Kumpulan Kata-Kata Galau

Hallo sobat, pada kesempatan kali ini saya ingin membagikan beberapa kata-kata galau buatan saya sendiri. Saya percaya, kalian yang sedang membaca artikel ini sedang galau karena memikirkan seseorang. Semoga dengan membaca kata-kata ini kegalauan kalian dapat sedikit terobati.

1.  Pertemuan kita adalah takdir

2. Sayangnya aku sudah tidak bisa lagi kembali ke masa lalu

3. Sekarang kau dan aku telah terpisah jauh

4. Karena kenangan bersamamu terlalu berharga

5. Ketika bertahan sudah tidak memungkinkan

6. Kadang kita menyesal karena semua sudah terlambat

7. Tapi aku belajar banyak hal dari kamu

8. Engkau bahagia, itu sudah cukup untukku

9. Karena kamu tidak mungkin kembali lagi

Copyright : MogiMogy
~ Terimakasih atas kunjungannya ~

Cerpen - Di Penghujung Waktu

wallpapersafari.com
Andaikan waktu dapat direset ulang, kembali ke titik awal dimana kehidupan bermula. Andai kata jika Tuhan menciptakan dia menjadi orang lain atau mungkin jika ia tidak pernah terlahirkan di dunia ini. Dia tahu, pengandaian itu hanyalah cuplikan kebahagiaan yang hanya bisa ia terka tanpa mampu direngkuhnya. Kebahagiaan yang semu itu harus sirna ketika mengetahui usianya yang hanya tinggal menghitung mundur waktu.
            
“Aku ingin hidup normal, Fer.” Ia mengeluhkan keadaan, kepalanya tersandar diatas pundak lelaki yang menemaninya berjuang melawan takdirnya.
            
Lelaki itu tahu, bukan satu atau dua kali kekasihnya mengeluhkan demikian. Tak terhitung, memorinya tak cukup baik untuk mengkalkulasikannya.
            
“Kamu jangan ngomong gitu. Kamu harus kuat, ini adalah jalan Tuhan yang harus kamu lewati.” Ujar lelaki itu menenangkan, kekasihnya tak berbicara sepatah katapun. Perempuan itu tahu akan takdir yang sedang dihadapinya. Kenyataan bahwa ia mengidap leukimia stadium akhir membuatnya pesimis menjalani kehidupan.

Tanpa dukungan kedua orangtuanya beserta lelaki yang kini terduduk disampingnya, mungkin ia tak punya cukup alasan untuk berjuang melawan takdir yang menghantuinya.

“Kita pulang yuk. Nanti kamu dicari mama lho.” Ujar lelaki itu lembut, sedikit melepaskan genggaman erat Sasha, kekasihnya.

“Sebentar lagi, aku ingin melihat detik-detik terakhir terbenamnya matahari. Barangkali ini adalah sunset terakhir dalam hidupku.” Sasha mengiba agar lelaki itu berkenan menemaninya beberapa menit lagi, hanya beberepa menit.

Lelaki itu mengangguk, mereka menanti matahari mencium kaki langit dari rooftop yang dipermak menjadi sebuah kafe. Tempat yang tepat untuk menikmati pesona sunset di kota yang dipadati gedung-gedung perkantoran.

“Fer, kalo aku udah nggak ada, kamu masih tetap mengingatku nggak? Seperti halnya detik ini, dan juga kenangan-kenangan kita yang lain.”

Gelap mulai menyapu senja, lembayungnya mulai pudar perlahan. Fery membisu, ia tak kuasa membayangkan kemungkinan-kemungkinan terburuk.

“Kamu ngomong apa, Sha? Jangan pesimis, aku yakin kamu pasti sembuh.” Dengan segenap hati, ia menyemangati Sasha. Selang beberapa waktu sesuai matahari terbenam, Fery mengantarnya pulang.

***
      
Mungkin sudah yang keenam kali Sasha menjalani kemoterapi.  Ia lelah menjalani ini semua, tapi apa mau dikata, ini adalah salah satu cara untuk melawan penyakitnya. Meskipun tidak seratus persen menjamin bahwa sel kankernya menghilang, tapi minimal dengan terapi ini sel-sel kankernya dapat terbunuh.
            
Efek kemoterapi berdampak terhadap fisiknya, rambutnya pelan-pelan mulai rontok. Nafsu makannya juga terkadang menurun. Mamanya yang begitu perhatian dengan Sasha membujuknya untuk makan meski hanya sesuap. Jika tidak, keadaannya bukan justru membaik tapi malah sebaliknya.
            
“Maafin aku, Ma. Sudah bikin Mama khawatir kayak gini.” Ujar Sasha, ia akhirnya menerima suapan dari mama tercintanya.
            
Mamanya meneteskan airmata mendengar kalimat Sasha, jika mungkin Tuhan memperkenankan maka beliau rela bertukar posisi dengan anak kesayangannya. Tak ada satupun Ibu yang rela melihat anaknya menderita, tak ada satupun. Sedikit demi sedikit, makanan di piring yang di pegang mamanya tak bersisa lagi.
            
“Kamu harus cepat sembuh, Sha. Mama sayang sama kamu.” Mamanya mencium kening Sasha. Selepas menghabiskan makanannya, ia mengambil sebutir pil dari laci dekat tempat tidurnya. Lantas meminumnya perlahan dengan air putih. Mamanya kembali ke dapur seusai memastikan bahwa Sasha telah meminum obatnya.
            
Dari balik pintu terlihat Fery yang dengan tampannya membawa sebuket bunga anyelir warna merah muda. Ia perlahan mendekat ke arah Sasha yang hendak berbaring di tempat tidurnya. Ia tersenyum, meletakkan bunga anyelir itu di dekat bantal tidurnya.
            
“Gimana kabarmu hari ini, Sha?” Pertanyaan yang selalu sama diutarakan Fery, untuk memulai pembicaraan.
            
“Nggak ada yang berubah, malah yang ada lebih buruk.”
            
“Tapi ada satu hal yang nggak berubah? Ayo tebak?”
            
Sasha berpikir sejenak, ia tertawa lugu karena tak ada satupun jawaban yang terlintas dibenaknya.
            
“Kecantikan kamu dan juga perasaanku kepadamu, Sha.” Ujar Fery yang dalam sekejap merekahkan senyuman dari gadis yang mulai memudar dari kehidupannya.
            
“Itu bukan satu hal, tapi dua hal.” Sasha menyergah, mereka berdua lantas tertawa. Seolah tak terjadi apa-apa. Bagi lelaki itu, tiada hal terindah untuknya selain senyuman gadis tersebut.

***
            
Di sebuah kafe, Fery berkumpul bersama teman-temannya. Mereka bercerita banyak hal, mulai dari pekerjaan hingga menyangkut urusan pribadi semisal pacar.
            
Salah seorang temannya dengan antusias menceritakan kekasihnya yang seolah-olah sempurna bak bidadari meski itu dalam perspektifnya sendiri. Temannya yang lain tertawa menimpali tak mau kalah.
            
Fery hanya diam saja, memasang wajah ketus seolah tak mau tau. Baginya, pembicaraan ini tak ada maknanya sama sekali.
            
“Bro, kau nih daritadi diam saja, tak suka kau lihat teman kau bahagia, hah ?” Cetus salah seorang temannya. Belum sempat menjawab, temannya yang lain menimpali.
            
“Ah lupa aku kalau pacar kau mah begitu, pantas kau murung. Kenapa nggak cari yang lain bro, gue punya banyak kenalan cewek nih. Lebih semlohai ketimbang gadis kau tuh yang pesakitan ?” Kalimat terakhir temannya merupakan tamparan keras bagi Fery. Ia lantas beranjak dari tempat duduknya, merapikan barangnya lantas pergi meninggalkan obrolan yang tak ada gunanya tersebut.
            
Anto, salah satu teman akrab Fery mencoba menahannya sebentar. Ia meminta maaf atas ucapan kasar teman-temannya yang lain. Sempat ia memarahi tingkah mereka yang kelewat batas. Namun, Fery terburu-buru pergi.
            
“Bro, tunggu bentar.” Sembari berlari-lari, Anto berteriak keras memanggil Fery.
            
Lelaki itu tak menoleh, ia masih membendung kemarahannya. Anto menambah kecepatan berlarinya, ia menepuk pundak Fery sedikit keras tepat saat ia menyentuh gagang pintu mobilnya.
           
“Kita semua minta maaf, Bro. Mereka nggak serius, kita tau apa yang kau..”
            
“Bangsat kalian semua, lo nggak ngerti keadaan Sasha. Terserah kalian mau ngebacot kayak apa, aku nggak akan pernah ninggalin dia. Titik.” Amarah Fery sempurna terluapkan, ia dengan cepat masuk ke mobilnya lantas meninggalkan Anto.

Baca juga: Cerpen - Meneguk Secangkir Kenangan

***

Telepon berdering keras, Fery terbangun dari tidurnya. Pagi masih belum sempurna, ia sedikit malas beranjak dari tempat tidurnya.

Mama Sasha, beliau yang menelpon sepagi ini. Ada apa gerangan?

Kantuknya mendadak hilang, kepalanya dipenuhi beragam tanda tanya.

“Halo, dengan Fery. Keadaannya darurat, Sasha sedang kritis di rumah sakit. Kamu bisa kesini sekarang?” Suara perempuan setengah baya itu terdengar berat. Fery terdiam, ia segera mengganti pakaiannya lalu bergegas menuju rumah sakit yang disebutkan di telepon tadi.

Dari tempat parkir rumah sakit, ia segera berlari menuju resepsionis. Menanyakan kamar tempat Sasha dirawat. Tanpa sempat menghela nafas, ia langsung berjalan cepat menuju kamar yang disebutkan oleh staff di resepsionis tadi.

Kedua orangtua Sasha tampak khawatir, ibunya terduduk lemas bersandar di sebuah bangku. Sedangkan, ayahnya berjalan mondar-mandir sembari menangkupkan kedua tangannya didekat bibirnya. Merapal doa-doa, berharap semoga tidak terjadi apa-apa dengan Sasha.

“Sasha kenapa Om?”

Dengan nada penuh kecemasan, ayah Sasha menjelaskan bahwa tadi ketika bangun tidur, Sasha menjerit begitu keras, ia seperti menahan sakit yang luar biasa. Ketika mereka sampai di kamar Sasha, ia sudah pingsan. Tak butuh waktu lama, orangtuanya segera membawa Sasha ke rumah sakit.

Lelaki itu menatap kekasihnya dari luar. Di dalam ruangan itu Sasha berjuang sendirian, selang infus, alat pendeteksi jantung, lengkap menemaninya. Ia tahu bahwa leukimia yang diderita Sasha sudah mencapai stadium akhir, tapi ia tak pernah menyangka akan secepat ini. Ia masih ingin menjalani waktunya dengan Sasha.

“Tuhan, jangan kau ambil dia secepat ini. Aku ingin menjalani waktu dengannya, sekali lagi saja. Aku mohon. Bila mungkin, aku rela menukar usia yang kumiliki ini untuknya.” Gumamnya dalam hati, pintanya kepada Tuhan.

Suara pintu ruangan tempat Sasha dirawat terdengar berdesit. Dokter dan juga beberapa perawat keluar dari ruangan itu. Sebuah kabar baik, meski sempat melewati masa kritis tapi itu tidak sampai merenggut nyawanya.

“Tapi ada satu hal yang harus saya sampaikan, kalian semua harus siap dengan kemungkinan terburuk. Mungkin, waktu anak Bapak tidak akan lama lagi.” Ujar dokter tersebut mengakhiri kalimatnya tanpa menyebut berapa lama waktu yang Sasha miliki. Vonis dokter tersebut seperti menghunjam perasaan Fery dan juga kedua orangtua Sasha.

Mereka semua tahu hari itu pasti akan datang. Hari dimana mereka melihat Sasha untuk yang terakhir kalinya. Mereka percaya bahwa Tuhan menyayanginya, maka dari itu Dia mengambil nyawa hamba-Nya terlebih dulu.

Fery berjanji, ia akan menemani setiap detik-detik terakhir sebelum Sasha menutup kedua matanya untuk selama-lamanya. Sebelum ia menuju keabadian.

***

Keesokan hari, Sasha tersadar dari tidur lelapnya. Ia membuka perlahan kedua matanya, tepat disampingnya ia melihat Fery yang tertidur tanpa sedetikpun melepaskan genggaman tangannya dari tangan Sasha.

“Fer..Fer.”

Suara lembut itu membangunkan Fery. Ia bahagia, karena ketika ia membuka mata yang ia lihat gadis pujaannya itu telah siuman.

“Iya, Sha. Syukurlah, kamu sudah sadar?”

“Aku takut, semalam aku bermimpi dalam tidurku. Aku melihat sepasang merpati, dimana salah satu merpati itu diam tak bergerak. Merpati yang satunya mematuk-matuk tubuh pasangannya berharap mereka bisa terbang bersama lagi.”

Fery terhenyak mendengar pengakuan Sasha tentang mimpinya. Mungkinkah itu suatu pertanda untuknya? Dia tak ingin memikirkan arti mimpi tersebut, yang terpenting untuk saat ini Sasha sudah sadar.

“Sudah jangan terlalu di pikirkan. Kamu lapar kan? Sebentar ya, aku panggil suster untuk membawakanmu makanan.” Belum juga Fery beranjak, tangannya tertahan oleh genggaman Sasha yang tak terlalu kuat. Keduanya bertatapan.

“Aku mau kamu disini, Fer. Jangan pergi, temani aku. Aku sayang kamu.”

Suara lirih Sasha meluluhkan hati Fery, ia kembali mendekat di pembaringan Sasha. Ia genggam tangannya kembali. Lebih erat dari sebelumnya. Fery percaya jika terkadang genggaman itu mampu menenangkan hati seseorang.
             
Mereka berbincang ringan, melepas rindu untuk beberapa saat. Meski Sasha hanya koma satu hari, tapi bagi Fery itu adalah waktu yang lama untuk ia lewati sendirian. Einstein pernah berteori tentang hukum relativitas waktu, ia berdalih jika waktu di alam semesta ini tidak konsisten atau stagnan. Hukum itu mungkin juga berlaku untuk orang yang saling jatuh cinta, juga tentang rindu yang sedetik pun ibarat satu hari ketika tak kunjung terobati.
            
“Sebentar Sha..”
            
Fery mengeluarkan handphone dari tasnya. Melihat benda itu, Sasha sedikit heran.
            
“Selamat pagi, apa kabar dunia? Detik ini, aku sedang bersama perempuan tercantik dan terkuat didunia ini. Aku mencintainya, tak terhitung jutaan waktu yang telah aku habiskan untuk dia. Aku tahu, waktunya tidak lama lagi, maka dari itu aku berjanji untuk selalu ada untuknya hingga di detik terakhir, di penghujung waktu sebelum ia menutup mata untuk selamanya.” Sedikit meratap ia menyusun kalimat demi kalimatnya.
            
Lelaki itu memainkan kamera handphone-nya, mengeluarkan segala resah dan gundah. Ia menahan airmatanya, ia tetap tersenyum untuk Sasha. Ia hanya ingin mendokumentasikan kenangan-kenangan terakhir sebelum Sasha pergi. Ia mengarahkan handphone-nya tepat didepan Sasha.
            
“Begitupun aku. Tuhan, aku begitu mencintai lelaki yang kini ada didekatku. Jika memang ini adalah kebersamaan terakhir kita, aku hanya berdoa semoga cerita ini kekal untuk selamanya.” Sasha tersenyum sembari mengusap bulir airmata yang menetes di pipinya. Wajah pucat itu kembali mengumbar senyum dalam sekejap.
            
Mungkin durasi yang terekam dalam video itu tak terlalu panjang. Tapi bukan itu yang terpenting, melainkan makna yang tersimpan dalam setiap detik yang ada didalam video singkat itu.
            
Tak berapa lama, kedua orangtua Sasha datang. Fery pamit kepada mereka, membiarkan keluarga itu bercengkerama dalam kehangatan. Ia tersenyum kepada Sasha, lantas pergi meninggalkan ruangan tersebut. Ia janji besok akan kembali lagi menjenguk kekasihnya tersebut.

***
            
Keesokan hari, ketika Sasha membuka mata ia tak melihat tanda-tanda kehadiran lelaki yang dicintainya tersebut. Ia hanya melihat  sebuket bunga anyelir dan sebuah surat warna merah muda tergeletak di atas meja kecil didekat ranjangnya.
            
Tanpa perlu menebak, ia tahu jika bunga dan sepucuk surat itu dari kekasihnya. Ia menyobek sampul surat tersebut lantas membaca isi dari surat tersebut.
            
Dear Sasha

            Selamat pagi, maaf hari ini aku tidak bisa menjengukmu. Lewat bunga anyelir ini aku menyampaikan permintaan maafku kepadamu. Aku tak pandai berkata-kata Sha, apalagi bersajak, tulisanku di surat ini pun hambar. Kamu jangan tertawa ya! Aku selalu berdoa, semoga Tuhan memberikan kebahagiaan disetiap harimu.
             
Meski sedikit sedih karena ia tidak bisa melihat wajah kekasihnya hari ini, senyumnya merekah kembali melalui surat tersebut. Ia memeluk sebuket bunga itu lalu mencium wanginya, menenangkan seperti biasanya.
            
Di dalam ruangan ia tak terlalu banyak bergerak, hanya berbaring lemas. Ia sedikit bosan, maka dari itu ia meminta mamanya untuk mengajaknya jalan-jalan menghirup udara segar disekitar rumah sakit. Itupun dengan memakai kursi roda, serta infus yang masih menempel di pergelangan tangan kirinya.

Seharian ia ditemani mamanya, membicarakan masa lalu ketika ia masih kecil dulu. Ia merasa sedih karena waktunya harus terhenti sebelum ia mampu membahagiakan kedua orangtuanya. Ada banyak hal yang ia mimpikan, ia ingin menikah dengan lelaki yang dicintainya, mengasuh anak-anaknya kelak, dan membina keluarga bahagia. Sayang, semua itu tidak mungkin terwujud untuknya. Kenyataan terlalu menyakitkan untuk dipahami olehnya.

Mama Sasha hanya bisa memberikan sebaris kata semangat untuk putrinya, meski mungkin Sasha sudah terlalu lelah dengan kata-kata tersebut. Baginya, sudah tak ada artinya lagi, ia hanya mampu pasrah akan keadaan.

***

Hampir seminggu berlalu, keadaan Sasha kian memburuk. Lelaki pujaannya tidak terlihat lagi sejak terakhir kali mereka bertemu. Hanya sebuket bunga anyelir dan sepucuk surat yang selalu ada ketika ia membuka mata di pagi hari.

Namun hari ini, semua itu berubah. Seorang lelaki yang tak dikenalinya tiba-tiba sudah duduk disampingnya. Seharusnya Fery yang berada disitu. Mamanya berdiri disamping lelaki tersebut, gurat wajahnya seperti memendam pilu. Ada yang aneh, ia membawa sebuket bunga yang biasa dibawa oleh lelaki pujaannya. Sasha terheran setengah mati.

“Perkenalkan, saya Anto. Teman baik Fery.” Lelaki itu memperkenalkan diri. Sasha semakin penasaran tentang apa yang sesungguhnya terjadi.

Anto menangkap raut wajah Sasha yang penuh tanda tanya. Ia lalu menguatkan hati untuk menceritakan kejadian sesungguhnya, kebenaran yang dalam beberapa hari ini harus disembunyikan dari Sasha.

“Akhir-akhir ini, akulah yang mengirimkan bunga dan surat ini untuk kamu, Sha.”

Pengakuan Anto membuat Sasha tidak percaya. Ia menolaknya mentah-mentah, ia masih mempertanyakan keberadaan Fery. Dimanakah ia sekarang?

“Kamu harus tabah, Sha! Takdir itu penuh misteri, dan kita sebagai manusia tidak mampu menebaknya.” Kata-kata Anto semakin tidak dimengerti oleh Sasha.

“Fery telah berpulang, Sha. Ia telah tenang di alam sana, ia mengalami kecelakaan ketika pulang dari rumah sakit seminggu yang lalu. Mobilnya menabrak sebuah pohon besar di salah satu tikungan yang tajam. Polisi menduga itu disebabkan oleh kelalaian pengendara.”

Hati dan perasaan Sasha remuk redam mendengar kekasihnya telah tiada. Ia tak pernah berpikir bahwa Tuhan mengambil nyawa Fery terlebih dahulu. Semua ini terlalu mengagetkan untuk dia.

“Lalu kenapa baru sekarang kamu memberitahuku? Mama kenapa nggak cerita ke aku?” Teriak Sasha memenuhi langit-langit kamar, amarah dan kesedihannya bercampur aduk. Ia tak memedulikan kondisinya sendiri. Mamanya refleks mendekati Sasha untuk menenangkannya.

“Ini adalah permintaan Fery, dia tidak ingin kamu tahu lebih awal. Ia sempat kritis dan dirawat di rumah sakit, tapi takdir berkata lain, Sha. Dan kamu harus tau, didalam mobil itu polisi menemukan sepucuk surat dan sebuket bunga anyelir. Disitu tertulis namamu, Sha.” Anto sedikit mengeraskan suaranya, ia berkata mantap menyakinkan Sasha.

Di detik-detik terakhir dalam hidupnya, Fery berpesan kepada Anto untuk selalu membawakan Sasha bunga anyelir beserta sepucuk surat yang berisi catatan kecil di buku hariannya. Tentang rangkaian mimpinya bersama Sasha yang tidak akan pernah terwujud. Tentang kenangan-kenangan mereka yang telah berlalu.

Fery ingin Sasha mengetahui kepergiannya ketika keadaan telah mulai membaik.

“Ini adalah sebuah rekaman Fery di saat-saat terakhirnya. Dan juga beberapa album foto yang ia titipkan kepadaku.” Anto menyerahkan handphone milik Fery beserta album foto milik Fery. Kemudian ia beserta mama Sasha pergi meninggalkan ruangan itu, membiarkan Sasha sendirian.

Sasha mencoba menenangkan diri, ia mendengarkan rekaman terakhir tersebut.

Teruntuk Sasha, cerita terindahku. Aku minta maaf karena tidak menepati janjiku, terimakasih atas kebersamaan kita selama ini. Aku harus pergi Sha, meninggalkan dunia sebelum kamu. Sekali lagi, aku bahagia karena Tuhan telah mempertemukan kita. Sampai jumpa di kehidupan yang lain, Sha. Aku sayang kamu.

Air matanya tak kuasa terbendung, takdir itu memang unik, tak pernah disangka bagaimana alurnya. Sekuat hati Sasha menerima takdir mereka berdua, mungkin di kehidupan yang akan datang mereka akan dipertemukan kembali. Entahlah, hanya Tuhan yang tahu.

“Aku juga mencintaimu, Fer.” Gumamnya lirih dalam hati, memegang sebuket anyelir yang biasa Fery berikan untuknya. Tetesan-tetesan air mata itu terjatuh membasahi bunga-bunga indah tersebut.

Selang dua hari, Sasha mengehembuskan nafas terakhirnya. Ia menghabiskan waktunya dengan melihat rekaman terakhir mereka berdua serta memandangi foto-foto di album foto milik Fery. Kedua aktivitas itu ia lakukan silih berganti. Album itu berisi kenangan hari-hari yang telah mereka lewati bersama, dua tahun itu adalah waktu yang singkat.

Di penghujung waktu, Sasha berterimakasih kepada Tuhan atas waktu yang singkat namun berarti untuknya. Terimakasih juga telah dipertemukan dengan orang-orang yang menyayanginya. Ia tersenyum di akhir hayatnya, menghadap Tuhan sang Maha Cinta.


“Satu jam saja, ku telah bisa sayangi kamu dihatiku. Namun bagiku melupakanmu butuh waktuku seumur hidupku.”
ST 12 – Saat Terakhir


Mantanologi

Picture by Prazart

Mantanologi adalah ilmu yang membahas tentang permantanan. Objek yang dikaji dalam ilmu ini adalah segala hal yang berkaitan tentang kenangan, definisi tentang mantan, statistika individu yang belum bisa move on dari mantan,  pengaruh mantan dalam sendi-sendi kehidupan, kiat-kiat melupakan mantan, serta arti penting seorang mantan.
            
Kata mantanologi sendiri merupakan penggabungan kata dari dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Yunani. Kata “mantan” berasal dari bahasa Indonesia, menurut kamus bahasa Indonesia kata ini bermakna bekas pemangku suatu jabatan/kedudukan. Namun dalam konteks berasmara arti mantan adalah bekas pacar/kekasih. Sedangkan logos berasal dari bahasa Yunani yang berarti suatu ilmu. Kedua kata tersebut (mantan dan logos) bergabung dan menghasilkan susunan kata yang baru yaitu mantanologi.
            
Berikut definisi mantan menurut para ahli sebagaimana yang dikutip dari beberapa sumber:
            
“Mantan adalah orang yang pernah mendewasakan seseorang, pahitnya sebuah kenangan tentang mantan tetap ada manisnya.” (Hartanto dalam bukunya Janji Manis Mantan, 2012).
            
“Mantan merupakan kenyataan pahit dimana janji-janji manis yang telah dibuat di masa lalu terlupakan begitu saja.” (Fransisco Guineo dalam bukunya yang cukup fenomenal yang berjudul Move On, Between Love and Hate, 2004).
            
“Mantan adalah Janc*k yang kini tinggal kenangan.” (Suparman dalam wawancara yang sungguh emosional pada tahun 2008, ia adalah pendiri Komunitas Anti Mantan)
            
Definisi mantan sendiri tergantung dari persepsi dan bagaimana pandangan masing-masing individu. Para ahli tentang permantanan masih seringkali memperdebatkan esensi dari arti kata mantan itu sendiri. Mereka yang berhaluan kanan menganggap bahwa mantan itu adalah suatu hal yang sepatutnya dikenang dalam hati sepanjang hayat sebagai catatan kehidupan, sedangkan disatu pihak berpendapat bahwa mantan adalah suatu hal yang harus dibuang jauh-jauh dari kehidupan karena mengingatnya sungguh menyakitkan.
            
Survei singkat membuktikan bahwa presentasi individu yang belum bisa move on dari mantan cukup tinggi. Kami menggunakan metode kuesioner, dari 100 responden yang dijadikan sampel dalam penelitian ini membuktikan bahwa 67% menyatakan bahwa mereka masih belum sepenuhnya bangkit dari kenangan, 20% menyatakan bahwa mereka telah melupakan mantannya karena telah menemukan pengganti yang lebih baik. Sebanyak 3% menyatakan ragu-ragu karena merasa tidak yakin bahwa mereka benar-benar melupakan mantan atau malah masih sering mengingatnya, sisanya sebanyak 10% menyatakan tidak mampu menjawab karena telah dikonfirmasi bahwa mereka belum pernah punya mantan alias jomblo sejak lahir.
            
Berdasarkan penelitian dan kuesioner yang telah dikumpulkan dari para responden, hasil yang didapatkan cukup mencengangkan. Mantan memiliki pengaruh yang cukup kuat dalam kehidupan mereka. Mayoritas menjawab bahwa karena sosok mantan yang terlalu hebat membuat mereka sulit membuka hati untuk cinta yang baru. Sebagian yang lain merasa bahwa melupakan kenangan tentang mantan adalah sesuatu yang sangat sulit dilakukan karena tidak memilki cukup kekuatan. Terlebih ketika hujan datang, pengaruh kenangan tentang mantan meningkat berkali-kali lipat. Oleh sebab itu, stock tisue yang cukup diperlukan selaras dengan airmata yang terkuras karena mengingat mantan. Hal ini selaras dengan hukum Ghost Memories yang menyatakan bahwa kenangan itu seperti hantu yang menakutkan. Oleh sebab itu perlu penangkal yang kuat dalam menghadapi hal tersebut.
            
Tapi tidak perlu khawatir, meskipun sulit melupakan kenangan-kenangan terkutuk itu, kami akan memberikan beberapa tips yang telah teruji ampuh dan mujarab meski seringkali gagal total. Kunci yang terpenting dalam melupakan mantan adalah waktu. Serahkan semuanya kepada waktu (pasrah saja), karena waktulah yang akan mengobati dan menyembuhkan ingatan kita tentang mantan. Berdoa dan berusaha juga penting untuk menentukan keberhasilan seseorang dalam upaya melupakan mantan. Sebisa mungkin jauhkan sesuatu yang mengingatkan kita tentang mantan. Lambat laun kenangan itu akan bersahabat dengan kita bukan malah menjadi musuh bagi kita.
            
Meskipun bagi kebanyakan orang kata mantan berkonotasi negatif tapi jangan lupa bahwa mantan juga memberikan peranan penting dalam kehidupan. Mantan memberikan kita sebuah pelajaran, mendewasakan kita secara tidak langsung, dan yang terpenting mantan mengajarkan kita bagaimana cara merelakan serta memberikan pemahaman tentang keikhlasan hati ketika melihat mantan telah memiliki pengganti yang baru. (Dilansir dari jurnal tidak ilmiah dengan judul “Filosofi Mantan” karangan Saepudin B.M).
            
Kesimpulan: Mantanologi diperlukan untuk membantu serta memotivasi orang-orang yang belum dapat melupakan kenangan tentang mantannya. Ilmu ini mampu memberikan beberapa solusi dan saran atas persoalan-persoalan menyangkut permantanan melihat kondisi orang yang belum bisa move on cukup tinggi.


*NB: Artikel ini adalah artikel ngawur, semua tulisan ini adalah murni imajinasi penulis mulai dari nama ahli, statistika, dan tips-tips yang diambil dari pengalaman penulis sendiri. Mohon maaf jika ada kesamaan nama dan ide, penulis tidak bermaksud menyinggung. Terimakasih semoga menghibur.

            

Cerpen - Tentang Kita dan Hujan

Sumber : Google Image

Halte bus kecil didekat toko kelontong Koh Acong senantiasa ramai setiap pagi. Para pegawai kantoran, buruh, ibu-ibu rumah tangga, siswa-siswa sekolah berkerumun tak teratur di halte tersebut. Mereka berdesak-desakan naik ketika bus baru saja merapat ke halte. Cukup dalam beberapa menit bus itu disesaki para penumpang. Semua berebut tempat duduk, siapa cepat ia yang dapat.

Seorang lelaki berseragam putih abu-abu dengan jaket warna hitam sayangnya kalah cepat dengan ibu-ibu rempong yang berebut tempat duduk. Ia terpaksa berdiri bersama penumpang lain yang tidak kebagian tempat duduk. Rutinitas yang menurutnya cukup membosankan, sepanjang perjalanan ia hanya bisa mengeluh.
            
“Mas, bisa geseran dikit?” Suara perempuan terdengar samar, kalah keras dengan suara ibu-ibu yang sedang menggosip. Masih pagi mereka sudah menimbun dosa dari mulut mereka.
            
Lelaki itu enggan bergeming, dengan lambat ia merubah posisi berdirinya memberikan ruang untuk perempuan itu berdiri. Bus masih tetap melaju, meski sesekali memberikan sedikit guncangan kecil namun cukup mengusik kenyamanan.
            
“Eh, maaf mas nggak sengaja.” Ujar spontan perempuan itu, ia hampir  menubruk lelaki itu akibat guncangan bus tadi.
            
Perhatian lelaki itu teralihkan sejenak, ia menyahut ringan tanda bahwa ia menerima permintaan maaf perempuan tersebut. Ia menatap perempuan itu sejenak, mereka pun saling beradu pandang dalam waktu singkat.
            
Hati lelaki itu berdegup cukup kencang menatap pesona perempuan yang kini tengah berada dihadapannya persis. Ia tak pernah menyangka akan bertemu dengan perempuan cantik di bus yang sesak ini.
            
“Anu..anu…” Lelaki itu yang tadinya cuek perlahan mencoba ramah, namun tiba-tiba ia menjadi bodoh seketika, intelegensinya mendadak lenyap tak membekas.
            
“Iya, kenapa mas?” Perempuan itu memasang wajah bersahabat, menjawab tak kalah ramah. Senyumnya merekah bak mentari pagi. Lelaki itu tambah gugup tidak karuan, wajahnya merah padam.
            
“Anu…mbak...ini..ehm anu saya kejepit anu.. eh nggak, maksud saya.” Jari jemarinya berakting seperti dirijen orkestra, bergerak kesana kemari sembari memikirkan kaimat yang akan ia susun. Lelaki itu keringatan, ia sudah mati gaya dan tidak tahu harus melakukan apa-apa lagi.
            
Perempuan itu sedikit tersipu melihat tingkah konyol lelaki tersebut, sekuat tenaga ia menahan untuk tidak tertawa. Tak ada pandangan risih atau semacamnya, perempuan itu menegaskan kembali pertanyaannya.
            
“Kenapa mas anu-nya? Ada yang salah?” Gelak tawa terdengar lebih keras dari perempuan itu. Ia tidak jago untuk urusan menahan tawa, mungkin sensitifitasnya dalam urusan humor cukup tinggi.
            
Bus berhenti di halte salah satu sekolah, perempuan itu bersiap-siap turun.
            
“Duluan ya mas!” Perempuan itu merekahkan senyumnya kepada lelaki tersebut. Sebuah senyuman sejuk bak mentari pagi berbalas dengan senyuman kaku setengah memaksa dari lelaki itu, kegugupannya meningkat berkali-kali lipat. Ia merasa dunia seolah berhenti berputar ketika melihat senyuman perempuan itu. Dalam hati ia berharap, semoga momen ini terulang esok hari.
***
            
Satu hari telah berlalu, sama seperti pagi-pagi sebelumnya ia masih tidak kebagian tempat duduk.
            
“Selamat pagi Mas, ehm Anu.” Suara lembut yang kemarin kembali terdengar di kedua pasang telinga lelaki itu.
            
“Pagi juga, ehm..Mbak.” Kali ini lelaki itu menyahut ramah, mengendalikan suasana. Ia tidak ingin momen canggung yang kemarin terulang kembali. Ia ingin memuji kecantikan perempuan itu, namun kalimat itu terhenti diujung bibirnya tanpa sempat terucap.
            
Perbincangan ringan terjadi diantara mereka berdua. Suasana pun tidak secanggung yang kemarin. Suara berisik para penumpang serta teriakan kernet yang bergelantungan di pintu belakang bus mereka acuhkan. Mereka seperti berada didalam sebuah ruang kasat mata dimana terdapat dinding pembatas suara.
            
“Saya turun dulu ya Mas. Sampai jumpa besok.” Senyuman itu kembali merekah.
            
Tanpa sempat menanyakan nama perempuan itu, perbincangan mereka berakhir. Seperti kata pepatah para pujangga dari antah berantah bahwa bunga bisa saja mekar di gurun yang tandus, maka bukan hal yang mustahil bunga itu mekar di tengah sesaknya bus kota.

***
            
Hujan deras mengguyur seluruh kota, ia langsung turun sesampainya bus di depan halte tempat ia biasa berangkat sekolah. Bergegas ia berlari untuk berteduh dibawah halte. Diantara banyaknya orang yang sedang berteduh dari hujan, secara tidak langsung matanya tertuju kepada perempuan manis yang tengah mendekap tubuhnya sendiri untuk mengusir dingin.
            
“Ini kamu pakai saja jaketku, biar nggak kedinginan.” Lelaki itu mendekatt, tanpa berpikir panjang memakaikan jaket kesayangannya kepada wanita tersebut. Sudah hampir seperti adegan dalam sebuah film cinta.
            
“Oh iya, Mbak namanya siapa? Nama saya bukan Anu, panggil saja Didin.” Sembari memperkenalkan diri lelaki itu menawarkan tangannya untuk berjabat tangan dengan perempuan tersebut.
           
“Nama saya Meilin, salam kenal ya Mas Anu.” Perempuan itu mencoba mencairkan suasana dengan sedikit guyonan ditengah hujan yang masih belum mereda sama sekali. Didin hanya tertawa mendengar kata ‘anu’ terlontar dari bibir lembut Meilin.
            
“Kamu baru pindah kesini? Aku jarang lihat kamu didaerah sini.” Didin memulai pembicaraan, ia sedikit mengeraskan suaranya, tak mau kalah oleh derasnya air hujan.
            
“Iya, aku tinggal bersama pamanku. Mungkin untuk beberapa bulan. Kalo Mas Didin memang asli orang sini ya?” Meilin kembali bertanya dengan senyuman bak mentari yang dimilikinya. Perasaan Didin sontak berubah menjadi deg-degan, intelegensinya kembali menghilang ketika menatap pesona indah senyuman itu.
            
“Ehm, iya anu… ehm anu saya asli disini… aduh salah ngomong lagi deh.” Ia menepuk jidatnya karena salah bicara, Meilin hanya tertawa melihat tingkah konyolnya.
            
“Aku suka hujan, orang bilang hujan itu membawa kenangan. Bagiku hujan lebih dari sekedar kenangan, hujan adalah pesan dari kenangan-kenangan itu sendiri. Meskipun kenangan itu pahit, tapi bukan berarti hujan menginginkan kita untuk bersedih hati.” Meilin secara lugas bercerita. Kedua tangannya bergerak spontan, tetes-tetes air hujan membasahi kedua tangannya. Ia tampak sedikit murung untuk sesaat, lantas ia tersenyum lagi menatap Didin.
            
“Maaf ya, jadi melankolis begini.” Ujar Meilin.
            
Didin hanya terdiam, terpesona oleh paras yang luar biasa.
            
“Mungkin kamu benar, meski terkadang hujan membawa kenangan yang cukup menyakitkan. Tapi bukan berarti kita harus bersedih, meratapi setiap kenangan dalam tetesan air hujan. Terkadang, orang punya rahasia tersendiri tentang hujan.” Entah mengapa Didin mendadak puitis, padahal beberapa detik yang lalu ia gugup setengah mati.
            
Meilin hanya tersenyum menganggapi Didin.
            
Langit perlahan mulai terang, rintik hujan mereda hingga tak tersisa. Lembayung senja sedikit memancar dari arah barat. Halte kembali sepi, orang-orang yang berteduh telah bubar barisan.
            
Didin memperkenankan Meilin untuk membawa jaket kesayangannya, berhubung kondisi sore hari masih cukup dingin akibat hujan.  Mereka pun berpisah, meninggalkan halte tersebut. Didin tersenyum melambaikan tangannya ke arah Meilin.

***
           
Satu hari terlampaui lagi, Didin berdiri didalam bus seperti hari-hari sebelumnya. Cemas ia menanti kedatangan Meilin yang tak kunjung terlihat sejak tadi. Suara kernet dibelakang terdengar cukup keras, memberikan komando agar sang sopir segera menjalankan bus.
            
Raut wajah Didin yang penuh harap atas kedatangan Meilin berubah menjadi sedikit murung. Ia tidak dapat merasakan kesejukan mentari pagi ini, karena terasa kurang lengkap tanpa senyuman Meilin.
            
Di dalam kelas, ia masih saja lesu tanpa semangat. Ceramah membosankan dari Pak Asep, guru matematika dikelasnya membuat ia ingin segera pulang ke rumah.
            
“Hei kau yang disana, ngelamun aja kau dari tadi. Bapak ceramah panjang lebar, tak kau perhatikan sama sekali. Mikiran apa kau hah? Anak istrimu di rumah?” Cetar Pak Asep ke arahnya, diikuti gelak tawa dari seluruh kelas.
            
Didin hanya menunduk, mendengarkan ceramah Pak Asep panjang lebar. Beliau mengkritik jiwa-jiwa muda yang gampang rapuh, membandingkan dengan pemuda-pemuda era kemerdekaan yang dengan segenap jiwa raganya berjuang membela negara.
            
“Kau paham nak? Bapak mengajar kalian juga buat negara, buat memajukan bangsa. Kalau semua siswa kayak kau ini, mau dibawa kemana negara ini?” Pak Asep mengakhiri ceramahnya, memberikan ultimatum kepada Didin untuk tidak mengulangi kesalahannya.
            
Urusan hati memang terkadang bikin runyam. Setiap sendi kehidupan yang terstruktur rapi seringkali berantakan karena soal hati. Meilin, hanya itu yang dipikirkan Didin saat ini.

***

Di salah satu warung pinggir jalan, Didin nongkrong disana bersama bapak-bapak tukang becak. Akhir pekan terlalu membosankan jika harus dihabiskan didalam rumah, santai sejenak lupakan tugas sekolah.
            
Segelas kopi hitam dengan beberapa bakwan hangat membuat waktu santainya lebih nikmat. Matanya tertuju pada kendaraan yang lalu lalang di jalanan, pikirannya tak lepas berangan-angan tentang Meilin. Hampir genap tiga hari perempuan itu tak terlihat rimbanya.
            
“Kau ngapain ngelamun Din? Siang-siang bolong gini, kesambet setan lu mah ntar.” Tanpa disadari Koh Acong telah duduk mangkring di depan Didin sembari menghisap rokok lintingan buatannya. Suaranya yang sedikit melengking menyadarkan lamunannya.
            
“Ah nggak Koh. Nggak mikir apa-apa.” Ujar Didin berbohong halus, sembari menyeruput kopi hitam yang digenggamnya.
            
“Kau nih tak bakat berbohong lah. Anak muda macam kau kalau nggak mikirin perempuan ya mikirin masa depan.” Cetus Koh Acong, ia mengacungkan telunjuknya ke arah Didin.
            
Entah mengapa Didin enggan mengelak. Memang benar apa yang dikatakan Koh Acong, dia sedang memikirkan seorang perempuan yang membuatnya semangatnya menghilang. Hatinya sedikit tergerak untuk bercerita kepada Koh Acong.
            
Simpang siur ia dengar bahwa di masa muda Koh Acong paling ahli kalau merayu wanita. Jejak asmaranya terbilang cukup rumit, berkali-kali ganti pacar sampai pernah di labrak para perempuan yang sakit hati karena cintanya ditolak Koh Acong.
            
“Koh ?”
            
“Apa? Kau ngomong yang jelas ?” Koh Acong menjawab enggan, ia tengah asik menghisap rokok lintingannya.
           
“Koh pernah jatuh cinta?” Didin bertanya penuh harap.
            
“Lah kau ini, siapa pula di dunia ini yang tak pernah jatuh cinta? Aku sudah berkali-kali jatuh cinta waktu muda dulu. Sekali beraksi dua tiga gadis terlampaui.” Cetar Koh Acong begitu menggelora ketika mengingat masa-masa mudanya.
            
Mereka bertatapan sejenak, Didin kian mantap menceritakan kisah cintanya kepada Koh Acong. Sebelum cerita dimulai, Koh Acong memesan sepiring bakwan dan pisang goreng sebagai pelengkap. Ia lalu menata posisi duduknya.
            
“Nah, kau sekarang ceritalah! Aku kasih tips ampuh buat kau nanti.”
            
Didin memulai ceritanya, berawal dari sesaknya bus penumpang di pagi hari.  Tingkahnya yang gugup setengah mati ketika berada didepan perempuan yang ia suka.  Kata ‘anu’ yang spontan ia ucapkan membuat perut Koh Acong terpingkal-pingkal.
            
“Kau ini baru segitu sudah gugup, apalagi kalau ketemu calon mertua.” Koh Acong menyela. Jeda beberapa detik, Didin menyeruput kopinya sejenak. Koh Acong mengambil sebuah pisang goreng hangat dan mencicipinya pelan-pelan.
            
Cerita berlanjut ketika mereka berdua berteduh di bawah halte, hujan kala itu begitu deras. Ia teringat ketika menitipkan jaket hitam kesayangannya kepada perempuan itu. Semenjak itu, ia tak pernah melihat perempuan itu lagi.
            
“Alah, kau tak usah cengeng hanya karena begituan. Kau terlalu menyimpan harapan, tapi tak perlu khawatir Koh punya tips buat kau.” Didin menatap Koh Acong, menanti sepucuk tips cinta darinya.
            
“Kau pergi ke kantor polisi, laporkan kalau kau baru kehilangan sepucuk hati untuk perempuan yang kau sayangi.” Tawa Koh Acong terdeengar keras seusai memberikan tips ngawurnya kepada Didin. Raut wajah Didin yang bertambah kusut membuat Koh Acong diam sejenak.
            
“Ah, Koh hanya bercanda Din, tak usah kau ambil hati. Kau tau filosofi daun kelor, dunia itu tak sesempit daun itu Din. Nenek kau apa tak pernah berpesan bahwa bunga yang ketika gugur satu, itu akan tumbuh seribu. Ah, kau mana tau kalimat bijak tersebut. Ngomong-ngomong, siapa nama perempuan yang bikin kau galau setengah mati?” Koh Acong bertanya penasaran.
            
“Meilin.” Tukas Didin mantap.
           
“Alamak, kau naksir sama keponakanku. Jangan bilang kau sudah berbuat macam-macam sama Meilin, kubunuh kau nanti.”
            
Mendengar pernyataan Koh Acong ekspresi Didin setengah sumringah. Wajahnya yang kusut layaknya pakaian yang belum disetrika berubah seketika.
            
“Jadi Koh ini pamannya Meilin?”
            
“Haiya, kau baru tau sekarang. Koh kasih tau, Meilin mah banyak yang naksir. Kau perlu usaha ekstra Din. Aku lihat di kamarnya, dia banyak menerima surat cinta dari para lelaki seumurannya.”
            
Mendengar ucapan Koh Acong, nyali Didin sedikit menciut. Rasa pesimis sebisa mungkin ia tepis, demi senyuman bak mentari pagi ia akan berusaha.
            
“Oh iya, kalau kau pengen ketemu Meilin, hari ini kau bisa datang ke toko. Kebetulan dia sudah sehat, makanya Koh suruh dia buat jaga toko. Tiga hari sebelumnya dia demam. Jangan lupa bawa sesuatu buat dia, minimal kau terlihat romantis lah dimatanya. Koh pergi dulu, mau ke kota sebelah buat ambil barang dagangan.”
            
Dalam sekelebat Koh Acong telah tak terlihat punggungnya, menghilang diantara kerumunan orang yang lalu lalang. Didin segera bangkit dari tempat duduknya, ia mengecek isi dompetnya. Berpikir keras tentang sesuatu yang ingin ia berikan kepada Meilin.

***
            
Didepan toko kelontong Koh Acong, lelaki itu berdiri setengah ketakutan. Cemas dan menguatkan hati untuk bertemu perempuan pujaannya.
            
“Koh, Koh, Koh.” Teriaknya berpura-pura, walau sebenarnya ia tahu bahwa Koh Acong sedang pergi.
            
Dari balik bilik kecil di toko tersebut, keluar seorang perempuan dengan rambut yang tergerai. Ia segera menguncir rambutnya, gerakannya nan elok membuat lelaki itu tambah gugup tidak karuan.
            
“Eh Mas Didin, mau cari apa Mas?” Meilin bersikap ramah, merekahkan senyum seperti biasa.
            
“Ehm anu, saya mau beli…ehm anu itu lho? Anu yang kemarin. “ Kegugupannya kembali terulang, kalimatnya berantakan.
            
“Mohon maaf ya Mas, disini kami tidak menjual anu.” Ledek Meilin lugas, ia tersenyum simpul menahan tawa melihat tingkah Didin.
             
“Eh sebentar ya Mas, saya tinggal dulu.” Meilin melangkah pergi menuju ke belakang. Didin masih tetap berdiri merutuki dirinya sendiri.
            
Meilin kembali sembari membawa jaket hitam kesayangan Didin.
            
“Terimakasih ya Mas, ini saya kembalikan jaketnya.” Didin menerima ucapan terimakasih Meilin, ia tambah grogi melihat senyuman Meilin.
           
“Ehm, aku dengar kamu sakit akhir-akhir ini, makanya aku datang kesini untuk menjengukmu.” Meilin sedikit merasa heran tentang kabar bahwa ia sakit, secara terus terang Didin menjelaskan bahwa ia tahu dari Koh Acong. Ia juga bercerita tentang masa lalu Koh Acong yang pintar merayu perempuan.
            
Meilin tertawa lebar mendengar cerita Didin, suasana yang canggung lebih tercairkan.
            
“Jadi Mas Didin kesini tidak untuk membeli anu ya?” Ujar Meilin sedikit menggoda Didin. Niat tersembunyi Didin akhirnya terbongkar, tak ada alasan lagi yang mampu ia berikan. Meilin sudah pasti mampu menebaknya.
            
“Ini buat kamu, Mei.” Sebungkus batagor hangat ia berikan kepada Meilin. Bukan sebuket mawar, bukan pula sebatang cokelat, budget yang tersisa di dompet Didin cukup memiriskan. Alhasil, sebungkus batagor buatan mas-mas di pinggir jalan menjadi pilihan terbaik Didin.
            
Meilin menerima hadiah yang tak seberapa itu dengan sepenuh hati. Ia kemudian mengajak Didin untuk duduk bersama di halte bus. Meilin berpamitan kepada bibinya sebentar untuk meninggalkan toko.
            
Di bangku halte mereka duduk berdua, Meilin menikmati batagor hangat. Ia dengan tingkah sedikit manja meminta Didin untuk menyuapinya. Berhubung kondisi halte cukup sepi, Didin menyanggupinya. Tangannya beratraksi layaknya pesawat terbang yang meliuk-liuk, Meilin tersenyum manja.
           
“Aku boleh tanya sesuatu?”  Didin membuka suara, Meilin mengangguk pelan. Kedua mereka bertatapan, hening sejenak.
            
“Apakah benar jika di dalam kamarmu tersimpan kumpulan surat cinta dari orang lain yang menyukaimu?”
           
Meilin mengernyitkan dahinya, heran setengah mati dengan pertanyaan Didin.
            
“Kamu ngomong apa sih? Aku nggak ngerti.” Dengan lugas ia menjawab. Lantas ia tertawa keras, tak ada satupun surat cinta di kamarnya. Raut muka Didin kusut masam menahan malu. Dalam hati dia menahan kekesalan atas penipuan yang dilakukan oleh Koh Acong, di satu sisi ia bahagia karena Meilin tidak mendapat surat cinta tersebut.
            
Tanpa mendung, gerimis tiba-tiba turun. Itu pun tak lama, dalam beberapa menit gerimis itu berhenti. Lengkungan warna-warni pelangi terlihat begitu indah di langit. Meilin meraih tangan Didin, keduanya berdiri menatap langit tepat tertuju pada warna-warna yang terlukis indah disana.



~ Selesai ~