tidaklah spesial. Katanya lagi, banyak perempuan-perempuan Eropa yang memiliki mata yang jauh lebih cantik darinya. Namun bagiku, mata itu sangatlah cantik dan selalu membuatku betah menatapnya lama-lama.

Kami berdua kerapkali berdiskusi bersama mengenai tugas-tugas kuliah di sebuah Kneippe[4] dekat jantung kota Heidelberg. Ia sangat cerdas dan analisisnya selalu mendalam sehingga membuatku kelimpungan. Apalagi ketika dia sudah membahas mengenai teori-teroi Karl Marx tentang tatanan sosial dan kehidupan politik yang menurutku rumit. Aku sering mengangguk-angguk berlagak mengerti, padahal kata-kata yang dia ucapkan itu merupakan kata-kata yang rumit nan sulit dan tidak semua orang mampu mengerti.

“Kau paham penjelasanku?” katanya setelah selesai bicara sembari menegak segelas bir dari Italia. Rose merupakan peminum berat. Anehnya, dia tidak pernah mabuk meski sudah minum berkali-kali.
“Aku tak terlalu paham, tapi penjelasanmu memberiku inspirasi,” kataku sambil terkekeh. Tak lupa, aku menghisap rokokku sebagai penghangat tubuhku. Berhubung salju yang turun waktu itu agak lebat.
“Kau tidak minum bir?” tanyanya lugas setiap kali kami bersama. Aku menggeleng.
“Aku takut dosa,” jawabku singkat. Dia pun menertawakan kepolosanku. Meskipun demikian, dulu aku sempat sekali merasakan minuman haram itu. Waktu itu, aku menegak satu tegukan miras oplosan bersama anak-anak kampung karena peenasaran. Pulang-pulang, aku langsung dihajar bapakku karena ketahuan mabuk. Sejak saat itu aku kapok dan bertobat untuk tidak minum lagi.

Di samping penganut Marxisme garis lurus, Rose juga seorang agnostik dan selalu mempertanyakan eksistensi agama. Jauh berbeda denganku, yang walaupun banyak dosa tapi masih ingat Tuhan. Dia suka berteori dan mendiskusikan tentang ritus dan segala seluk beluk keagamaaan yang menurutnya rumit dan tidak logis. Pemikirannya memang gila dan terkadang aku takjub bahkan sempat terbawa ke dalam dunianya.

Sepulang dari kafe, kami berdua biasanya pulang bersama dan menaiki kereta bawah tanah terakhir menuju rumah sewa kami yang lokasinya berdekatan. Rose selalu menawariku untuk menginap di kamarnya, lalu berpose manja sembari menggodaku. Sejujurnya tawaran itu menarik bagi setiap lelaki, tapi bagiku itu hanya candaan saja. Mana mungkin aku menghabiskan malam bersama dia. Sekali lagi, aku takut dosa.

***          
Rose, vertraust du auf Liebe[5]?” kataku penasaran ketika berada di jembatan tua kota Heidelberg saat itu. Ia terdiam dan menatapku dalam-dalam. Kedua mata kami bertemu seolah ia ingin menjawab pertanyaan itu hanya dengan tatapan matanya.
            
“Aku tidak percaya cinta. Pertanyaanmu sungguh menggelikan,” ia tertawa keras. Aku diam dan larut pada tawanya. Sejenak aku merenung lalu bertanya lagi.            
“Tapi aku sering melihatmu bersama lelaki lain,”            
“Ah, itu hanya untuk kesenangan saja,” katanya berkilah. Katanya lagi, hubungan itu rumit dan cinta hanyalah sebuah pemikiran absurd manusia yang dipenuhi imajinasi. Sedangkan bagi dia, imajinasi adalah pembunuh nalar logis yang membuat manusia lebih senang hidup di alam mimpi daripada di alam kenyataan.
            
Kami terdiam sejenak, lalu mengamati perahu kecil pemancing ikan yang melintas di sungai Neckar. Salju di jalanan mulai menghilang, pertanda musim semi hendak menyapa kembali. Rose kemudian membuka pembicaraan lagi, membicarakan kehidupan. Katanya, hidup itu singkat dan fana, jadi harus dinikmati sebisa mungkin. Meski dia tidak percaya cinta, dia tidak menyalahkan orang-orang yang memiliki pemikiran bahwa hal-hal abstrak seperti cinta, malaikat, akhirat dan Tuhan itu ada. Namun, ia memilih mempercayai entitas konkrit yang bisa dia lihat dengan kedua matanya. Aku menghormati pemikirannya, seperti dia menghargai pemikiran serta keyakinanku.
            
“Lalu, mengapa kau berteman denganku? Lelaki biasa yang mungkin bisa kausebut kuno,” kataku penasaran.
“Aku suka orang-orang jujur dan polos sepertimu, apalagi kau ramah dan enak diajak bicara. Tidak ribet dan banyak argumen seperti kenalanku yang lain,” katanya. Kalau kupikir ulang, kami seperti kegelapan dan cahaya. Dua hal yang berlainan tapi tidak dapat dipisahkan, tapi juga tak dapat disatukan.
“Berarti, kau tidak punya rencana untuk menikah jika kau tidak percaya cinta?”
            
Ia menggeleng lalu membuka suara, “Menikah itu merepotkan. Seperti yang sudah pernah kukatakan, aku tidak suka terikat dengan sebuah hubungan. Menikah itu berarti membunuh kebebasanku sebagai seorang perempuan.”
            
Kami pun mengakhiri perbincangan sederhana itu, kemudian kami berjalan-jalan sebentar di sebuah kastil dengan gaya gotik khas abad pertengahan. Lalu, kami menelusuri jalanan di jantung kota Heidelberg serta membeli beberapa roti untuk persediaan makanan yang mulai menipis.
***
Seperti pepatah bilang, pada setiap pertemuan selalu ada perpisahan. Aku sudah menyelesaikan studiku dan hendak kembali ke Indonesia. Ia pun rencananya akan kembali di Rusia dan meniti karir di sana. Rose sendiri sudah cukup lama tinggal di Jerman dan mendadak ia pun rindu dengan kampung halamannya. Sebelum berpisah, Rose mengajakku minum bersama di kafe biasa. Ia ingin menghabiskan detik-detik terakhir kami di kota Heidelberg.
            
Tidak seperti biasanya, Rose menawariku segelas wine. Namun kali ini, tanpa alkohol. Itu adalah salah satu merk wine terkenal dari Sachsen, salah satu negara bagian Jerman yang menghasilkan anggur terbaik.
            
“Tenang, wine ini tidak memabukkan. Kau harus mencobanya sekali, sebelum pulang ke negaramu,” Rose membujukku sembari tersenyum. Entahlah, ia terlihat sangat cantik malam itu. Aku pikir, dia adalah Rose yang berbeda. Penampilannya lebih rapi dan anggun jika dibandingkan dengan biasanya.
            
“Kau tidak bohong, kan?” candaku meledek. Tawanya pecah dan agak mengganggu pelanggan di meja sebelah kami.
“Tentu tidak. Aku hanya ingin malam ini menjadi malam yang penuh kenangan sebelum berpisah denganmu,”
            
Kami menghabiskan malam itu dengan penuh tawa sembari mengenang masa-masa yang sudah kami lewati. Tak lupa, kami juga membicarakan profesor galak yang kerapkali mempersulit tugas akhir kami. Tanpa terasa, perbincangan kami malam itu berlangsung lama hingga kafe itu hendak tutup. Kami pun beranjak meninggalkan kafe itu dan pulang.
            
Entahlah, aku merasa waktu itu waktu seolah berjalan agak lambat dan sunyi pun mampir merangkul kami berdua. Di tengah perjalanan pulang, Rose tiba-tiba menghentikan langkah kakinya. Suasana jalanan itu agak sepi dan angin malam berhembus cukup dingin. Kami persis berdiri bersisian dan hanya ditemani lampu jalan yang pendarnya remang. Ia tiba-tiba merapatkan tubuhnya ke arahku. Kemudian tanpa ba-bi-bu, ia mencium bibirku. Aku tidak kuasa menolaknya. Jantungku berdegup kencang dan darahku berdesir. Sungguh ciuman liar yang baru pertama kali kurasakan.
            
“Senang mengenalmu. Auf wiedersehen[6]!” Rose pun akhirnya mengucapkan kalimat perpisahan itu. Sebuah kalimat yang sejujurnya aku benci. Ia kemudian berlalu begitu cepat. Aku berdiri mematung, lalu melambaikan tangan ke arahnya.
“Auf wiedersehen!”

Kami benar-benar berpisah.
***
Aku akhirnya pulang ke Indonesia dan mendapat pekerjaan di salah satu perusahaan internasional di Jakarta yang bergerak di bidang ekspor dan impor. Semenjak itu, aku tidak tahu kabar tentang Rose. Aku tidak bisa lagi menghubungi dia. Alamat e-mail serta nomor teleponnya sudah tidak aktif. Namun, gambaran tentang dia masih membekas kuat di kepalaku. Apalagi ciuman liarnya pada malam itu.

Dan yang paling membuatku penasaran, ada relung kosong yang ada dalam dadaku. Entahlah, aku merasa ada sesuatu yang hilang dari dalam diriku. Satu lagi yang samar dalam ingatanku, aku melihat kedua mata biru itu menangis malam itu. Sampai sekarang, aku masih ragu, apakah makna dari ciuman Rose malam itu? Mungkinkah kegelapan itu kini sudah menemukan cahaya?

Cerita ini terinspirasi dari lagu 
Ich hab mein Herz in Heidelberg verloren  karya Neubach dkk*




[1] Sepenggal lirik dari lagu “Ich habe mein Herz verloren” karya Neubach dkk. Secara harfiah lagu ini bermakna aku kehilangan hatiku di Heidelberg atau bisa juga dimaknai aku mencintai Heidelberg.
[2] Salah satu kota otonom yang merupakan bagian dari kota Bayern Wütemberg, negara bagian Jerman.
[3] Aku menyukai kedua matamu
[4] Nama untuk bar dalam bahasa Jerman. Tempat orang menghabiskan waktu bersama baik untuk bermain atau sekadar minum-minum.
[5] Apakah kau mempercayai cinta
[6] Sampai jumpa lagi

Cerpen - Menanti Cinta di Seberang Pulau


source: pxhere.com

Kapal pesiar itu tengah berlayar melewati ombak laut yang tenang menuju negara barat. Orang-orang kerap menyebut kapal pesiar itu sebagai  kapal para bangsawan. Maklum, kapal itu dibuat oleh insinyur terbaik dari Jerman dengan menggunakan mesin paling canggih pada zamannya serta dilengkapi fasilitas terbaik, seperti kamar mewah dan juga restoran berbintang. Di samping itu, penumpang dari kapal ini, mayoritas adalah saudagar-saudagar kaya yang hendak berdagang serta para priyayi dan bangsawan yang hendak merantau ke negara barat untuk sekadar melancong dan mencari hiburan.

Siang ini, kebetulan cuaca cukup cerah. Angin pun berhembus sepoi-sepoi menerpa rambut ikal seorang pemuda yang tengah duduk-duduk santai di dek kapal. Pemuda itu bernama Kuntjoro. Dia sedari tadi melamun menatap sepucuk surat yang masih terbungkus rapi. SuratI itu berasal dari perempuan yang dicintainya, Kinasih. Salah seorang buruh angkut di dermaga Tanjoeng Harapan menghampirinya lalu memberikan surat itu. Katanya, Kinasih tak bisa menemuinya secara langsung. Katanya lagi, surat itu adalah surat terakhir yang dapat dia tulis untuk Kuntjoro.

Pasti surat itu akan terasa sangat menyakitkan, batin Kuntjoro dalam hati.

Didekapnya surat itu kuat-kuat. Seolah-olah, dia tengah memeluk Kinasih yang kini berada nan jauh di seberang pulau sana. Dia masih belum memiliki kekuatan untuk membaca tulisan tangan kekasihnya. Padahal, surat itu adalah obat dari segala lara yang ditikamkan oleh kerinduan-kerinduan yang disimpannya erat. Namun sekeras apapun ia mencoba, keberanian itu tak juga muncul.

Lebih baik aku tidak tahu kenyataan, pikirnya.

Kuntjoro tahu, surat itu tidak akan membuat segala keadaan lebih baik. Surat terakhir yang ditulis oleh Kinasih sudah cukup membuat hatinya ngilu. Surat itu berisi tentang lamaran dari lelaki yang telah dipilihkan bapaknya Pak Subagjo kepada Kinasih. Lelaki pilihan Pak Subagjo adalah anak dari saudagar kaya kenalannya sewaktu masih kuliah di Belanda. Dengan pernikahan itu, tentu akan meningkatkan derajat sosial keluarga Kinasih, apalagi Pak Subagjo adalah salah satu pejabat daerah ternama di wilayahnya.

Pernah pula, Kuntjoro yang melarat itu berhadapan dengan bapak Kinasih yang tegas dan penuh wibawa. Tak perlu berdiskusi panjang lebar, Pak Subagjo langsung menatap sosok Kuntjoro yang kumal dan miskin itu dengan sinis. Katanya, Kuntjoro tidak akan pernah diterima di keluarga mereka. Katanya lagi, hanya para lelaki bermartabat dan punya harta yang boleh menikahi Kinasih.

Ya, masa-masa itu adalah masa yang masih kental dengan aturan perjodohan. Kinasih tak berani menolak lamaran lelaki pilihan bapaknya karena itu akan mencoreng wajah Pak Subagjo. Apalagi, lelaki yang akan melamar Kinasih juga sangat mencintai gadis itu, meskipun hati Kinasih tetap mencintai Kuntjoro.

Pasca penolakan menyakitkan itu, Kuntjoro pun berpamitan dengan Kinasih dan hendak merantau. Ia ingin merubah nasibnya yang awalnya hanya seorang buruh angkut di pelabuhan.

Suatu ketika, terdengar kabar bahwa sebuah kapal pesiar sedang mencari orang yang bersedia menjadi kelasi kapal. Tawaran itu cukup menarik bagi Kuntjoro. Ia pun mendaftarkan diri dan diterima bekerja. Menjadi seorang kelasi kapal bukanlah hal yang buruk bagi Kuntjoro. Gaji yang diterimanya jauh lebih baik dibandingkan pekerjaannya dahulu. Lumayan, ia mendapat beberapa koin Gulden tiap hari dan itu ditabungnya terus setiap hari. Rencananya, ia akan menggunakan tabungan itu untuk berdagang dan sebagai modal untuk melamar Kinasih.

Sayang, nasih tak berpihak pada Kuntjoro. Dua tahun setelah dia bekerja menjadi kelasi, ternyata berbuah kesia-siaan. Kekasih pujaannya yang berada jauh di seberang sana telah dipinang oleh lelaki lain. Ia kalah telak. Barangkali, ia memang tidak bisa berunding takdir yang tega merenggut kebahagiaannya.

Hari-hari terasa menyakitkan. Dia tidak terlalu bersemangat bekerja dan sering menghabiskan malam dengan meminum arak di dalam kabin. Kemudian, ia beranjak menuju dek kapal sembari menikmati angin malam yang dingin menusuk hingga ke persendian tulangnya. Ia luapkan amarah serta kekecewaannya akan nasib. Dia sering teriak ke arah laut seolah laut adalah kawan yang sanggup menampung segala keluh kesahnya. Namun, teriakan itu kemudian membaur dengan deru angin laut yang sengau.

Kesedihan hati Kuntjoro tentu membuat salah satu rekan kerjanya ikut prihatin. Salah satu rekan kerjanya yang merasakan kesedihan hati Kuntjoro adalah Bung Harjo. Pria itu memang sudah tidak lagi muda dan hampir memasuki kepala empat. Namun, dia sangat dihormati oleh para kelasi yang bekerja di kapal ini. Perjalanan hidup Bung Harjo yang penuh romantika membuat para kelasi takjub. Apalagi, Bung Harjo sudah pernah merasakan asam manis kehidupan.

Di kampung halamannya, dia memiliki keluarga kecil, seorang istri dan dua orang anak yang masih kecil. Perjuangan untuk menghidupi mereka tidaklah mudah. Keadaan ekonomi yang sulit ditambah kebutuhan hidup yang tinggi membuat Bung Harjo memilih merantau dan bekerja di kapal pesiar itu. Paling tidak, Bung Harjo ingin memberikan masa depan yang terbaik untuk anak-anaknya.

“Kau kenapa lagi, Nak?” tanya Bung Harjo sambil menyesap segelas kopi panas yang baru diseduhnya di dapur kapal.
“Sakit hatiku, Bung. Kekasihku hendak kawin dengan lelaki lain,”
“Usahaku sia-sia, Bung. Apakah nasib memang sekejam ini?”

Kuntjoro agak meninggikan suaranya. Lalu, dia pun menangis sejadi-jadinya sambil meneguk arak dalam botol yang hanya tinggal sedikit.

“Nak, kau masih muda. Janganlah kau terlalu bersedih karena cinta!”
“Bung, hanya dia, gadis yang paling kucintai. Mana mungkin aku bisa mencintai gadis lain?”
“Apakah gadis yang sangat kau cintai ini juga mencintaimu?”

Kuntjoro terdiam sejenak. Dia mengangguk pelan. Tatapan Kuntjoro menyiratkan tegas akan keyakinannya.

“Kalau begitu, kau tidak bisa terus-terusan seperti ini. Kau sekarang sudah seperti pria sekarat yang tidak punya harapan. Kau mabuk-mabukan setiap malam dan berteriak-teriak seperti orang gila. Nak, aku tahu, kehidupanmu saat ini menyakitkan. Namun, semenyakitkan apapun kehidupan, kau harus terus melangkah. Semua akan berbuah manis pada akhirnya,”

Bung Harjo menepuk pundak Kuntjoro dengan niat menyemangati tekad lelaki itu yang tengah meredup. Lalu, ia pun kembali menuju ke kabin dan membiarkan Kuntjoro merenungi nasihatnya dalam-dalam.
***
Semenjak malam itu, Kuntjoro mulai mengubah kebiasaannya. Nasihat dari Bung Harjo telah direnunginya dalam-dalam. Ia tidak ingin terlalu lama berlarut-larut karena cinta. Biarlah cinta itu ia pendam sendiri di lubuk hatinya yang terdalam. Ia yakin bahwa suatu saat nanti kebahagiaan yang dinanti itu akan datang menghampirinya.

Kuntjoro bekerja lebih giat dari biasanya. Dia ingin menyibukkan dirinya agar kenangan tentang Kinasih tidak terngiang-ngiang kembali. Bukankah rutinitas adalah salah satu cara ampuh untuk membunuh rasa sakit?

Suatu ketika, isu kurang mengenakkan menyeruak ke seluruh awak kapal dan penumpang. Isu mengenai perompak laut ganas tengah ramai diperbincangkan akhir-akhir ini oleh para penumpang. Dalam surat kabar terakhir dijelaskan bahwa salah satu kapal pedagang rempah-rempah telah dijarah dan para awak kapal sebagian tewas pasca melakukan pertempuran di tengah laut. Kapal yang dijarah itu pun berakhir karam di lautan.

Mendengar kabar itu, Kuntjoro sedikit was-was, apalagi banyak penumpang kelas menengah ke atas di kapal pesiar itu. Tentu kapal yang dinaikinya termasuk salah satu target jarahan yang menarik bagi para perompak itu. Namun, kapten kapal telah mengantisipasi hal tersebut dengan cara memperketat pasukan keamanan kapal sekaligus memperbanyak persenjataan. Para kelasi pun juga dilatih beladiri dan menggunakan senjata sebagai langkah preventif apabila sewaktu-waktu kapal dalam keadaan darurat.

Sesuai dengan isu yang beredar, para perompak itu menyamar sebagai nelayan biasa. Aksinya pun cukup terstruktur dan sistematis. Mereka biasanya berpura-pura sebagai nelayan yang kehabisan bahan bakar di tengah samudera dan meminta bantuan kepada kapal yang melintas di dekat mereka. Kemudian, masing-masing anggota perompak itu bertugas sesuai peran masing-masing.

Kapal pesiar yang dinaiki Kuntjoro pun sempat menjadi target para perompak bengis itu. Saat itu, laut tengah berkecamuk dan liar. Kapal pesiar itu tengah terombang-ambing di tengah badai dengan petir yang menggelagar. Bertepatan dengan itu, sebuah kapal misterius tiba-tiba mendekat. Para awak kapal itu sekilas tampak seperti nelayan biasa. Namun, wajah mereka nyatanya sangar-sangar dan tubuh mereka kekar-kekar.

Kapten kapal dengan strateginya yang tak kalah sistematis berhasil menghalau sekaligus melukai salah satu rekan perompak itu. Belum sempat para pelaut itu naik ke dek kapal dan melancarkan aksinya, mereka lebih dulu ditumbangkan oleh pasukan keamanan kapal dengan senapan canggih mereka. 

Kuntjoro saat itu juga turut membantu mengamankan para penumpang dan berjaga di dalam dek kapal dengan persenjataan seadanya. Untungnya, kapal itu selamat dari jarahan perompak bengis itu berkat kesiagaan kapten dan kerja sama seluruh awak kapal yang solid.
***
Tiga tahun telah berlalu pasca kejadian perompak laut itu. Kuntjoro pun telah naik tingkat dari yang awalnya seorang kelasi tingkat terendah menjadi kelasi tingkat dua. Gajinya pun ikut meningkat. Akan tetapi, Kuntjoro merasa bahwa dia ingin berhenti bekerja di kapal. Ia berniat untuk berdagang dan berwirausaha dengan uang yang telah ditabung selama beberapa tahun bekerja di kapal pesiar mewah itu. Lagipula, ada rindu yang kini timbul di hatinya. Rindu akan kampung halamannya yang jauh di seberang sana. Nan rindu pada gadis manis yang kini entah bagaimana kabarnya.

Kuntjoro pun memutuskan bahwa perjalanan ini adalah perjalanan terakhirnya. Pada pemberhentian berikutnya, tepatnya di pelabuhan Tanjoeng Harapan, dia ingin memulai kehidupan baru.

Kuntjoro mengemasi barang-barangnya sebelum pergi meninggalkan kapal. Namun, tiba-tiba fokusnya teralihkan pada sepucuk surat yang tergeletak di laci mejanya. Meski sudah bertahun-tahun berlalu, surat itu masih terbungkus rapi karena Kuntjoro tidak memiliki keberanian untuk membaca isi dari surat itu. Sepintas, dia jadi teringat masa-masa itu.

Perihal cintanya kepada Kinasih?

Kuntjoro masih belum tahu pasti.

Sejatinya, memang ada yang dirindukannya pada sosok Kinasih yang ayu nan manis senyumannya, tetapi gadis itu telah menjadi milik lelaki lain. Barangkali, mereka juga sudah memiliki buah hati. Hal itulah yang membuat Kuntjoro ragu karena dia tidak ingin merusak kebahagian pun martabat keluarga Kinasih apabila ia menemui gadis itu. Lagipula, apa yang akan orang-orang sekitar katakan jika seorang jejaka menemui gadis yang sudah menikah.

Hah, memikirkan semua itu malah membuat pikiran Kuntjoro kacau. Ia masih tidak tahu, bagaimana nasib akan menuntunnya.
****
Kapal pesiar yang dinaiki Kuntjoro merapat ke sisi dermaga. Para penumpang yang hendak naik dan turun bergantian silih berganti. Suasana dermaga Tanjoeng Harapan begitu ramai. Banyak yang lalu lalang, terutama para buruh yang menaikkan box-box kayu berukuran cukup besar.

Kuntjoro turun dari kapal setelah berpamitan dengan para rekan kerja sekaligus kapten kapal. Ia membawa tas gendong yang agak besar dan berisi pakaian serta sedikit cindera mata yang didapatnya dari beberapa negeri yang pernah dikunjunginya.

Tanjoeng Harapan memang selalu punya kenangan yang tak terlupakan bagi Kuntjoro. Kenangannya bersama Kinasih tempo dulu perlahan hadir dan kembali terngiang di ingatan. Mereka dulu sering bermain ke pelabuhan ini dan menghabiskan waktu bersama. Kuntjoro kembali mengenang kisah asmaranya bersama Kinasih sembari menyusuri dermaga, lalu menuju ke arah pantai.

Tanpa, kedua mata Kuntjoro tertuju pada seorang perempuan berdiri di dekat sebuah pohon nyiur sambil memandang ke arah lautan. Rambut perempuan itu tergerai dan melambai-lambai tertiup angin. Dengan pakaian khas kaum berada dan ditambah pula sebuah selendang adat yang terlilit di pinggangnya, perempuan itu terlihat tidak asing lagi di mata Kuntjoro.

Dadanya begitu deg-degan. Dia menjadi ragu dengan dirinya sendiri. Apalagi dia baru saja mendengar kasak-kusuk masyarakat di sekitar pelabuhan bahwa ada seorang janda kembang yang setiap seminggu sekali berdiri di bibir pantai dan memandang lautan. Meski simpang siur, katanya perempuan itu adalah perempuan yang kehilangan harapan karena suaminya meninggal karena sebuah tragedi di lautan.

Kuntjoro mencoba menguatkan tenaga dan mendekati sosok perempuan itu. Langkahnya pun terhenti dalam jarak beberapa meter saja. Kedua mata mereka bertemu dan waktu pun menjadi beku. Rindu yang selama ini tertahan kini telah terungkapkan.

“Kamu, apa kabar?” kata Kuntjoro setengah terbata-bata.
“Aku baik-baik saja, Mas,” jawab Kinasih lembut dengan mata yang berkaca-kaca. Tak lama kemudian, tangis perempuan itu pecah dan dia pun memeluk Kuntjoro untuk melepaskan segala kerinduan serta lara yang selama ini dipendamnya.
“Sudah sangat lama aku tidak mendapatkan suratmu, Mas. Aku pikir kau telah melupakanku,”
“Aku kira, kau yang telah melupakanku. Mendengar kabar perkawinanmu dengan lelaki pilihan bapakmu sudah cukup untuk menghancurkan keyakinanku, Dik,”
“Apa kau tidak membaca suratku, Mas?
“Untuk apa aku membaca suratmu jika tulisanmu itu malah membuat hatiku hancur, Dik?”

Kinasih perlahan melepaskan pelukannya lalu bercerita tentang pernikahan itu. Memang, meskipun dia menikah dengan lelaki lain, cinta Kinasih tetap untuk Kuntjoro. Dia menyampaikan segalanya melalui surat itu, tentang kesetiaan yang tetap dipegangnya teguh.

Mendengar pengakuan Kinasih, awalnya Kuntjoro tidak percaya. Kemudian, ia pun mengambil sepucuk surat yang masih terbungkus rapi itu untuk membuktikan kata-kata Kinasih. Dia menyobek amplop surat itu perlahan dan membacanya dengan khidmat. Lembaran surat itu terlihat agak lusuh dengan tinta hitam yang agak memudar.

Sejenak, Kuntjoro tahu bahwa Kinasih menulis surat itu dengan air mata. Air mata yang menjadi isyarat kesedihan bahwa dia tidak bisa menolak lamaran lelaki pilihan bapaknya, sekaligus isyarat bahwa dia tidak akan lagi bisa menemui Kuntjoro. Namun, apapun yang terjadi, Kinasih akan tetap mencintai Kuntjoro.

Seusai membaca surat itu, air mata Kuntjoro menetes membasahi pipinya.
“Lalu, dimana suamimu sekarang?”
“Dia sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Aku yakin, kamu sudah sendiri sudah tahu mengenai insiden perompakan kapal tempo lalu,”

Tiba-tiba, Kuntjoro jadi teringat koran yang sempat dibacanya pada saat isu perompakan itu muncul. Ternyata, suami Kinasih adalah salah satu awak kapal yang menjadi korban perampokan. Pasca kematian suaminya, Kinasih memutuskan untuk tidak menikah lagi dan memilih untuk menjalani kehidupan sebagai seorang janda. Ia pun sering berdiri di tepi pantai Tanjoeng Harapan dengan harapan bahwa suatu ketika Kuntjoro akan datang menemuinya. Atau paling tidak, ada kabar dari seseorang yang membawa sebuah berita tentang Kuntjoro.

Pada akhirnya, penantian itu berbuah manis, meskipun tahun demi tahun telah berlalu.  Dengan menggenggap segenap keyakinan, harapan, dan juga cinta, Kinasih berhasil melewati semua itu. Barangkali, keteguhan hati Kuntjoro juga yang membuat mereka berdua kini bisa bertemu dan bersatu kembali, meski dulu sempat tertunda karena takdir belum mengizinkan.

Mereka pun kembali berpelukan, lalu mengikrarkan janji sekali lagi sebagai sepasang kekasih.