Cerpen - Hatiku Tertinggal di Heidelberg

source: pixabay.com

Es war an einem Abend, als ich kaum 20 Jahr. Da küsst ich rote Lippen[1].

Sepenggal lirik lagu itu terkenang di kepalaku. Rentetan memori lama silih berganti mampir. Secangkir kopi dan sebatang rokok kretek kini menemaniku duduk sendirian di teras depan rumah sembari menikmati hujan yang turun sangat deras. Hawa dingin kali ini mengingatkanku pada dinginnya butiran salju yang turun pada saat itu. Ah, aku mendadak teringat kecupan hangat dan rasa wien pada malam itu. Kecupan dari dia si perempuan bermata biru yang bernama Rose. Sudah hampir sepuluh tahun aku tidak bertemu dengan dia.

Rose ialah teman kuliahku di salah satu universitas tertua di Jerman, tepatnya di Heidelberg[2]. Ia adalah perempuan Rusia yang memiliki rambut pirang kemerahan. Tentu saja, dia cantik seperti bule-bule Eropa pada umumnya. Tubuhnya ramping dan seringkali membuat darahku berdesir ketika berjumpa dengan dia. Namun, yang paling khas dari dia adalah matanya yang sebiru langit serta bibirnya yang selalu merah merona.

Ich mag deine Augen[3],” kataku setiap kali bertemu dengan dia. Dia hanya tertawa ketika aku berkata demikian. Katanya, mata itu tidaklah spesial. Katanya lagi, banyak perempuan-perempuan Eropa yang memiliki mata yang jauh lebih cantik darinya. Namun bagiku, mata itu sangatlah cantik dan selalu membuatku betah menatapnya lama-lama.

Kami berdua kerapkali berdiskusi bersama mengenai tugas-tugas kuliah di sebuah Kneippe[4] dekat jantung kota Heidelberg. Ia sangat cerdas dan analisisnya selalu mendalam sehingga membuatku kelimpungan. Apalagi ketika dia sudah membahas mengenai teori-teroi Karl Marx tentang tatanan sosial dan kehidupan politik yang menurutku rumit. Aku sering mengangguk-angguk berlagak mengerti, padahal kata-kata yang dia ucapkan itu merupakan kata-kata yang rumit nan sulit dan tidak semua orang mampu mengerti.

“Kau paham penjelasanku?” katanya setelah selesai bicara sembari menegak segelas bir dari Italia. Rose merupakan peminum berat. Anehnya, dia tidak pernah mabuk meski sudah minum berkali-kali.
“Aku tak terlalu paham, tapi penjelasanmu memberiku inspirasi,” kataku sambil terkekeh. Tak lupa, aku menghisap rokokku sebagai penghangat tubuhku. Berhubung salju yang turun waktu itu agak lebat.
“Kau tidak minum bir?” tanyanya lugas setiap kali kami bersama. Aku menggeleng.
“Aku takut dosa,” jawabku singkat. Dia pun menertawakan kepolosanku. Meskipun demikian, dulu aku sempat sekali merasakan minuman haram itu. Waktu itu, aku menegak satu tegukan miras oplosan bersama anak-anak kampung karena peenasaran. Pulang-pulang, aku langsung dihajar bapakku karena ketahuan mabuk. Sejak saat itu aku kapok dan bertobat untuk tidak minum lagi.

Di samping penganut Marxisme garis lurus, Rose juga seorang agnostik dan selalu mempertanyakan eksistensi agama. Jauh berbeda denganku, yang walaupun banyak dosa tapi masih ingat Tuhan. Dia suka berteori dan mendiskusikan tentang ritus dan segala seluk beluk keagamaaan yang menurutnya rumit dan tidak logis. Pemikirannya memang gila dan terkadang aku takjub bahkan sempat terbawa ke dalam dunianya.

Sepulang dari kafe, kami berdua biasanya pulang bersama dan menaiki kereta bawah tanah terakhir menuju rumah sewa kami yang lokasinya berdekatan. Rose selalu menawariku untuk menginap di kamarnya, lalu berpose manja sembari menggodaku. Sejujurnya tawaran itu menarik bagi setiap lelaki, tapi bagiku itu hanya candaan saja. Mana mungkin aku menghabiskan malam bersama dia. Sekali lagi, aku takut dosa.

Baca juga: Cerpen - Mawar Mini Merah Muda

***          
Rose, vertraust du auf Liebe[5]?” kataku penasaran ketika berada di jembatan tua kota Heidelberg saat itu. Ia terdiam dan menatapku dalam-dalam. Kedua mata kami bertemu seolah ia ingin menjawab pertanyaan itu hanya dengan tatapan matanya.
            
“Aku tidak percaya cinta. Pertanyaanmu sungguh menggelikan,” ia tertawa keras. Aku diam dan larut pada tawanya. Sejenak aku merenung lalu bertanya lagi.            
“Tapi aku sering melihatmu bersama lelaki lain,”            
“Ah, itu hanya untuk kesenangan saja,” katanya berkilah. Katanya lagi, hubungan itu rumit dan cinta hanyalah sebuah pemikiran absurd manusia yang dipenuhi imajinasi. Sedangkan bagi dia, imajinasi adalah pembunuh nalar logis yang membuat manusia lebih senang hidup di alam mimpi daripada di alam kenyataan.
            
Kami terdiam sejenak, lalu mengamati perahu kecil pemancing ikan yang melintas di sungai Neckar. Salju di jalanan mulai menghilang, pertanda musim semi hendak menyapa kembali. Rose kemudian membuka pembicaraan lagi, membicarakan kehidupan. Katanya, hidup itu singkat dan fana, jadi harus dinikmati sebisa mungkin. Meski dia tidak percaya cinta, dia tidak menyalahkan orang-orang yang memiliki pemikiran bahwa hal-hal abstrak seperti cinta, malaikat, akhirat dan Tuhan itu ada. Namun, ia memilih mempercayai entitas konkrit yang bisa dia lihat dengan kedua matanya. Aku menghormati pemikirannya, seperti dia menghargai pemikiran serta keyakinanku.
            
“Lalu, mengapa kau berteman denganku? Lelaki biasa yang mungkin bisa kausebut kuno,” kataku penasaran.
“Aku suka orang-orang jujur dan polos sepertimu, apalagi kau ramah dan enak diajak bicara. Tidak ribet dan banyak argumen seperti kenalanku yang lain,” katanya. Kalau kupikir ulang, kami seperti kegelapan dan cahaya. Dua hal yang berlainan tapi tidak dapat dipisahkan, tapi juga tak dapat disatukan.
“Berarti, kau tidak punya rencana untuk menikah jika kau tidak percaya cinta?”
            
Ia menggeleng lalu membuka suara, “Menikah itu merepotkan. Seperti yang sudah pernah kukatakan, aku tidak suka terikat dengan sebuah hubungan. Menikah itu berarti membunuh kebebasanku sebagai seorang perempuan.”
            
Kami pun mengakhiri perbincangan sederhana itu, kemudian kami berjalan-jalan sebentar di sebuah kastil dengan gaya gotik khas abad pertengahan. Lalu, kami menelusuri jalanan di jantung kota Heidelberg serta membeli beberapa roti untuk persediaan makanan yang mulai menipis.
***
Seperti pepatah bilang, pada setiap pertemuan selalu ada perpisahan. Aku sudah menyelesaikan studiku dan hendak kembali ke Indonesia. Ia pun rencananya akan kembali di Rusia dan meniti karir di sana. Rose sendiri sudah cukup lama tinggal di Jerman dan mendadak ia pun rindu dengan kampung halamannya. Sebelum berpisah, Rose mengajakku minum bersama di kafe biasa. Ia ingin menghabiskan detik-detik terakhir kami di kota Heidelberg.
            
Tidak seperti biasanya, Rose menawariku segelas wine. Namun kali ini, tanpa alkohol. Itu adalah salah satu merk wine terkenal dari Sachsen, salah satu negara bagian Jerman yang menghasilkan anggur terbaik.
            
“Tenang, wine ini tidak memabukkan. Kau harus mencobanya sekali, sebelum pulang ke negaramu,” Rose membujukku sembari tersenyum. Entahlah, ia terlihat sangat cantik malam itu. Aku pikir, dia adalah Rose yang berbeda. Penampilannya lebih rapi dan anggun jika dibandingkan dengan biasanya.
            
“Kau tidak bohong, kan?” candaku meledek. Tawanya pecah dan agak mengganggu pelanggan di meja sebelah kami.
“Tentu tidak. Aku hanya ingin malam ini menjadi malam yang penuh kenangan sebelum berpisah denganmu,”
            
Kami menghabiskan malam itu dengan penuh tawa sembari mengenang masa-masa yang sudah kami lewati. Tak lupa, kami juga membicarakan profesor galak yang kerapkali mempersulit tugas akhir kami. Tanpa terasa, perbincangan kami malam itu berlangsung lama hingga kafe itu hendak tutup. Kami pun beranjak meninggalkan kafe itu dan pulang.
            
Entahlah, aku merasa waktu itu waktu seolah berjalan agak lambat dan sunyi pun mampir merangkul kami berdua. Di tengah perjalanan pulang, Rose tiba-tiba menghentikan langkah kakinya. Suasana jalanan itu agak sepi dan angin malam berhembus cukup dingin. Kami persis berdiri bersisian dan hanya ditemani lampu jalan yang pendarnya remang. Ia tiba-tiba merapatkan tubuhnya ke arahku. Kemudian tanpa ba-bi-bu, ia mencium bibirku. Aku tidak kuasa menolaknya. Jantungku berdegup kencang dan darahku berdesir. Sungguh ciuman liar yang baru pertama kali kurasakan.
            
“Senang mengenalmu. Auf wiedersehen[6]!” Rose pun akhirnya mengucapkan kalimat perpisahan itu. Sebuah kalimat yang sejujurnya aku benci. Ia kemudian berlalu begitu cepat. Aku berdiri mematung, lalu melambaikan tangan ke arahnya.
“Auf wiedersehen!”

Kami benar-benar berpisah.
***
Aku akhirnya pulang ke Indonesia dan mendapat pekerjaan di salah satu perusahaan internasional di Jakarta yang bergerak di bidang ekspor dan impor. Semenjak itu, aku tidak tahu kabar tentang Rose. Aku tidak bisa lagi menghubungi dia. Alamat e-mail serta nomor teleponnya sudah tidak aktif. Namun, gambaran tentang dia masih membekas kuat di kepalaku. Apalagi ciuman liarnya pada malam itu.

Dan yang paling membuatku penasaran, ada relung kosong yang ada dalam dadaku. Entahlah, aku merasa ada sesuatu yang hilang dari dalam diriku. Satu lagi yang samar dalam ingatanku, aku melihat kedua mata biru itu menangis malam itu. Sampai sekarang, aku masih ragu, apakah makna dari ciuman Rose malam itu? Mungkinkah kegelapan itu kini sudah menemukan cahaya?

Cerita ini terinspirasi dari lagu 
Ich hab mein Herz in Heidelberg verloren  karya Neubach dkk*




[1] Sepenggal lirik dari lagu “Ich habe mein Herz verloren” karya Neubach dkk. Secara harfiah lagu ini bermakna aku kehilangan hatiku di Heidelberg atau bisa juga dimaknai aku mencintai Heidelberg.
[2] Salah satu kota otonom yang merupakan bagian dari kota Bayern Wütemberg, negara bagian Jerman.
[3] Aku menyukai kedua matamu
[4] Nama untuk bar dalam bahasa Jerman. Tempat orang menghabiskan waktu bersama baik untuk bermain atau sekadar minum-minum.
[5] Apakah kau mempercayai cinta
[6] Sampai jumpa lagi

Cerpen - Menanti Cinta di Seberang Pulau


source: pxhere.com

Kapal pesiar itu tengah berlayar melewati ombak laut yang tenang menuju negara barat. Orang-orang kerap menyebut kapal pesiar itu sebagai  kapal para bangsawan. Maklum, kapal itu dibuat oleh insinyur terbaik dari Jerman dengan menggunakan mesin paling canggih pada zamannya serta dilengkapi fasilitas terbaik, seperti kamar mewah dan juga restoran berbintang. Di samping itu, penumpang dari kapal ini, mayoritas adalah saudagar-saudagar kaya yang hendak berdagang serta para priyayi dan bangsawan yang hendak merantau ke negara barat untuk sekadar melancong dan mencari hiburan.

Siang ini, kebetulan cuaca cukup cerah. Angin pun berhembus sepoi-sepoi menerpa rambut ikal seorang pemuda yang tengah duduk-duduk santai di dek kapal. Pemuda itu bernama Kuntjoro. Dia sedari tadi melamun menatap sepucuk surat yang masih terbungkus rapi. SuratI itu berasal dari perempuan yang dicintainya, Kinasih. Salah seorang buruh angkut di dermaga Tanjoeng Harapan menghampirinya lalu memberikan surat itu. Katanya, Kinasih tak bisa menemuinya secara langsung. Katanya lagi, surat itu adalah surat terakhir yang dapat dia tulis untuk Kuntjoro.

Pasti surat itu akan terasa sangat menyakitkan, batin Kuntjoro dalam hati.

Didekapnya surat itu kuat-kuat. Seolah-olah, dia tengah memeluk Kinasih yang kini berada nan jauh di seberang pulau sana. Dia masih belum memiliki kekuatan untuk membaca tulisan tangan kekasihnya. Padahal, surat itu adalah obat dari segala lara yang ditikamkan oleh kerinduan-kerinduan yang disimpannya erat. Namun sekeras apapun ia mencoba, keberanian itu tak juga muncul.

Lebih baik aku tidak tahu kenyataan, pikirnya.

Kuntjoro tahu, surat itu tidak akan membuat segala keadaan lebih baik. Surat terakhir yang ditulis oleh Kinasih sudah cukup membuat hatinya ngilu. Surat itu berisi tentang lamaran dari lelaki yang telah dipilihkan bapaknya Pak Subagjo kepada Kinasih. Lelaki pilihan Pak Subagjo adalah anak dari saudagar kaya kenalannya sewaktu masih kuliah di Belanda. Dengan pernikahan itu, tentu akan meningkatkan derajat sosial keluarga Kinasih, apalagi Pak Subagjo adalah salah satu pejabat daerah ternama di wilayahnya.

Pernah pula, Kuntjoro yang melarat itu berhadapan dengan bapak Kinasih yang tegas dan penuh wibawa. Tak perlu berdiskusi panjang lebar, Pak Subagjo langsung menatap sosok Kuntjoro yang kumal dan miskin itu dengan sinis. Katanya, Kuntjoro tidak akan pernah diterima di keluarga mereka. Katanya lagi, hanya para lelaki bermartabat dan punya harta yang boleh menikahi Kinasih.

Ya, masa-masa itu adalah masa yang masih kental dengan aturan perjodohan. Kinasih tak berani menolak lamaran lelaki pilihan bapaknya karena itu akan mencoreng wajah Pak Subagjo. Apalagi, lelaki yang akan melamar Kinasih juga sangat mencintai gadis itu, meskipun hati Kinasih tetap mencintai Kuntjoro.

Pasca penolakan menyakitkan itu, Kuntjoro pun berpamitan dengan Kinasih dan hendak merantau. Ia ingin merubah nasibnya yang awalnya hanya seorang buruh angkut di pelabuhan.

Suatu ketika, terdengar kabar bahwa sebuah kapal pesiar sedang mencari orang yang bersedia menjadi kelasi kapal. Tawaran itu cukup menarik bagi Kuntjoro. Ia pun mendaftarkan diri dan diterima bekerja. Menjadi seorang kelasi kapal bukanlah hal yang buruk bagi Kuntjoro. Gaji yang diterimanya jauh lebih baik dibandingkan pekerjaannya dahulu. Lumayan, ia mendapat beberapa koin Gulden tiap hari dan itu ditabungnya terus setiap hari. Rencananya, ia akan menggunakan tabungan itu untuk berdagang dan sebagai modal untuk melamar Kinasih.

Sayang, nasih tak berpihak pada Kuntjoro. Dua tahun setelah dia bekerja menjadi kelasi, ternyata berbuah kesia-siaan. Kekasih pujaannya yang berada jauh di seberang sana telah dipinang oleh lelaki lain. Ia kalah telak. Barangkali, ia memang tidak bisa berunding takdir yang tega merenggut kebahagiaannya.

Hari-hari terasa menyakitkan. Dia tidak terlalu bersemangat bekerja dan sering menghabiskan malam dengan meminum arak di dalam kabin. Kemudian, ia beranjak menuju dek kapal sembari menikmati angin malam yang dingin menusuk hingga ke persendian tulangnya. Ia luapkan amarah serta kekecewaannya akan nasib. Dia sering teriak ke arah laut seolah laut adalah kawan yang sanggup menampung segala keluh kesahnya. Namun, teriakan itu kemudian membaur dengan deru angin laut yang sengau.

Kesedihan hati Kuntjoro tentu membuat salah satu rekan kerjanya ikut prihatin. Salah satu rekan kerjanya yang merasakan kesedihan hati Kuntjoro adalah Bung Harjo. Pria itu memang sudah tidak lagi muda dan hampir memasuki kepala empat. Namun, dia sangat dihormati oleh para kelasi yang bekerja di kapal ini. Perjalanan hidup Bung Harjo yang penuh romantika membuat para kelasi takjub. Apalagi, Bung Harjo sudah pernah merasakan asam manis kehidupan.

Di kampung halamannya, dia memiliki keluarga kecil, seorang istri dan dua orang anak yang masih kecil. Perjuangan untuk menghidupi mereka tidaklah mudah. Keadaan ekonomi yang sulit ditambah kebutuhan hidup yang tinggi membuat Bung Harjo memilih merantau dan bekerja di kapal pesiar itu. Paling tidak, Bung Harjo ingin memberikan masa depan yang terbaik untuk anak-anaknya.

“Kau kenapa lagi, Nak?” tanya Bung Harjo sambil menyesap segelas kopi panas yang baru diseduhnya di dapur kapal.
“Sakit hatiku, Bung. Kekasihku hendak kawin dengan lelaki lain,”
“Usahaku sia-sia, Bung. Apakah nasib memang sekejam ini?”

Kuntjoro agak meninggikan suaranya. Lalu, dia pun menangis sejadi-jadinya sambil meneguk arak dalam botol yang hanya tinggal sedikit.

“Nak, kau masih muda. Janganlah kau terlalu bersedih karena cinta!”
“Bung, hanya dia, gadis yang paling kucintai. Mana mungkin aku bisa mencintai gadis lain?”
“Apakah gadis yang sangat kau cintai ini juga mencintaimu?”

Kuntjoro terdiam sejenak. Dia mengangguk pelan. Tatapan Kuntjoro menyiratkan tegas akan keyakinannya.

“Kalau begitu, kau tidak bisa terus-terusan seperti ini. Kau sekarang sudah seperti pria sekarat yang tidak punya harapan. Kau mabuk-mabukan setiap malam dan berteriak-teriak seperti orang gila. Nak, aku tahu, kehidupanmu saat ini menyakitkan. Namun, semenyakitkan apapun kehidupan, kau harus terus melangkah. Semua akan berbuah manis pada akhirnya,”

Bung Harjo menepuk pundak Kuntjoro dengan niat menyemangati tekad lelaki itu yang tengah meredup. Lalu, ia pun kembali menuju ke kabin dan membiarkan Kuntjoro merenungi nasihatnya dalam-dalam.
***
Semenjak malam itu, Kuntjoro mulai mengubah kebiasaannya. Nasihat dari Bung Harjo telah direnunginya dalam-dalam. Ia tidak ingin terlalu lama berlarut-larut karena cinta. Biarlah cinta itu ia pendam sendiri di lubuk hatinya yang terdalam. Ia yakin bahwa suatu saat nanti kebahagiaan yang dinanti itu akan datang menghampirinya.

Kuntjoro bekerja lebih giat dari biasanya. Dia ingin menyibukkan dirinya agar kenangan tentang Kinasih tidak terngiang-ngiang kembali. Bukankah rutinitas adalah salah satu cara ampuh untuk membunuh rasa sakit?

Suatu ketika, isu kurang mengenakkan menyeruak ke seluruh awak kapal dan penumpang. Isu mengenai perompak laut ganas tengah ramai diperbincangkan akhir-akhir ini oleh para penumpang. Dalam surat kabar terakhir dijelaskan bahwa salah satu kapal pedagang rempah-rempah telah dijarah dan para awak kapal sebagian tewas pasca melakukan pertempuran di tengah laut. Kapal yang dijarah itu pun berakhir karam di lautan.

Mendengar kabar itu, Kuntjoro sedikit was-was, apalagi banyak penumpang kelas menengah ke atas di kapal pesiar itu. Tentu kapal yang dinaikinya termasuk salah satu target jarahan yang menarik bagi para perompak itu. Namun, kapten kapal telah mengantisipasi hal tersebut dengan cara memperketat pasukan keamanan kapal sekaligus memperbanyak persenjataan. Para kelasi pun juga dilatih beladiri dan menggunakan senjata sebagai langkah preventif apabila sewaktu-waktu kapal dalam keadaan darurat.

Sesuai dengan isu yang beredar, para perompak itu menyamar sebagai nelayan biasa. Aksinya pun cukup terstruktur dan sistematis. Mereka biasanya berpura-pura sebagai nelayan yang kehabisan bahan bakar di tengah samudera dan meminta bantuan kepada kapal yang melintas di dekat mereka. Kemudian, masing-masing anggota perompak itu bertugas sesuai peran masing-masing.

Kapal pesiar yang dinaiki Kuntjoro pun sempat menjadi target para perompak bengis itu. Saat itu, laut tengah berkecamuk dan liar. Kapal pesiar itu tengah terombang-ambing di tengah badai dengan petir yang menggelagar. Bertepatan dengan itu, sebuah kapal misterius tiba-tiba mendekat. Para awak kapal itu sekilas tampak seperti nelayan biasa. Namun, wajah mereka nyatanya sangar-sangar dan tubuh mereka kekar-kekar.

Kapten kapal dengan strateginya yang tak kalah sistematis berhasil menghalau sekaligus melukai salah satu rekan perompak itu. Belum sempat para pelaut itu naik ke dek kapal dan melancarkan aksinya, mereka lebih dulu ditumbangkan oleh pasukan keamanan kapal dengan senapan canggih mereka. 

Kuntjoro saat itu juga turut membantu mengamankan para penumpang dan berjaga di dalam dek kapal dengan persenjataan seadanya. Untungnya, kapal itu selamat dari jarahan perompak bengis itu berkat kesiagaan kapten dan kerja sama seluruh awak kapal yang solid.
***
Tiga tahun telah berlalu pasca kejadian perompak laut itu. Kuntjoro pun telah naik tingkat dari yang awalnya seorang kelasi tingkat terendah menjadi kelasi tingkat dua. Gajinya pun ikut meningkat. Akan tetapi, Kuntjoro merasa bahwa dia ingin berhenti bekerja di kapal. Ia berniat untuk berdagang dan berwirausaha dengan uang yang telah ditabung selama beberapa tahun bekerja di kapal pesiar mewah itu. Lagipula, ada rindu yang kini timbul di hatinya. Rindu akan kampung halamannya yang jauh di seberang sana. Nan rindu pada gadis manis yang kini entah bagaimana kabarnya.

Kuntjoro pun memutuskan bahwa perjalanan ini adalah perjalanan terakhirnya. Pada pemberhentian berikutnya, tepatnya di pelabuhan Tanjoeng Harapan, dia ingin memulai kehidupan baru.

Kuntjoro mengemasi barang-barangnya sebelum pergi meninggalkan kapal. Namun, tiba-tiba fokusnya teralihkan pada sepucuk surat yang tergeletak di laci mejanya. Meski sudah bertahun-tahun berlalu, surat itu masih terbungkus rapi karena Kuntjoro tidak memiliki keberanian untuk membaca isi dari surat itu. Sepintas, dia jadi teringat masa-masa itu.

Perihal cintanya kepada Kinasih?

Kuntjoro masih belum tahu pasti.

Sejatinya, memang ada yang dirindukannya pada sosok Kinasih yang ayu nan manis senyumannya, tetapi gadis itu telah menjadi milik lelaki lain. Barangkali, mereka juga sudah memiliki buah hati. Hal itulah yang membuat Kuntjoro ragu karena dia tidak ingin merusak kebahagian pun martabat keluarga Kinasih apabila ia menemui gadis itu. Lagipula, apa yang akan orang-orang sekitar katakan jika seorang jejaka menemui gadis yang sudah menikah.

Hah, memikirkan semua itu malah membuat pikiran Kuntjoro kacau. Ia masih tidak tahu, bagaimana nasib akan menuntunnya.
****
Kapal pesiar yang dinaiki Kuntjoro merapat ke sisi dermaga. Para penumpang yang hendak naik dan turun bergantian silih berganti. Suasana dermaga Tanjoeng Harapan begitu ramai. Banyak yang lalu lalang, terutama para buruh yang menaikkan box-box kayu berukuran cukup besar.

Kuntjoro turun dari kapal setelah berpamitan dengan para rekan kerja sekaligus kapten kapal. Ia membawa tas gendong yang agak besar dan berisi pakaian serta sedikit cindera mata yang didapatnya dari beberapa negeri yang pernah dikunjunginya.

Tanjoeng Harapan memang selalu punya kenangan yang tak terlupakan bagi Kuntjoro. Kenangannya bersama Kinasih tempo dulu perlahan hadir dan kembali terngiang di ingatan. Mereka dulu sering bermain ke pelabuhan ini dan menghabiskan waktu bersama. Kuntjoro kembali mengenang kisah asmaranya bersama Kinasih sembari menyusuri dermaga, lalu menuju ke arah pantai.

Tanpa, kedua mata Kuntjoro tertuju pada seorang perempuan berdiri di dekat sebuah pohon nyiur sambil memandang ke arah lautan. Rambut perempuan itu tergerai dan melambai-lambai tertiup angin. Dengan pakaian khas kaum berada dan ditambah pula sebuah selendang adat yang terlilit di pinggangnya, perempuan itu terlihat tidak asing lagi di mata Kuntjoro.

Dadanya begitu deg-degan. Dia menjadi ragu dengan dirinya sendiri. Apalagi dia baru saja mendengar kasak-kusuk masyarakat di sekitar pelabuhan bahwa ada seorang janda kembang yang setiap seminggu sekali berdiri di bibir pantai dan memandang lautan. Meski simpang siur, katanya perempuan itu adalah perempuan yang kehilangan harapan karena suaminya meninggal karena sebuah tragedi di lautan.

Kuntjoro mencoba menguatkan tenaga dan mendekati sosok perempuan itu. Langkahnya pun terhenti dalam jarak beberapa meter saja. Kedua mata mereka bertemu dan waktu pun menjadi beku. Rindu yang selama ini tertahan kini telah terungkapkan.

“Kamu, apa kabar?” kata Kuntjoro setengah terbata-bata.
“Aku baik-baik saja, Mas,” jawab Kinasih lembut dengan mata yang berkaca-kaca. Tak lama kemudian, tangis perempuan itu pecah dan dia pun memeluk Kuntjoro untuk melepaskan segala kerinduan serta lara yang selama ini dipendamnya.
“Sudah sangat lama aku tidak mendapatkan suratmu, Mas. Aku pikir kau telah melupakanku,”
“Aku kira, kau yang telah melupakanku. Mendengar kabar perkawinanmu dengan lelaki pilihan bapakmu sudah cukup untuk menghancurkan keyakinanku, Dik,”
“Apa kau tidak membaca suratku, Mas?
“Untuk apa aku membaca suratmu jika tulisanmu itu malah membuat hatiku hancur, Dik?”

Kinasih perlahan melepaskan pelukannya lalu bercerita tentang pernikahan itu. Memang, meskipun dia menikah dengan lelaki lain, cinta Kinasih tetap untuk Kuntjoro. Dia menyampaikan segalanya melalui surat itu, tentang kesetiaan yang tetap dipegangnya teguh.

Mendengar pengakuan Kinasih, awalnya Kuntjoro tidak percaya. Kemudian, ia pun mengambil sepucuk surat yang masih terbungkus rapi itu untuk membuktikan kata-kata Kinasih. Dia menyobek amplop surat itu perlahan dan membacanya dengan khidmat. Lembaran surat itu terlihat agak lusuh dengan tinta hitam yang agak memudar.

Sejenak, Kuntjoro tahu bahwa Kinasih menulis surat itu dengan air mata. Air mata yang menjadi isyarat kesedihan bahwa dia tidak bisa menolak lamaran lelaki pilihan bapaknya, sekaligus isyarat bahwa dia tidak akan lagi bisa menemui Kuntjoro. Namun, apapun yang terjadi, Kinasih akan tetap mencintai Kuntjoro.

Seusai membaca surat itu, air mata Kuntjoro menetes membasahi pipinya.
“Lalu, dimana suamimu sekarang?”
“Dia sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Aku yakin, kamu sudah sendiri sudah tahu mengenai insiden perompakan kapal tempo lalu,”

Tiba-tiba, Kuntjoro jadi teringat koran yang sempat dibacanya pada saat isu perompakan itu muncul. Ternyata, suami Kinasih adalah salah satu awak kapal yang menjadi korban perampokan. Pasca kematian suaminya, Kinasih memutuskan untuk tidak menikah lagi dan memilih untuk menjalani kehidupan sebagai seorang janda. Ia pun sering berdiri di tepi pantai Tanjoeng Harapan dengan harapan bahwa suatu ketika Kuntjoro akan datang menemuinya. Atau paling tidak, ada kabar dari seseorang yang membawa sebuah berita tentang Kuntjoro.

Pada akhirnya, penantian itu berbuah manis, meskipun tahun demi tahun telah berlalu.  Dengan menggenggap segenap keyakinan, harapan, dan juga cinta, Kinasih berhasil melewati semua itu. Barangkali, keteguhan hati Kuntjoro juga yang membuat mereka berdua kini bisa bertemu dan bersatu kembali, meski dulu sempat tertunda karena takdir belum mengizinkan.

Mereka pun kembali berpelukan, lalu mengikrarkan janji sekali lagi sebagai sepasang kekasih.

Cerpen - Pria yang Menangisi Semangkuk Mie Instan


source: youthmanual.com

Suatu waktu, dia tiba-tiba menghampiri saya yang tengah asik duduk di warung Mas Jon sambil fokus menatap laptop saya. Sebut saja namanya Broto. Suasana warung itu masih sangat sepi dan saya hanya sendirian di sana. Tiba-tiba, dia berkata ke arah saya dengan nada yang menyentak.

“MAS!” teriaknya. Saya kaget dan setengah takut. Bagaimana tidak? Broto ini merupakan pria setengah baya, agak brewokan dengan topi kupluk dan juga jaket yang agak lusuh. Kesan pertama waktu melihat dia, pasti ada yang tidak beres pada orang itu, pikir saya.
“Iya, mas. Enten nopo?” jawab saya sopan dan agak basa-basi – setengah takut juga aslinya.
“Perempuan itu adalah makhluk yang membuat kerusakan di muka bumi ini. Bayangkan, Mas!” katanya menggelegar.

Dalam hati, saya hanya menyebut istighfar karena langsung shock dengan kalimat pembuka itu. Tidak banyak kata yang bisa saya ucapkan, malah saya cengar-cengir karena kebingungan. Tanpa ba-bi-bu, Broto malah melanjutkan orasinya. Dari tutur dan gaya bicaranya, ia terlihat seperti orang yang jenius. Tidak mungkin orang awam dapat mengucapkan kata-kata tingkat tinggi apalagi diiringi dengan sabda-sabda nabi tentang kaum hawa.

Broto terus bercerita tanpa henti hingga membuat saya kurang nyaman. Untungnya, istri mas Jon datang menghampiri saya dan memberi isyarat kepada saya dengan jari miring yang ditempelkan ke dahinya. Saya langsung mafhum dengan isyarat itu. Dalam hati saya berkata, woh wong edan rupane.

Tak lama kemudian, Broto pun mengakhiri orasi singkatnya yang lumayan ngalor ngidul. Dia pun beranjak dari tempatnya dan menawari saya untuk makan mie instan,

“Ayo, mas. Saya yang bayar deh!” ajaknya kepada saya.
“Monggo, Mas. Saya belum lapar,” jawab saya halus.
Dia pun akhirnya pergi. Perasaan saya langsung lega.

Selang beberapa waktu, istri Mas Jon tadi menghampiri saya dan memperingati saya secara halus.
“Mas, lain kali kalau dia ngajak ngobrol dengan sampeyan nggak usah ditanggepin. Dia kurang beres orangnya,”

Saya hanya tersenyum mengiyakan sambil mengangguk. Tanpa perlu penjelasan lebih lanjut pun saya sudah paham kalau ada yang tidak beres dengan Broto.

Meskipun hanya singkat, pagi itu terasa begitu berkenan bagi saya. Kata-kata Broto tentang perempuan yang suka berbuat kerusakan itu cukup membekas di ingatan saya. Ya, ada benarnya kata-kata itu, meski di satu sisi terkesan ngawur.
*****
Di lain waktu – tepatnya di suatu malam, saya masih suka nimbrung di warung Mas Jon. Saya waktu itu tengah memesan secangkir kopi dan tetap sibuk dengan laptop saya. Tiba-tiba, Broto datang lagi dan langsung duduk di hadapan saya.

“Malem, Mas!” ujarnya cengar-cengir seperti biasa. Saya pun menyahut sapaan itu dengan ala kadarnya.

Kemudian, ia menaruh sebungkus plastik ke atas meja dan menawarkannya ke saya.
“Gorengan, Mas!”
Dengan sopan, saya menolak tawaran itu. Jujur saja, saya takut kalau nanti kenapa-kenapa. Maklum, saya belum terlalu kenal dengan sosok Broto ini.

“Oh iya, Mas. Saya boleh minta bantuan?” tanyanya. Sontak, saya deg-degan. Mau nolak sungkan, tapi kalau saya terima ya agak gimana gitu. Alhasil, saya bersedia memberikan bantuan meskipun dalam hati saya agak keberatan.
“Bantuan apa ya, Mas?”
“Tolong ketikkan foto Joshua di Google,”

Saya pun langsung mengetikkan Joshua di mesin search engine. Lagipula, saya takut Broto ngamuk kalau saya tidak gercep.
“Dia dulu penyanyi cilik yang terkenal ya, Mas. Haha… hehe,” sahutnya sambil terkekeh-kekeh tidak jelas. Perasaan saya langsung nggak enak dan pengen segera cabut dari warung Mas Jon. Saya pun segera memainkan sandiwara bahwa laptop saya sinyalnya buruk dan agak error.

Saya kurang terlalu yakin, apakah tipuan sederhana itu dapat mengecoh Broto atau tidak. Namun, Broto spontan beranjak dari tempat duduknya.
“Lho, sampean mau kemana, Mas?” tanya saya yang penasaran.
“Saya ada urusan, Mas. Monggo sampen teruskan aktivitas sampean!” jawabnya singkat sambil mengemasi barangnya. Sebelum pergi, Broto menghampiri Mas Jon sebentar. Sepertinya, dia mau bayar utang.

Setelah ia sempurna menghilang dari warung itu, saya mengajak bicara Mas Jon untuk menghilangkan rasa penasaran saya.

“Mas, dia itu sering datang ke warung sampean ya?”
“Iyo, Mas. Kadang ya dia tidur di sini kalau malem. Besoknya dia pulang ke desanya jalan kaki,”
“Oh gitu, Mas.”
“Iya, Mas. Orang itu lulusan S2 lho, Mas. Bukan main,” kata Mas Jon mantap. Langsung, hati saya tersentak ketika mendengar orang yang saya anggap edan itu pernah sekolah tinggi.
“Lah, tapi kok gitu, Mas?” tanya saya lagi.
“Wah, aku ya gak terlalu paham. Denger-denger, dia ini stress karena istrinya selingkuh dengan orang dan anaknya juga dibawa sama istrinya. Tapi anu lho, Mas, meskipun dia kayak gitu, tapi dia gak pernah ngamuk ke orang-orang. Coba sampean ajak diskusi kenegaraan, ya dia pasti ngerti, Mas.”

Saya diam sejenak dan masih menyimak kata-kata Mas Jon.
“Aku kadang juga kasihan sama dia, Mas. Kalau dia pesen mie di warung saya, dia pasti nangis, Mas.”
“Lho, kenapa kok nangis, Mas?”
“Dia kangen anak istrinya, Mas. Kangen makan bersama,”

Entah mengapa, saya merasa tersentuh dengan kisah hidup Broto. Awalnya memang saya agak risih, tetapi setelah mendengar cerita menyedihkan itu, saya sedikit merubah pandangan saya tentang sosok Broto.

Setelah malam itu, saya tidak pernah lagi bertemu dengan Broto. Saya juga tidak tahu lagi bagaimana kabarnya. Yang jelas, saya tahu bahwa pria yang menangisi semangkuk mie instan itu adalah pria yang setia dan sangat menyayangi istri dan anaknya.

11 Foto Makanan yang Gagal dan Bikin Ngakak

Memasak merupakan salah satu hobi yang menarik bagi sebagian kalangan, khususnya kaum hawa. Kadangkala, ketika kita memasak kita ingin mencoba resep-resep baru yang sekiranya asik untuk dicoba. 

Kita juga kadang membuat eksperimen guna menciptakan makanan yang disamping enak juga memiliki nilai estetika yang tinggi. Sayangnya, tidak semua eksperimen memasak akan berhasil, khususnya bagi kita yang masih amatir. Adakalanya eksperimen itu gagal dan hasilnya jauh dari ekspektasi. Nah, foto-foto berikut ini merupakan bukti dari kegagalan eksperimen tersebut, 

1. Senyuman kue ini terlihat memudar

2. Si cantik dan si buruk rupa

3. Kok bentuknya jadi absurd gini ya?

4. Anggap saja mirip bebek kecil

5. Jadi gendutan ya

6. yang penting tetap warna-warni

7. Guritanya jadi menakutkan nih

8. Beda bentuk aja, dari bulat menjadi kota

9.  Spongebobnya jadi nggak lucu nih hehe

10. Sepertinya cokelatnya manis nih

11. Kebanyakan pengembang kue nih hehe

Gimana gaes, yang mana nih yang paling lucu? Ketik di kolom komentar ya!
sumber gambar: kopi17an.com