Secangkir Kopi, Diskusi, dan Sebuah Puisi Chairil Anwar


Kemarin malam, tepatnya beberapa hari yang lalu, saya terlibat sebuah diskusi yang menarik dengan kawan saya di sebuah warung kopi dekat sawah. Kawan saya ini merupakan seorang penikmat sastra dan pembuat puisi yang cukup mahir – meskipun belum terkenal amat hehe.

Singkat cerita, malam itu dia tiba-tiba ikut nimbrung dan ngopi bersama saya dan kawan saya yang lain. Padahal, kami sangat jarang ngopi bersama. Paling-paling, ketemu di fakultas atau pas ada acara di UKM sambil rokokan bersama.

Sesaat setelah dia memesan secangkir kopi dan duduk berhadapan dengan saya, dia pun langsung menyinggung sebuah permasalahan yang cukup rumit bagi saya. Ya, perempuan yang saya suka baru saja jadian dengan orang lain – orang yang sangat saya kenal. Kawan saya ini turut bersimpati dan mencoba membuka obrolan dengan hati-hati tanpa bermaksud menyinggung perasaan saya. Padahal, keadaan saya sudah cukup baik-baik saja dan tak ada satupun sesal atau sakit yang masih menggerogoti hati.

Lalu, kawan saya ini pun mencoba menasihati saya dengan sepatah dua patah kata tentang cinta yang tak terbalaskan. Katanya, cinta itu tak harus memiliki. Ah, itu terdengar seperti bullshit. Anehnya saya juga percaya bullshit tersebut. Dia pun bercerita tentang seorang perempuan yang pernah dia suka. Namun, cintanya pun ikut bertepuk sebelah tangan karena perempuan yang dia suka jadian dengan temannya sendiri – orang yang sama dengan yang saya maksud sebelumnya.

“Ya sudahlah. Kalau dia nggak cinta sama kita, nggak perlu dipikirkan,” kurang lebih katanya seperti itu. Kalau saya perhatikan, kisahnya kurang lebih sama dengan saya. Kami berdua sama-sama berada di barisan para kaum kandas.

Lalu, dia menunjukkan saya salah satu puisi karya Chairil Anwar yang berjudul Aku Tak Sepadan. Berikut adalah puisi yang dimaksud kawan saya tersebut:

Aku Tak Sepadan
Aku kira
Beginilah jadinya
Kau kawin, beranak dan berbahagia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros
Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satupun juga pintu terbuka
Jadi baik juga kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak ‘kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka

Pertama kali saya membaca puisi tersebut, saya merasa tersentuh dan merenung sejenak. Memang, puisi tersebut merepresentasikan perasaan dan keadaan saya beberapa waktu yang lalu. Saya sedikit banyak agak mampu memahami makna yang ada dalam puisi tersebut.

Kawan saya tadi pun ikut bercerita sedikit mengenai makna puisi tersebut sesuai dengan interpretasi dia. Katanya, ketika cinta kita kandas dan tak terbalas, lebih baik kita memadamkan cinta yang seumpama api yang membara dalam hati kita. Dia memang tidak akan apa-apa, sementara kita? Jika kita bersikukuh mempertahankan api tersebut, maka kita sendirilah yang akan terbakar hingga menjadi abu dan tinggal rangka.
Saya mengangguk dan mencoba mengikhlaskan kembali atas apa yang sudah terjadi. Saya sendiri sejatinya sudah tidak lagi memikirkan dia. Sudah lama saya menghapus perasaan saya terhadap dia semenjak saya tahu bahwa dia tidak mungkin memilih saya. Cukuplah saya bodoh di masa lalu. Saya tidak ingin berjuang untuk seseorang yang memang tidak pantas untuk diperjuangkan. Saya yang waktu itu salah dan melarutkan perasaan, padahal dari awal saya tidak pernah tertarik dengan dia. Ya, tapi itulah lucunya cinta. Tak bisa ditebak. Tak bisa dikira.

Obrolan kami pun masih berlanjut sampai tengah malam. Berdiskusi ringan mengenai puisi serta sastrawan-sastrawan terkenal dengan karya yang luar biasa. Perbincangan itu sedikit menambah wawasan saya mengenai dunia sastra.

Terlepas dari itu semua, perbincangan malam itu memberikan makna baru bagi saya.


Sarijan Coffe, Malang, 23/04/2019


EmoticonEmoticon