Ketika Mencintaimu Adalah Doa

source: rumahzakat.org

Sunyi itu kembali datang di sudut kosong hatiku. Ini malam, dan aku masih merenung dalam lamunan semuku. Aku mencipta ilusi, mengharapkan kehadiranmu malam ini. Pengharapan-pengharapan itu cukup membuatku tersenyum getir. Karena aku tahu, sungguh sia-sia mencipta khayal di luar nalarku. Seperti kotak mimpi yang terkunci dalam bingkai takdir. Kau senantiasa bergerak ke tempat berbeda, sedangkan aku masih berdiri di tempat yang sama. Lalu, bagaimana mungkin kaki-kaki itu mampu beriringan selangkah dan seirama?
Kekasih, barangkali sudah puluhan sajak puisi yang  kurangkai untukmu. Kau perlu membaca sajak-sajak itu. Sajak-sajak yang tercipta dari rintihan hatiku yang selalu merindukanmu. Aku tak pernah memedulikan malam-malam menjemukan yang selalu mencercaku karena tak mampu mengungkapkan perasaanku kepadamu. Aku pun resah, ketika waktu mengusikku dengan perihal-perihal tentangmu yang memenuhi ingatanku. Pedih yang kian menusuk ulu hati.

Barangkali, aku hanyalah pengecut yang terlalu takut menghadapi kenyataan. Oleh sebab itu, perihalmu hanya mampu kucipta dalam khayalku. Segalanya tentangmu hanya kukeluhkan kepada Tuhan sang pemilik waktu. Kekasih, aku seringkali bercakap-cakap dengan Tuhan melalui sajak yang pernah kurangkai. Sajak-sajak itu adalah kumpulan doa tentangku dan tentangmu. Doa yang senantiasa kupanjatkan ketika malam-malam sepi menjemputku. Meskipun lirih, aku percaya doa itu akan didengar oleh Tuhan serta malaikat-malaikat-Nya yang bercahaya.

Karena aku tahu, ketika mencintaimu adalah doa, segalanya akan berujung indah. Dalam diamku, kau akan mengerti bahwa aku mencintaimu. Doa-doaku akan memenuhi langit dan kau akan menerima firasat dari alam pembawa pesan dari doa-doa itu. Kau akan tahu, hakikat dari rasa yang kusimpan untukmu selama ini. 


Baca juga: Mencintai Dalam Keputusasaan


EmoticonEmoticon