Analogi Remaja dan Manusia Purba

www.youtube.com

Kali ini gue pengen membahas tentang kehidupan seorang remaja. Remaja, masa-masa dimana seseorang menghadapi banyak problematika kehidupan. Masalah hati, cinta, masa depan, cita-cita, semua bercampur jadi satu. Fase ini kadang juga sangat menentukan kelanjutan fase-fase berikutnya, ketika seseorang difase ini memanfaatkannya hanya dengan senang-senang tanpa pikir panjang, mungkin dihari tuanya dia akan menyesal. Berbeda dengan orang yang berhati-hati dan berfikir terencana untuk masa depan.

Manusia purba adalah sekelompok manusia yang hidup beribu-ribu tahun yang lalu. Yang belum mengenal peradaban, yang masih tergantung pada alam, dan juga berpindah-pindah menyesuaikan kondisi dan kebutuhan. Mereka hidup dengan berburu binatang buas, hanya menggunakan alat-alat seadanya sejalan dengan pola pikir mereka. Hingga seiring berjalannya waktu, mereka mulai berkembang dan menemukan cara-cara yang lebih modern dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka, seperti bercocok tanam dan berternak atau bisa disebut Homo Sapiens (Manusia Pintar), bukan manusia purba lagi.

Lantas apa kaitannya dengan seorang remaja? Apakah fisiknya, tentu bukan hal itu yang pengen gue sampaikan disini. Nomaden atau sering berpindah-pindah adalah hal yang sering dilakukan oleh manusia purba dimasa lalu dalam masa berburu.       Hal itu mungkin mirip dengan kepribadian seorang remaja yang notabenenya mereka ingin membuat suatu perubahan atas dasar keinginan dari dalam atau faktor dari luar. Untuk membuat suatu perubahan nggak mungkin mereka hanya berdiam diri disatu tempat, mereka akan terus berpindah-pindah untuk suatu tujuan. Mungkin untuk mengenal lingkungan baru, mencari pengalaman baru, mencari teman baru.

Nomaden/tidak menetap punya arti yang sangat luas. Mungkin hati seorang remaja juga seperti itu, mereka cenderung belum bisa menetapkan hati untuk satu pilihan. Mereka punya beribu alasan untuk berpindah dari satu hati ke hati lainnya, yang mungkin hal itu akan menyakiti hati yang berharap padanya saat ini. Berpindah dari satu hati ke hati lain, nggak selamanya konotasi itu buruk. Dengan cara itu, seseorang akan belajar dari hati-hati yang mereka singgahi, mereka suatu saat akan belajar bagaimana menetapkan satu hati kepada pilihan yang tepat.

Memang itu bukanlah hal yang bisa dilakukan dalam waktu singkat. Sama halnya kayak manusia purba, dia butuh waktu yang cukup lama untuk mengembangkan peradabannya. Manusia purba yang dulu sering berpindah-pindah karena menyesuaikan alam, ketika mereka telah menemukan cara-cara baru yang sangat bermanfaat bagi kelangsungan hidup mereka seperti bercocok tanam dan berternak, mereka akan punya alasan untuk tinggal dan menetap disuatu tempat.

Maka dari itu, seorang remaja suatu saat nanti akan punya alasan untuk bisa menetap dihati seseorang, tentu dengan melewati berbagai macam tantangan dan keraguan.
Previous Post Next Post

Contact Form